RADARSOLO.COM - Sungai Bengawan Solo selama ini menjadi urat nadi kehidupan warga di sekitarnya. Namun tingkat pencemarannya bikin waswas. Tergugah atas permasalahan ini, siswa MAN 1 Solo menciptakan robot Satria, pendeteksi limbah sungai.
Nama robot ini Satria alias Sistem Automasi Terpadu Robot Inspeksi Air. Dirancang empat siswa kelas X MAN 1 Solo, yakni Akbar Prasetya Nugraha (ketua), Anggito Abimanyu (wakil ketua), Arkan Fedo Pratama (programmer), dan Mu’ammar Atma (desainer).
Sebelum membuat robot, Anggito dkk terlebih dahulu melakukan riset terkait kondisi riil di Sungai Bengawan Solo. Mereka menemukan adanya limbah merkuri dari tambang emas di Kabupaten Wonogiri, hingga alkohol dari industri rumahan di Kabupaten Sukoharjo.
“Awalnya kami lihat kondisi Sungai Bengawan Solo keruh dan kotor. Kami cari berita soal pencemaran, ternyata memang sudah berlangsung lama. Maka kami berpikir, harus ada sistem peringatan dini yang bisa memberi tahu kondisi sungai dengan cepat,” kata Anggito saat mengikuti lomba Krenova 2025, Rabu (7/5).
Setelah itu, robot pendeteksi limbah mulai dirakit. Memadukan empat sensor utama. Mulai dari sensor pH air, kekeruhan, merkuri, dan alkohol. Sensor merkuri dan alkohol ditempatkan dalam casing khusus agar tidak langsung bersentuhan dengan air. Namun tetap bisa mendeteksi zat berbahaya.
Ketua tim Akbar menambahkan, robot Satria dirancang mengapung di sungai. Kemudian menyedot daya dari arus air melalui energi mikro hidro.
Setelah itu mengirim data hasil deteksi ke sebuah website yang mudah diakses masyarakat. Hasil deteksinya menampilkan empat parameter, yakni nilai pH, tingkat kekeruhan, kadar merkuri, serta kadar alkohol.
Alat ini sudah diuji coba di sungai dekat RS Dr. Oen Kandang Sapi Solo. Pada uji awal, tim masih menggunakan mikrocontroler arduino uno. Sehingga data belum terhubung ke website dan hanya ditandai melalui bunyi buzzer serta lampu LED.
“Tapi saat buzzer dan LED menyala, itu berarti robot mendeteksi adanya limbah. Sekarang sudah kami upgrade sistemnya ke ESP32, agar data bisa terekam dan tampil di web,” beber Akbar.
Ya, kini sistem telah ditingkatkan menggunakan ESP32. Memungkinkan data dikirim langsung ke internet dan ditampilkan di dashboard pemantauan.
“Paling sulit mengintegrasikan ESP32 ini ke dalam website-nya. Soalnya itu membutuhkan cara yang cukup rumit,” imbuhnya.
Menurut Akbar, inovasi robot ini berwujud prototipe. Alhasil masih butuh penyempurnaan. Salah satunya penutup penambahan permanen untuk, melindungi sistem agar tahan air dan arus sungai.
“Kalau misalnya sudah jadi 100 persen, nanti kami lem penutupnya. Supaya air tidak mudah masuk. Kemudian nanti juga kami patenkan,” ujar Akbar.
Terkait perakitan, akbar mengklaim butuh waktu sepekan. Sedangkan durasi pembuatan website hanya dua hari.
Sesuai filosofi Satria yang gagah berani, Akbar dkk berharap inovasi ini bisa menjaga sungai-sungai di Indonesia. Memberi peringatan akan adanya ancaman limbah.
“Kami berinovasi dengan robot yang bisa dapat memberi peringatan dini, agar limbah-limbah di sungai cepat teratasi. Termasuk mengedukasi masyarakat, supaya memahami apa saja bahaya yang terkandung dalam air sungai,” bebernya. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto