Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ini Dia Tanda-Tanda Orang Tua Protektif terhadap Anak, Khawatir Berlebihan hingga demi Keamanan

Damianus Bram • Minggu, 5 Januari 2025 | 19:05 WIB
Ilustrasi Parenting.
Ilustrasi Parenting.

RADARSOLO.COM - Menjadi orang tua adalah seni menyeimbangkan antara melindungi anak dan memberikan mereka kebebasan.

Namun, sering kali tanpa disadari, banyak orang tua justru menjadi terlalu protektif terhadap anak-anak mereka.

Overprotective parenting atau pola asuh yang terlalu protektif biasanya muncul karena kekhawatiran berlebihan dari orang tua.

Meskipun niatnya baik, tindakan ini dapat menghambat anak untuk berkembang, belajar mandiri, dan menghadapi tantangan kehidupan.

Dilansir dari laman Geediting, Selasa (17/12), berikut adalah tanda-tanda orang tua yang terlalu protektif:

Pertama, kekhawatiran berlebihan. Salah satu ciri utama orang tua terlalu protektif adalah tingkat kekhawatiran yang tinggi, bahkan untuk hal-hal kecil.

Mereka cemas terhadap segala hal yang berhubungan dengan anak, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pergaulan.

Kekhawatiran ini sering kali membuat orang tua terlalu terlibat dalam kehidupan anak, seperti memantau setiap tugas sekolah atau mencampuri urusan teman mereka.

Kedua, terlalu terlibat dalam kegiatan anak. Orang tua yang terlalu protektif sering ikut campur dalam kegiatan anak, seperti olahraga atau hobi mereka.

Alih-alih memberi anak kebebasan untuk mencoba dan membuat kesalahan, mereka justru mengambil alih, mengontrol, atau memberikan instruksi terus-menerus. Hal ini menghambat anak belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Ketiga, kurang percaya pada kemampuan anak. Orang tua protektif cenderung meremehkan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah atau menghadapi tantangan.

Akibatnya, mereka sering melakukan segalanya untuk anak atau ‘menyelamatkan’ mereka dari situasi sulit. Sikap ini bisa mengurangi rasa percaya diri anak dan membuat mereka merasa tidak mampu.

Keempat, menghindari risiko dalam kehidupan anak. Mengambil risiko adalah bagian penting dari pertumbuhan anak.

Namun, orang tua protektif sering mencegah anak mencoba hal baru karena takut anak gagal atau terluka.

Contohnya, melarang anak memanjat pohon atau mencoba olahraga baru. Padahal, pengalaman ini penting untuk melatih keberanian dan kemampuan anak menghadapi risiko.

Kelima, sering membuat keputusan untuk anak. Dari memilih pakaian hingga menentukan aktivitas, orang tua protektif cenderung membuat semua keputusan untuk anak.

Sikap ini dapat menghambat anak dalam mengembangkan kemampuan membuat pilihan dan belajar bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri.

Keenam, melindungi anak dari kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari proses belajar.

Namun, orang tua protektif sering kali berusaha melindungi anak dari kegagalan dengan memastikan mereka selalu berhasil.

Akibatnya, anak tidak belajar menghadapi kegagalan dan membangun ketahanan diri.

Ketujuh, fokus berlebihan pada keamanan anak. Keamanan memang penting, tetapi terlalu fokus pada hal ini dapat membuat anak takut mencoba hal-hal baru.

Orang tua protektif sering kali melarang anak bermain di luar atau mengikuti kegiatan yang menurut mereka berisiko, meskipun sebenarnya aman.

Kedelapan, sulit melepaskan anak. Orang tua yang protektif sering merasa sulit melepaskan anak untuk mandiri.

Mereka ingin terus berada di sisi anak, meskipun anak sudah mampu mengambil keputusan sendiri. Ini dapat menghambat anak belajar menghadapi dunia dengan mandiri. (*/JPG/bun/dam)

Editor : Damianus Bram
#overprotective #parenting #protektif #pola asuh