Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Resital Karawitan ISI Surakarta: Harmoni Emosional dan Spiritual

Fauziah Akmal • Kamis, 9 Januari 2025 | 20:23 WIB
Prodi Seni Karawitan ISI Surakarta kembali menggelar Resital Karawitan di Teater Kecil kampus setempat, Kamis-Jumat (9-10/1/2025).
Prodi Seni Karawitan ISI Surakarta kembali menggelar Resital Karawitan di Teater Kecil kampus setempat, Kamis-Jumat (9-10/1/2025).

RADARSOLO.COM-Program Studi (Prodi) Seni Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menggelar Resital Karawitan.

Kegiatan yang mengangkat tema "Rampak Rempeg" ini digelar di Teater Kecil kampus setempat selama dua hari, Kamis-Jumat (9-10/1/2025).

Terdapat delapan tim yang menyajikan resital karawitan pada hari pertama (9/11).

Mereka tampil di hadapan para dosen penguji bidang sinden, rebab, kendang, gender, dan penyajian secara keseluruhan. Serta disaksikan masyarakat umum.

Ketua panitia Bayu Pujo menjelaskan, istilah "Rampak Rempeg" berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan prinsip kerja sama, keselarasan, dan harmoni dalam karawitan.

"Kerja sama antarpemain, keselarasan suara instrumen, serta harmoni emosional dan spiritual antarpemain menciptakan karawitan yang utuh dan seimbang," jelasnya.

"Ini mencerminkan bahwa karawitan tercipta melalui kesatuan, dukungan, dan keserasian antarelemen yang terlibat," lanjutnya, Kamis (9/1/2025).

Dalam sambutannya, Ketua Prodi Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta Darno mengatakan, Resital Karawitan sebagai salah satu mata kuliah wajib mahasiswa Prodi Seni Karawitan.

"Mata kuliah ini menjadi tolok ukur bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan khusus dalam kompetensinya, terutama karawitan tradisi. Sehingga, mahasiswa yang lulus diharapkan bisa mengembangkan," kata dia.

Resital Karawitan membekali mahasiswa untuk menyajikan gending-gending tradisi gaya Solo dalam tingkat benar.

Mengingat, perkembangan karawitan di masyarakat yang pesat terkadang menghilangkan orientasi karawitan.

Baca Juga: BREAKING NEWS! Penutupan Pasar Hewan se-Wonogiri Diperpanjang

"Ada materi tambahan, yakni gending-gending penyerta, seperti gending gaya Narto Sabdan. Itu dipilih karena kami juga membekali mereka yang orientasinya pada masyarakat," imbuhnya.

Sebelum penyajian ini, para mahasiswa digembleng selama dua bulan dengan tahap pemantapan materi dengan dua pembimbing dan tahap penataran.

Resital Karawitan ISI Surakarta angkat tema "Rampak Rempeg", berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan prinsip kerja sama, keselarasan, dan harmoni dalam karawitan.
Resital Karawitan ISI Surakarta angkat tema "Rampak Rempeg", berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan prinsip kerja sama, keselarasan, dan harmoni dalam karawitan.

Para penyaji didominasi mahasiswa semester 5, sementara mahasiswa tingkat bawahnya mendukung mereka.

"Harapnnya terjalin kebersamaan. Mahasiswa semester 1-3 ini diwajibkan mendukung agar mereka memiliki bekal dan mendapat sertifikat. Sehingga ketika akan maju resital, mereka sudah punya bekal itu," bebernya. (zia/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#jawa #rampak rempeg #isi surakarta #resital karawitan #sinden