RADARSOLO.COM- Pihak SMKN 2 Solo buka suara tentang penyebab gagalnya penyelesaian pengisian data pada pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS).
Hal itu menyebabkan sedikitnya 300 siswa SMKN 2 Solo tak bisa mendaftar seleksi nasional berbasis prestasi (SNBP) untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Tim pengisi PDS mengaku mengalami berbagai kendala selama proses pengisian PDSS yang dijadwalkan pada 6-31 Januari lalu.
Melansir laman SNPMB, mekanisme pengisisan PDSS oleh sekolah secara manual meliputi pengisian jenis studi dan finalisasi data sekolah.
Kemudian, pengisian peringat siswa eligible dan finalisasi data siswa eligible.
Lalu, pengisian kurikulum dan finalisasi kurikulum.
Selanjutnya, pengisian nilai rapor 5 semester dan finalisasi nilai rapor.
Setelah melalui berbagai tahap finalisasi, maka dilakukan finalisasi akhir yang dibuktikan dengan mengunduh tanda butkti finalisasi pengisian PDSS.
Joko Widodo, salah satu tim pengisi PDSS SMKN 2 Solo mengungkap kronologi pihaknya gagal menyelesaikan pengisian PDSS.
Salah satunya karena dalam penyiapan siswa eligible terlalu banyak memakan waktu.
Ditambah ada siswa eligible yang mengundurkan diri, sehingga memerlukan siswa pengganti.
"Tadi juga ada Zoom (meeting) dari kepala dinas (Disdikbud Jateng) Semarang, semua cabang dinas, kebetulan tadi saya juga mengikuti,” ujarnya, Rabu (5/2/2025).
“Intinya memang penyiapan siswa eligible termasuk dari SMKN 2 terlalu lama kami kasih kuota. Ketika ada yang mengundurkan diri, kita coba cari penggantinya. Namun itu malah justru membuat waktu jadi mepet," lanjut Joko.
Kendala teknis juga menghambat penyelesaian pengisisan PDSS. Yakni, adanya program keahlian ganda.
"Tahun ini jurusan teknik mesin dobel. Ternyata yang satu tidak bisa diisi oleh siswa dari jurusan mana pun, baik teknik mesin maupun jurusan yang lain. Sehingga hal itu membuat data siswa tidak bisa difinalisasi," papar dia.
Menurut Joko, SMKN 2 Solo telah mengadukan permasalahan teknis tersebut melalui helpdesk SNPMB.
Hasilnya, data yang telah diisi pada PDSS harus kembali dikosongkan.
"Untuk data-data yang sudah diisikan itu harus dikosongkan lagi. Nah, karena ini satu-satunya jalan yang harus ditempuh, akhirnya kita hapus data siswa," lanjutnya.
Dengan begitu, sekolah harus kembali mengisikan data siswa di PDSS.
Namun, tenggat pengisian hingga finalisasi PDSS kian mepet.
"Kita berburu dengan waktu untuk mengisi ulang data PDSS. Namun waktu memang tidak berpihak pada kami," imbuhnya.
Selain itu, selama masa pendaftaran terdapat beberapa siswa yang terkendala dengan nomor induk siswa nasional (NISN) tidak terdaftar.
"Waktu mendaftarkan itu ada beberapa siswa yang memang NISN-nya itu tidak terdaftar. Jadi memang kendalanya banyak sekali," ungkap Joko. (zia/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono