RADARSOLO.COM-Karya tari kontemporer bertajuk "Branch Out" ciptaan Titis Puji Setiani dipentaskan di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo belum lama ini.
Karya tersebut mengangkat pengalaman empiris seorang tunanetra dalam perjalanan hidupnya.
Mulai dari rasa keterasingan, perjuangan, hingga mencapai penerimaan dan pengakuan diri.
Proses penciptaan karya ini terinspirasi dari cara tunanetra memahami dunia melalui indra selain penglihatan, seperti pendengaran, sentuhan, dan intuisi.
Gerakan-gerakan tari dirancang berdasarkan pengalaman sensorik tersebut, menciptakan koreografi yang fokus pada ritme, pola gerak, dan sentuhan antarpenari.
Dalam proses kreatifnya, Titis juga melibatkan kolaborasi langsung dengan individu tunanetra untuk memastikan autentisitas dan sensitivitas terhadap pengalaman mereka.
"Saya ingin mengajak penonton merenungkan bahwa setiap individu, tanpa memandang keterbatasan, memiliki potensi yang setara untuk memberi makna dan berkontribusi dalam kehidupan," ujar Titis.
Karya ini dibawakan oleh lima penari perempuan dalam durasi 15 menit.
Gerakan yang ditampilkan memadukan teknik olah tubuh dan flooring dengan tempo yang bervariasi untuk menggambarkan emosi yang dialami seorang tunanetra.
Kostum yang dikenakan berupa pakaian berbahan kaos berwarna hitam dengan corak abu-abu, yang memiliki simbolisme mendalam.
"Kaos dipilih agar penari lebih leluasa bergerak. Warna hitam melambangkan kekosongan, keheningan, dan kegelapan yang sering diasosiasikan dengan kondisi tunanetra," jelas Titis.
"Sementara corak abu-abu merepresentasikan keberagaman pengalaman hidup tunanetra, yang tidak selalu gelap, tetapi juga penuh warna dari sudut pandang sensorik," imbuhnya.
Baca Juga: ISI Surakarta Ikut Dorong Pelestarian Batik dan Kebaya, Ini Langkah Nyatanya
Selain itu, properti berupa kain penutup mata digunakan sebagai elemen penguat visual, berdasarkan masukan dari dosen pembimbingnya.
Titis membutuhkan waktu 3 bulan untuk menciptakan "Branch Out".
Latihan perdana dimulai pada 1 Oktober 2024, dengan jadwal rutin setiap pekan.
Proses penciptaan karya ini juga melibatkan observasi ke Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk bersosialisasi dan memahami kehidupan anak-anak tunanetra.
Titis bahkan mengajak teman-teman tunanetra untuk berlatih bersama demi mendalami peran yang dibawakan.
"Saya juga berdiskusi secara intens dengan dosen pembimbing untuk menyempurnakan karya ini sebelum dipentaskan," tambah Titis.
Karya ini didukung oleh iringan musik live midi yang memberikan atmosfer emosional pada setiap gerakan tarinya.
Dengan "Branch Out," Titis berharap masyarakat semakin sadar akan potensi dan keindahan yang dimiliki setiap individu, tanpa memandang keterbatasan fisik. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono