Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sejarah Lengkap Pesantren Jamsaren, Ponpes Tertua di Kota Solo

Niko auglandy • Kamis, 10 April 2025 | 03:20 WIB

 

Pondok Pesantren Jamsaren yang berada di di Jalan Veteran Nomor 263, Serengan, kota Solo.
Pondok Pesantren Jamsaren yang berada di di Jalan Veteran Nomor 263, Serengan, kota Solo.

RADARSOLO.COM – Pondok Pesantren Jamsaren, sebagai pondok pesantren tertua di Kota Solo, terletak di Jalan Veteran Nomor 263, Serengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah.

Pondok ini didirikan pada 1750. Pakubuwana mendatangkan ulama-ulama besar ke Solo kala itu, salah satunya adalah Kyai Jamsari yang berasal dari daerah Jamsaren.

Pada awalnya, bangunan ini berupa surau yang bertujuan untuk mengajarkan agama Islam, ilmu tauhid, bacaan Alquran, dan syariat Islam kepada masyarakat umum, termasuk para bangsawan dan pejabat istana.

Pada masa penyebaran Islam, berbagai aliran animisme, khurafat adat istiadat Jawa, dan Hindu masih berkembang di desa dan kampung.

Namun, berkat Kyai Jamsari, akhirnya Kota Surakarta menjadi lebih sejahtera dan aman. Setelah Kyai Jamsari wafat, pondok ini diteruskan oleh putranya yang kedua.

Pada 1800, pemerintahan Pakubuwana VI, yang diberi gelar Sunan Banguntopa menguasai pondok ini. Pada 1825, terjadi pemberontakan oleh Pangeran Diponegoro di Yogyakarta dan oleh Sunan Pakubuwana VI di Solo, melawan penjajahan Belanda di Magelang, Salatiga, dan Semarang.

Tentara Belanda mengalami kekalahan dan meminta perdamaian. Namun, Belanda terus melakukan muslihat terhadap Pangeran Diponegoro, yang akhirnya terjebak di dalam kapal di Semarang dan dibawa ke Makassar, Sulawesi, di mana ia dipenjara hingga wafat.

Pada 1830, operasi tentara Belanda di Surakarta menyebabkan banyak kyai yang membantu Pangeran Diponegoro dan Pakubuwana VI terpaksa menyembunyikan diri dan keluar dari Solo.

Kyai Jamsari dan santrinya menghilang tanpa jejak. Pondok Pesantren Jamsaren pun hancur lebur dan kosong selama kurang lebih 50 tahun.

Pada 1878, seorang kyai alim bernama Kyai Haji Idris yang berasal dari Klaten datang ke Kampung Jamsaren. Beliau adalah keturunan Kyai Imam Rozi, seorang pembantu Pangeran Diponegoro.

Kyai Haji Idris berusaha membangun kembali Pondok Pesantren Jamsaren serta mengembangkan ajaran-ajaran Islam di Surakarta. Beliau pertama kali mendirikan musala yang dikelilingi oleh dua rumah pondok dari bambu dan kayu di sebelah kanan musala.

Di sini, Kyai Haji Idris menyelenggarakan pengajian dengan mengajarkan kitab-kitab Islam yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa.

Pengajaran di Pondok Pesantren Jamsaren dilakukan dengan cara maju satu per satu, dan masing-masing santri membawa kitabnya sendiri-sendiri.

Para santri datang dari berbagai kota di Indonesia untuk belajar agama di pondok ini. Ilmu yang diajarkan meliputi tajwid, qiroah, tafsir, hadis, fiqih, usul fiqih, sorof, nahwu, balaghoh, mantiq, tarikh, tasawuf, ilmu falak, wasathi, dan ta'dil.

"Santri di sini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Di sini juga terdapat madrasah yang terdiri dari SMP, SMA, dan kuliah. Lulusan Pondok Pesantren Jamsaren dan Madrasah Mambaul Ulum Surakarta banyak yang menjadi pemimpin masyarakat, guru madrasah, kyai pesantren, pejabat pemerintah, penghulu, hakim, kepala pengadilan agama, ulama, dan banyak lagi," ujar Alan, salah satu pengurus, kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Berikut Panduan Program Makan Bergizi Gratis untuk Santri di Pondok Pesantren dari Kemenag, Apa Bedanya?

Pada 1923, Kyai Haji Idris wafat dan dimakamkan di Pajang, makam haji. Kepemimpinan Pondok Pesantren Jamsaren diteruskan oleh Kyai Abu A’Mar dan pimpinan Madrasah Mambaul Ulum yang kemudian digantikan oleh Kyai Abdul Jalil.

Selanjutnya, kepemimpinan pondok diteruskan oleh beberapa generasi berikutnya, hingga saat ini.

Pada 1965, Kyai Haji Abu A’Mar wafat dan dimakamkan. Pondok Pesantren Jamsaren diteruskan oleh putranya, Kyai Haji Bilal, Kyai Haji Ali Barokah, dan Kyai Haji Jamalludin.

Setelah itu, berbagai peristiwa dan pergantian kepemimpinan terjadi, dengan penerusnya selalu diambil dari kalangan keluarga dan pengurus yang telah berpengalaman dalam mengelola pondok pesantren ini.

Hingga saat ini, Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta dikelola oleh Kyai Haji Ali Darokah, dibantu oleh para pengurus yang dipilih dan ditetapkan setiap tahun.

Jumlah pengurus pondok adalah 15 orang, dan jumlah mualim yang mengajar di pondok ada 18 orang. (mg7/nik)

Penulis: Siti Fatimah

 

 

Editor : Niko auglandy
#Pakubuwana #pangeran diponegoro #belanda #solo #Ponpes Jamsaren