RADARSOLO.COM-Indonesia merupakan negara yang kaya akan beragam budaya dan kearifan lokal. Keberagaman ini seharusnya menjadi landasan untuk membangun kerukunan dan toleransi antarwarga.
Namun, realitasnya masih terjadi benturan antara warga masyarakat akibat lemahnya karakter. Lemahnya karakter menyebabkan berbagai permasalahan sosial seperti yang diungkapkan Suardi dkk. (2018).
Karakter dan budaya bangsa sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa. Pendidikan karakter, menurut Rahman (2016), adalah sarana utama untuk membangun bangsa yang kuat.
Pancasila, sebagai pedoman berbangsa, sarat akan pendidikan karakter. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mencakup ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan.
Nilai-nilai tersebut sangat diperlukan untuk mengembangkan karakter dan toleransi melalui pencanangan Desa Pancasila. Pengamalan nilai-nilai Pancasila dapat berdampak pada peningkatan ketahanan nasional.
Dari perjalanan bangsa Indonesia, ketahanan nasional mengalami pasang surut. Salah satu faktor penyebabnya adalah arus globalisasi yang membawa dampak positif dan negatif.
Pencanangan Desa Pancasila bertujuan untuk memantapkan ideologi Pancasila di tengah arus globalisasi. Desa Pancasila diharapkan mampu meningkatkan pengamalan Pancasila secara nyata di masyarakat.
Desa Ngemplak di Kalikotes, Klaten, dipilih sebagai Desa Pancasila percontohan tingkat nasional. Kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan Universitas Widya Dharma bertujuan mengembalikan karakter masyarakat yang mulai luntur.
Kegiatan pencanangan Desa Pancasila di Ngemplak diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat. Pengamalan Pancasila melalui berbagai program yang melibatkan warga dapat mempererat kerukunan.
Metode
Pelaksanaan program ini terdiri dari beberapa tahapan. Tahap pertama adalah perencanaan desain dan sosialisasi yang melibatkan perangkat desa dan tokoh masyarakat.
Tahap kedua adalah persiapan pengabdian masyarakat yang mencakup perencanaan kegiatan dan perekrutan sukarelawan. Tahap ketiga adalah implementasi kegiatan pengabdian yang melibatkan pelatihan, diskusi kelompok terarah (FGD), dan penerapan teknologi.
Metode yang digunakan adalah analisis interaktif (Miles, Huberman, Saldana, 2014). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil dan Pembahasan
Program Desa Pancasila di Ngemplak terbukti efektif meningkatkan karakter dan toleransi masyarakat. Sebelum program dilaksanakan, rata-rata skor karakter masyarakat adalah 70%.
Setelah program berjalan, skor karakter meningkat menjadi 88%. Dari segi toleransi, rata-rata skor awal adalah 75%, dan meningkat menjadi 92% setelah pencanangan Desa Pancasila.
Masyarakat Desa Ngemplak kini lebih menghargai perbedaan. Toleransi yang sebelumnya mulai luntur kini berkembang pesat, didukung oleh berbagai kegiatan seperti senam bersama, lomba, dan bazar UMKM.
Pemberian nama-nama jalan seperti Jalan Demokrasi dan Jalan Persatuan juga menjadi simbol pengamalan Pancasila. Hal ini memberi kesadaran baru bagi masyarakat akan pentingnya pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Kesimpulan
Globalisasi membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Salah satu dampak negatifnya adalah melemahnya karakter dan toleransi masyarakat.
Pencanangan Desa Pancasila terbukti efektif dalam menumbuhkan karakter dan toleransi. Desa Ngemplak di Kalikotes, Klaten, sebagai percontohan Desa Pancasila, menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Dengan hasil ini, disarankan agar pencanangan Desa Pancasila dapat diterapkan di desa-desa lain di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk memperkuat karakter dan toleransi masyarakat dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Tim penulis: Warsito, Wisnu Nugroho Aji, Septiana Wijayanti, Anggita Jeany Pembayun, Jamarthon Affan Lavonta (Universitas Widya Dharma Klaten).
Nuraini, Dhiva Maulida Rizqi (Universitas Sebelas Maret Surakarta). (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono