RADARSOLO.COM-Perkembangan teknologi digital kini tak lagi asing bagi anak-anak.
Bahkan, siswa Sekolah Dasar (SD) pun sudah mampu menciptakan robot berbasis Arduino dan Internet of Things (IoT).
Hal ini dibuktikan oleh para siswa SDIT Nur Hidayah Solo yang aktif dalam ekstrakurikuler robotik, mulai dari kelas 3 hingga kelas 5.
Di sekolah ini, siswa tidak hanya dikenalkan pada teknologi.
Tetapi juga dibimbing untuk menciptakan karya inovatif. Seperti robot semi-otomatis hingga sistem parkir otomatis yang terkoneksi internet.
"Yang sedang kami unggulkan sebelum libur puasa adalah sistem parkir otomatis pakai Arduino. Ini juga jadi bagian dari proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5)," jelas Sutrisno, guru ekstrakurikuler robotik SDIT Nur Hidayah.
Sutrisno menyebutkan, pembelajaran dilakukan bertahap.
Di kelas 3, siswa mulai dikenalkan pada dasar-dasar robotika. Di kelas 4, mereka mulai membuat proyek yang dikendalikan dengan kabel.
Sementara kelas 5 mulai masuk ke pemrograman Arduino Uno.
Setiap semester, siswa menghasilkan karya yang bisa dibawa pulang. Seperti lampu LED otomatis, baling-baling sederhana, hingga robot dari dinamo bekas mainan.
Hal ini membuat anak-anak makin semangat belajar dan menciptakan inovasi.
"Kami ingin anak-anak tidak sekadar bermain gadget, tapi juga memahami teknologi di baliknya. Dengan robotik, mereka tetap bermain sambil belajar," imbuhnya.
Baca Juga: Epson Hadirkan Seri TM-U220II yang Lebih Canggih, Simak Keuggulannya
Meski fokus pada pembelajaran, siswa SDIT Nur Hidayah juga aktif mengikuti kompetisi robotik.
Mereka pernah meraih Juara 3 Piala Gubernur Jawa Tengah.
Sayangnya, event robotik tingkat SD di Solo masih minim, sehingga siswa harus mengikuti lomba ke luar kota seperti di Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang.
"Semoga ke depan Solo punya lebih banyak event robotik rutin. Minimal ada lomba atau pameran teknologi setahun sekali seperti dulu di Manahan," harap Sutrisno.
Dukungan sekolah dan orang tua juga menjadi faktor penting.
Sekolah menyediakan fasilitas dasar, dan beberapa orang tua bahkan membelikan perlengkapan tambahan agar anak-anak bisa berlatih di rumah.
Minat siswa untuk mengikuti ekstrakurikuler ini cukup tinggi.
Namun, jumlah peserta dibatasi agar pembelajaran tetap efektif. Seleksi dilakukan berdasarkan nilai IPA, Matematika, motivasi, dan dukungan dari orang tua.
"Manfaat belajar robotik itu luas, selain mengenalkan teknologi, juga melatih motorik halus, kreativitas, serta menjauhkan anak dari kecanduan gadget," tambahnya.
Sutrisno juga mengusulkan agar kegiatan robotik bisa difasilitasi di Car Free Day (CFD).
Dengan begitu, anak-anak dari berbagai sekolah bisa memamerkan hasil karya mereka ke masyarakat luas.
"Kalau ada kegiatan rutin di CFD, itu bisa jadi wadah promosi dan edukasi. Lama-lama bisa berkembang jadi event besar," katanya.
Menurutnya, Solo masih tertinggal dari Yogyakarta dan Surabaya dalam hal dukungan terhadap kegiatan robotik tingkat SD.
Di dua kota tersebut, lomba robotik lebih sering digelar, sehingga anak-anak lebih terasah dan termotivasi.
Ia juga berharap agar lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) di Solo dapat membuka lebih banyak ruang untuk inovasi berbasis robotik.
"Teknologi terus berkembang. Bahkan benda kecil pun bisa dimodifikasi jadi alat yang berguna. Anak-anak Solo harus bisa mengejar ketertinggalan dan melek teknologi sejak dini," pungkasnya. (zia/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono