Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

ISI Surakarta Kembangkan Inovasi Getaran Budmergo, Bantu Teman Tuli Rasakan Indahnya Seni

Fauziah Akmal • Sabtu, 9 November 2024 | 16:11 WIB
Ekspresi siswa SLBN Karanganyar ketika menari dengan bantuan Budmergo kreasi PDIS FSP ISI Surakarta, Jumat (8/11).
Ekspresi siswa SLBN Karanganyar ketika menari dengan bantuan Budmergo kreasi PDIS FSP ISI Surakarta, Jumat (8/11).

RADARSOLO.COM - Tim Program Diseminasi Inovasi Seni (PDIS), Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar pelatihan penggunaan Budmergo. Berupa alat bantu getaran inovatif untuk teman tuli, agar bisa merasakan musik melalui getaran. Pelatihan menyasar Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Karanganyar, bersama Komunitas Anak Seni Berbakat, Jumat (8/11).

Ketua tim PDIS FSP ISI Surakarta Bondet Wrahatnala menjelaskan, timnya terdiri dari dua dosen peneliti. Yakni Jonet Sri Kuncoro dan Bondan Aji Manggala. Dibantu tiga Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Agus Budiyanto, Muhamad Nurhadi, dan Dana Adi Arya Pradipta yang berperan sebagai perancang Budmergo.

Pelatihan ini juga melibatkan 16 mahasiswa FSP ISI Surakarta. Termasuk 10 mahasiswa dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), plus enam mahasiswa reguler. Budmergo diciptakan untuk membuka akses seni bagi anak-anak tuli, agar mereka bisa merasakan iramanya.

“Alat ini berbeda dari teknologi lainnya, yang hanya mengubah suara menjadi visual. Budmergo menciptakan pengalaman langsung dengan mengubah sinyal audio menjadi getaran. Sehingga penggunanya dapat merasakan musik seolah menyentuhnya,” ungkap Bondet.

amplifier untuk menangkap sinyal audio.
amplifier untuk menangkap sinyal audio.

Riset Budmergo dilakukan sejak 2018 dan telah mengalami banyak penyempurnaan. Awalnya, perangkat ini terhubung dengan kabel. Kini, telah dilengkapi teknologi wireless untuk kenyamanan pengguna.

Budmergo menggunakan amplifier untuk menangkap sinyal audio. Kemudian diubah menjadi getaran melalui mikro dinamo, yang terpasang pada modul getar di jari. Getaran ini menghasilkan pola irama yang dirasakan langsung oleh pengguna.

Selama proses pengembangan, FSP ISI Surakarta menggandeng SLBN Karanganyar dan Yayasan Anugerah. Tidak sekadar mendemonstrasikan alat ini, tetapi juga memberikan pelatihan kepada para guru SLB untuk mengoperasikannya dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).

“Kami ingin Budmergo menjadi media ekspresi seni yang inklusif. Sehingga anak-anak difabel bisa merasakan musik dan seni seperti teman-teman lainnya,” imbuh Bondet.

Selama pelatihan, siswa SLBN Karanganyar mencoba Budmergo untuk menari dengan iringan musik EDM. Mereka merasakan getaran dari irama musik yang terpola. Kemudian Ekspresi tari yang mereka tampilkan, disesuaikan dengan pola getaran tersebut.

Ke depan, Budmergo akan berbentuk sarung tangan dengan modul getar. Sehingga bisa ditempel di ikat pinggang penggunanya.

"Pak Jonet dan tim, bersama para mahasiswa berencana membuat koreografi tari berdasarkan pola getaran musik elektronik yang disusun Pak Bondan. Nantinya, pola getaran ini akan diikuti gerakan tari yang lebih ekspresif. Jadi tidak seperti tari panggung formal, melainkan dance yang disusun secara dinamis sesuai ekspresi,” urai Bondet.

Budmergo saat ini belum dipasarkan. Namun ISI Surakarta berencana menghibahkan perangkat ini kepada para mitra. Salah satunya SLBN Karanganyar. Sedangkan terkait hak paten, akan diajukan akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Perancang Budmergo Agus Budiyanto menambahkan, tantangan teknis dalam pengembangan alat ini adalah komponen yang digunkaan ukurannya mikro.

“Kecil-kecil, jadi perlu ketelitian tinggi saat menyolder,” paparnya.

Inspirasi pembuatan alat ini berasal dari teknologi getar pada handphone (HP). Lalu dimodifikasi agar bisa mengonversi audio menjadi getaran ritmis.

“Setelah diisi daya, alat ini mampu bertahan 2-3 jam nonstop. Cukup untuk digunakan dalam sesi latihan atau pertunjukan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala SLBN Karanganyar Farida Yuliati mengapresiasi kolaborasi dan inovasi dari ISI Surakarta tersebut.

“Terima kasih sudah membimbing kami dengan alat yang luar biasa ini. Semoga ke depan inovasi-inovasi lainnya terus berkembang untuk anak-anak kami. Tidak hanya di bidang tari, musik, dan olahraga. ISI is the best sebagai kampus inklusi,” puji Farida. (zia/fer)

 

 

 

Editor : Niko auglandy
#SLB #isi surakarta #inovasi