RADARSOLO.COM– Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta terus memacu kualitas untuk menjadi rujukan riset artistik.
Sepanjang 2024, FSP ISI Surakarta mencatat berbagai capaian yang mendongkrak reputasi institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dekan FSP ISI Surakarta Tatik Harpawati mengatakan, FSP memiliki tujuh program studi (Prodi), yakni Etnomusikologi, Teater, Tari, Seni Karawitan, dan Seni Pedalangan.
Termasuk dua prodi baru, yakni Koreografi Inkuiri dan Tata Kelola Seni.
“Misi kami melestarikan, menginovasi, dan mengembangkan seni tradisi. Dengan banyak prodi, seni tradisi lebih terakomodasi untuk dilestarikan, diinovasikan, dan dikembangkan,” jelas Tatik ditemui di ruangannya belum lama ini.
FSP menerapkan kurikulum berbasis capaian pembelajaran atau outcome-based education (OBE) yang mendorong mahasiswa mencapai prestasi.
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengonversi prestasi mereka menjadi tugas akhir.
“Prestasi tingkat provinsi, nasional, dan internasional dari mahasiswa kami konversi ke dalam tugas akhir," jelasnya.
"Syaratnya, mereka harus menulis artikel yang terbit di jurnal Sinta 1-6. Jadi, mahasiswa bisa lulus tanpa skripsi atau tugas akhir seni pertunjukan. Ini memacu mahasiswa untuk berprestasi di bidang minat masing-masing,” imbuh Tatik.
Program MBKM meliputi asistensi mengajar, magang, KKN, proyek independen, dan riset mahasiswa.
MBKM Riset menjadi unggulan karena sesuai dengan Permendikbudristek yang membolehkan kelulusan melalui artikel ilmiah.
Tahun ini, MBKM riset di Toba, Tulang Bawang Barat Lampung, Kampung Adat Banceuy Subang, dan Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi.
“Mahasiswa kami mengangkat karya seni kearifan lokal menjadi sebuah karya seni khas daerah tersebut. Dari program riset itu, kami konversikan sebagai tugas akhir melalui artikel ilmiah,” imbuhnya.
Baca Juga: Adaptasi Era Digital, Mahasiswa FSP ISI Surakarta Asah Skill Jurnalistik dan Kehumasan
Sudah ada lima mahasiswa lulus melalui program ini pada semester genap dan 14 mahasiswa pada semester gasal.
FSP juga aktif menjalin kerja sama, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya dengan Shanghai Conservatory of Music China, Seoul National University Korea Selatan, Republic Polytechnic Singapura, dan Universitas di Napoli Italia.
“Banyak dosen kami yang mengajar di universitas luar negeri dan menjadi pembicara workshop internasional. Kami mempromosikan seni Nusantara melalui program kolaborasi internasional. Seni tradisi ISI Surakarta harus mendunia,” tegasnya.
Sementara itu, pada tahun ini tiga dosen FSP mendapatkan gelar profesor. Dua di antaranya dari prodi Tari, yakni Pramutomo dan Maryono serta satu dosen Prodi Pedalangan yakni Sugeng Nugroho.
“Alhamdulillah, kami mendapat tiga profesor sekaligus. Ini anugerah besar bagi kami karena profesor adalah capaian akademik tertinggi dosen,” kata dia.
Tahun ini, FSP berhasil memperoleh Silver Winner Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi pada anugerah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
“Tantangan ini sangat berat, terutama dalam memenuhi data dan administrasi. Namun, di penghujung 2024, kami mendapat anugerah PDDikti Silver Winner Zona Integritas,” ujarnya.
Selain itu, FSP juga membidik akreditasi unggul untuk sejumlah prodi, termasuk Seni Pedalangan dan Tari, serta akreditasi internasional untuk Etnomusikologi dan Karawitan.
“Kami mempersiapkan kerja sama internasional, sarana prasarana, dan evaluasi lainnya untuk mencapai standar internasional,” imbuhnya.
Inklusi juga menjadi perhatian utama FSP. Banyak mahasiswa disabilitas yang sangat piawai berkesenian.
Fakultas ini menciptakan alat pengantar getar musik, Budmergo, untuk membantu penyandang disabilitas tunarungu menari.
"Kami mempertunjukkan seni karya kolaborasi dengan SLBN Karanganyar pada hari disabilitas internasional. Jadi anak-anak inklusi ini menyanyi dan menari," jelasnya.
FSP rutin menggelar event besar seperti Hari Tari Dunia, Hari Wayang Dunia, dan Hari Gamelan.
“Event-event ini merupakan kebanggaan kami karena dari sana riset untuk tari dan seni lainnya lahir,” tandasnya. (zia/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono