RADARSOLO.COM — Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Sahid Surakarta menyelenggarakan integrated practice di Saraswati Bar kampus setempat, Kamis (9/1/2025).
Kegiatan ini menjadi ajang mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi di bidang perhotelan dan pariwisata sebelum terjun ke dunia industri.
Ketua STP Sahid Surakarta Dr. Agus Solikhin mengatakan, kegiatan ini untuk membekali mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan industri.
“Kami ingin lulusan STP Sahid tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki skill dan keterampilan lain yang melengkapi. Dengan ini, mereka memiliki modal kuat untuk berkarya di bidang usaha,” paparnya.
Agus mengimbau para orang tua agar tidak khawatir jika anak mereka pulang larut. “Terkadang mereka harus menyelesaikan tugas dari mentor untuk mengasah keterampilan. Ini semua demi kepentingan masa depan mereka,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi D4 Kepariwisataan STP Sahid Surakarta Kris Cahyani menambahkan, kegiatan ini melibatkan mahasiswa lintas program studi untuk saling berbagi ilmu.
“Semester 5 yang sudah berpengalaman di industri diminta membimbing adik-adik tingkat mereka. Tentu saja semua tetap dalam pantauan dosen,” jelas Kris.
Selama empat hari, sebanyak 71 mahasiswa terlibat, terdiri dari 20 mahasiswa D4 Hotel, 31 mahasiswa D4 Kuliner, dan 20 mahasiswa D1.
Orang tua mahasiswa dan beberapa tamu undangan, termasuk perwakilan Dinas Pariwisata Kota Solo, Terry Sulistyaningrum, dan Founder & Director Epic Consultants, Danny Johannes, juga hadir untuk menyaksikan langsung proses pembelajaran.
“Kami sengaja mengundang orang tua agar mereka memahami praktek yang dijalani anak-anak mereka sebelum terjun ke lapangan,” paparnya.
Dalam integrated practice ini, mahasiswa melayani tamu dengan menggunakan bahasa Inggris. Mereka juga menjalani pelatihan intensif di berbagai bidang, seperti pengelolaan dapur (kitchen), pelayanan di restoran, penataan kamar (housekeeping), hingga proses check-in dan check-out.
“Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga mental. Dengan melayani tamu secara langsung, mahasiswa belajar menghadapi tantangan yang sebenarnya di industri,” imbuhnya.
Selain melatih fisik dan mental, mahasiswa juga diberi tanggung jawab penuh dalam persiapan, mulai dari perencanaan menu, pengadaan bahan, hingga pelaksanaan operasional.
"Dosen hanya memantau, sementara eksekusinya dilakukan sepenuhnya oleh mahasiswa,” terangnya.
Para orang tua yang hadir mengaku bangga menyaksikan anak-anak mereka memberikan pelayanan. Mereka bahkan melihat langsung kegiatan di dapur, tempat anak-anak mereka mempraktikkan ilmu yang sudah dipelajari.
“Saya sangat terharu melihat anak saya mampu melayani tamu dengan baik. Ternyata apa yang mereka pelajari benar-benar diterapkan,” ujar wali mahasiswa, Nabilla. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy