RADARSOLO.COM-Ratusan siswa SMKN 2 Solo menggelar demonstrasi di halaman sekolah, Senin (3/2/2025).
Para siswa membawa spanduk bertuliskan “Guru Lalai Kami Terbengkalai,”.
“Kami Berhak SNBP,” “Pray for Stemsa,” serta “Jaga Nama Baik Sekolahmu??”.
Aksi ini juga diikuti para orang tua dan wali siswa yang turut menyampaikan kekecewaan mereka.
Protes tersebut dipicu oleh kegagalan pihak sekolah menyelesaikan finalisasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) untuk pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Nayla, salah satu wali murid, menilai pihak sekolah lalai dalam menyelesaikan pendaftaran PDSS.
“Ternyata pihak sekolah lalai. Bisa lupa, bisa dibilang dia (guru) tuh ya leha-leha gitu," jelasnya.
"Kan dari tanggal 6 sampai 31 Januari ya (proses registrasi), tapi enggak diregistrasi. Alasannya itu karena anak-anak enggak registrasi. Sebenarnya kalau itu enggak diregistrasi, kan kita mau daftar ya. Itu kan yang didaftarkan semua, tapi enggak didaftarin gitu loh,” beber Nayla.
Menurutnya, keterlambatan finalisasi ini membuat siswa kehilangan kesempatan ikut SNBP.
“Sebelumnya aku juga tahu kalau tanggal 24 (Januari)-kan karena dikerjainnya tanggal 30 (Januari. Oh jadi sampai batas waktu enggak selesai, dikasih waktu lagi, tapi tetap enggak nyandak (registrasi tak terselesaikan). Alasannya ya karena jaringan itu. Akhirnya semua (murid SMKN 2 Solo) enggak bisa ikut (SNBP)," paparnya.
Nayla mempertanyakan tanggung jawab sekolah terhadap para siswa yang tidak bisa mendaftar SNBP.
“Jadi ini semua udah enggak bisa daftar. Terus ini yang diharapkan seperti apa? Kenapa (guru) tidak sampai mundur? Ada tanggung jawabnya enggak? Sekolah ngasih solusi SNBT. SNBT itu sudah beda,” ujarnya.
Baca Juga: Transformasi Profesi PPG jadi Langkah Mewujudkan Kesejahteraan Pengajar
Aura, salah satu siswa kelas XII juga menyampaikan kekecewaannya.
"Kalau misalnya usaha sekolah ini enggak berhasil, kan berarti harusnya ada bentuk pertanggungjawaban lain," ungkapnya.
"Menurut saya, bimbingan UTBK itu tidak sepadan. Saya belajar UTBK lama pun sampai sekarang belum 100 persen bisa. Apalagi dengan waktunya singkat dan sedikit," lanjut dia.
Sementara itu, Pengawas Sekolah Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah Pangarso Yuliatmoko menyatakan, pihak Cabdin telah berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ini usaha yang dilakukan. Pertama, kita harus berkomunikasi langsung. Kalau lewat handphone dan sebagainya, secara birokrasi memang sudah tutup, tetapi usaha tetap harus kita lakukan," terangnya.
"Kita harus komunikasi langsung. Caranya, ya tadi. Perintah dari dinas, mungkin orang tua sudah disampaikan, kepala sekolah datang ke Jakarta komunikasi membawa permasalahan dengan harapan kita mengedepankan layanan untuk para siswa. Ini masalah masa depan," paparnya di hadapan para siswa.
Pangarso berharap usaha tersebut berhasil. "Jika tidak (berhasil), seperti yang disampaikan sekolah, masih ada perguruan tinggi keagamaan Islam negeri bagi yang berminat," ucapnya.
Kalau tidak berminat, ya sudah. Tidak mau masuk, kita lanjut ke yang berikutnya. Kalau sampai plan A tadi gagal, kita tidak bisa ikut SNBP, maka satu-satunya cara adalah SNBT," lanjutnya.
Pangarso menyadari bahwa secara teoritis siswa SMA lebih diunggulkan dalam SNBT dibandingkan siswa SMK.
Itu karena fokus pendidikan SMK adalah untuk bekerja. Sebab itu, pihaknya mengusulkan agar sekolah memberikan pendampingan belajar secara intensif selama 2,5 bulan menjelang pelaksanaan UTBK SNBT.
"Pembelajaran intensif nanti seperti bimbel di sekolah, di waktu belajar," tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Kepala SMKN 2 Solo Sugiyarso bersama dua siswa, dua wali siswa, dan pihak Cabang Dinas Pendidikan akan berangkat ke Jakarta untuk mengajukan keringanan agar diberikan kuota mengikuti SNBP.
Saat ditanya tentang permasalahan registrasi PDSS, Sugiyarso hanya menganggukkan kepala sembari menuju ruang pertemuan untuk membahas masalah tersebut bersama wali murid. (zia/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono