RADARSOLO.COM – Tim Program Ormawa Membangun Negeri (POMN) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) sukses menggelar ”Mahakarya Griya Srikandi-Persembahan Batik Toya Wening” di Desa Wisata Sumberbulu, Desa Pendem, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar pada Senin (18/11/2024).
Kegiatan ini didukung Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Acara dimulai pelaporan hasil program kepada masyarakat Desa Pendem dalam upaya menjadikan desa ini sebagai pusat batik ramah lingkungan.
Tak hanya itu, sebelumnya Tim POMN BEM SV UNS telah mengadakan pelatihan Green Marketing pada Kamis (17/10/2024). Sehingga masyarakat Desa Wisata Sumberbulu sukses memadukan budaya dan keberlanjutan lingkungan dengan menghasilkan batik ramah lingkungan.
Sebagai bagian dari inisiasi program ramah lingkungan, peserta pelatihan belajar untuk memanfaatkan kardus bekas sebagai bahan dasar pembuatan cap batik menggantikan penggunaan cap logam yang lebih mahal dan berdampak besar terhadap lingkungan.
Pemanfaatan limbah kardus bekas ini untuk mengurangi sampah dan mengoptimalkan penggunaan bahan yang sudah ada. Penggunaan pewarna alami yang diambil dari sumber daya alam berupa kulit kayu tingi juga digunakan sebagai solusi untuk mengurangi pencemaran air akibat pewarna sintetis.
Penggunaan pewarna alami pada batik Toya Wening ini tidak hanya lebih ramah lingkungan tetapi juga lebih aman untuk kulit, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif.
Kepala Desa Pendem Mardiyanto menyampaikan rasa bangganya atas keberhasilan program ini. Harapannya dampaknya bisa dirasakan secara berkelanjutan.
”Membuat batik itu sebuah proses yang membanggakan, tetapi tantangan berikutnya adalah bagaimana kita bisa memeliharanya dan memasarkan dengan baik. Program ini sangatlah penting jika terus dikembangkan, jangan sampai program berhenti di tengah jalan,” ujar Mardiyanto.
Dosen pembimbing Rysca Indreswari mengapresiasi perjalanan program selama empat bulan terakhir. Dia menekankan pentingnya menjaga isu lingkungan, selain memberdayakan perempuan, tetapi juga memanfaatkan batik sebagai sarana edukasi bagi anak-anak.
”Batik tidak hanya selembar kain, tetapi juga warisan budaya, nenek moyang, dan sarana edukasi isu lingkungan bagi anak muda,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Desa Pendem Sunarso memberikan dorongan untuk terus mengembangkan potensi ekonomi melalui program ini.
”Terima kasih kepada dosen pembimbing, warga, dan tim POMN. Program ini harus terus dikembangkan agar ekonomi masyarakat dapat tumbuh lebih baik,” ujar Narso.
Batik ramah lingkungan Desa Pendem tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga mengusung pesan penting tentang keberlanjutan lingkungan. (adi)
Editor : Adi Pras