Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Fakultas Seni Pertunjukan ISI Solo Gelar Misi Budaya di Singapura: Antusiasme Publik Ruaarrr Biasa

Fauziah Akmal • Kamis, 14 November 2024 | 02:44 WIB
Pergelaran sendra tari The Missing Sinta, karya kolaborasi antara mahasiswa dan dosen Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Isi Solo dalam misi budaya di Singapura, 2-6 November.
Pergelaran sendra tari The Missing Sinta, karya kolaborasi antara mahasiswa dan dosen Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Isi Solo dalam misi budaya di Singapura, 2-6 November.

RADARSOLO.COM – Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menggelar misi budaya ke Singapura, 2-6 November.

Di Negeri Singa, mereka mengenalkan seni tradisional Indonesia melalui berbagai pertunjukan dan workshop. Sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional.

Program misi budaya ini melibatkan enam dosen dan delapan mahasiswa lintas program studi (prodi). Mulai dari prodi teater, karawitan, pedalangan, tari, etnomusikologi, dan tata kelola seni.

Rombongan dipimpin Dekan FSP Tatik Harpawati, didampingi sejumlah dosen. Tak ketinggalan Wakil Dekan III Bondet Wrahatnala, Ketua Prodi Tata Kelola Seni Fawarti Gendra Nata Utami, serta dosen dari berbagai program studi. Seperti Halintar Cakra Padnobo (pedalangan), Mutiara Dewi Fatimah (etnomusikologi), dan Rambat Yulianingsih yang berperan sebagai praktisi mengajar di jurusan tari.

Tatik menjelaskan, misi budaya ini sejalan dengan target Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selain mempromosikan seni budaya dan tradisi, juga untuk menjalin kerja sama tingkat internasional.

“Karya dosen juga diterapkan oleh mitra tingkat internasional. Sebagaimana ditargetkan Kemendikbudristek, yang tertuang dalam perjanjian kinerja rektor dengan menteri,” ungkap Tatik.

Tour manager misi budaya ini Fawarti Gendra Nata Utami menambahkan, berbagai kegiatan digelar di Singapura. Termasuk pertunjukan seni, workshop tari, gamelan, serta pedalangan di dua lokasi berbeda.

“Kami berkesempatan audiensi dengan Kedutaan Besar (Kedubes) RI di Singapura. Kami juga mengunjungi World Drum Night Festival,” jelasnya.

Salah satu agenda utama dalam misi budaya ini, yakni menggelar workshop di The Republic Cultural Centre (TRCC). Sebuah gedung pertunjukan berkapasitas 300 dan 1.000 kursi. Gedung ini dikelola Republic Polytechnic (RP) Singapore.

Tim FSP memberikan workshop tari di TRCC Republic Polytechnic Singapore.
Tim FSP memberikan workshop tari di TRCC Republic Polytechnic Singapore.

Workshop dihadiri mahasiswa RP Singapore dan masyarakat di sana. Selama pertunjukan, antusiasme publik Singapura cukup tinggi. Terutama saat mempelajari gamelan dan tari tradisional Indonesia.

“Kami juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa, dengan mengunjungi Gedung Durian Terbelah. Salah satu ikon paling penting di Singapura. Sebuah gedung pertunjukan Esplanade. Jadi, tidak banyak seniman indonesia yang bisa tampil di main hall Esplanade,” papar Fawarti.

Paling berkesan yang dirasakan mahasiswa dan dosen FSP, yakni ketika menampilkan karya The Missing Sinta. Sebuah adaptasi segar dari epos Ramayana. Pertunjukan ini berhasil memukau lebih dari 300 penonton di TRCC.

“Penonton terlihat sangat terkesan dengan pementasan kami, yang menghadirkan konsep baru dari cerita klasik Ramayana,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini, FSP ISI Solo juga menggelar audiensi dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes RI di Singapura. Pembahasan terkait peluang kerja sama pendidikan dan budaya di masa mendatang. Termasuk potensi kolaborasi, berupa program magang bagi mahasiswa dan dosen FSP.

“Kami juga membahas berbagai kendala yang sering dihadapi. Misalnya dalam pelaksanaan program magang,” bebernya.

Tak hanya itu, tim FSP juga mengajar kelas tari di Sri Warisan Som Said. Sebuah sanggar kenamaan di kawasan Geylang, Singapura.

Sementara itu, mahasiswa mendapat wawasan baru berupa penggunaan data untuk memahami tren dan perilaku audiens. Sekaligus menambah keterampilan dalam pemasaran digital seni pertunjukan. (zia/fer)

Editor : fery ardi susanto
#ISI Solo #Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta #isi surakarta #misi budaya isi surakarta di singapura