RADARSOLO.COM – Mahasiswa rentan mengalami gangguan mental. Disebabkan tingginya beban akademik, tekanan keluarga, konflik hubungan pribadi, hingga persoalan moral dan agama.
Menghadapi persoalan tersebut, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo melatih mahasiswanya menjadi Mental Health Agent (MHA). Pelatihan dilaksanakan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jumat (9/5). Diikuti warga kampus dari seluruh fakultas di lingkungan UNS.
Kepala Subdirektorat Layanan Konseling Mahasiswa (LKM) UNS Berliana Widi Scarvanovi menjelaskan, LKM UNS terintegrasi mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga peer supporter/counselor tingkat program studi
"Keberadaan MHA di setiap fakultas ini harapannya bisa meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya menjaga kesehatan mental," paparnya.
Selain itu, program ini menjawab persoalan akses layanan konseling yang selama ini masih dirasa jauh atau sulit dijangkau.
"Agen-agen ini nantinya bertugas menjadi pendamping awal dan penghubung bagi mahasiswa yang mengalami persoalan psikologis. MHA sekaligus sebagai mitra layanan konseling profesional dalam upaya promotif dan preventif," jelasnya.
Berliana menambahkan, fase-fase kondisi kesehatan mental meliputi fase sehat, reaktif, terluka, dan fase sakit.
"Agen hanya diperkenankan menangani mahasiswa dalam kategori fase healthy (sehat)," katanya.
Pada kesempatan itu, Dosen Psikologi UNS Afia Fitriani mengatakan, berbagai persoalan seperti beban akademik, penyesuaian perkuliahan, masalah finansial, tekanan masa depan dan karir, hingga persoalan kesehatan kerap mendera mahasiswa.
"Selain itu, mahasiswa juga rentan mengalami tekanan dari lingkungan keluarga, konflik hubungan pribadi, hingga persoalan moral dan agama," imbuhnya.
Afia menambahkan, beberapa faktor bisa memperkuat kesehatan mental mahasiswa. Misalnya, pola makan dan tidur yang sehat, keterampilan mengatur emosi, hubungan sosial yang positif, serta dukungan dari lingkungan keluarga dan teman sebaya.
“Deteksi dini kondisi kesehatan mental melalui skrining dan monitoring rutin adalah hal yang penting. Prosesnya dapat dilakukan saat pembimbingan akademik dengan dosen, saat proses pembelajaran di kelas, atau pada momen lain dengan menggunakan mental health online test gratis,” terangnya.
Selain pengetahuan soal kesehatan mental, mahasiswa juga dilatih dengan kemampuan Psychological First Aid (PFA). Afia menjelaskan, PFA merupakan intervensi psikologis singkat bagi individu yang baru mengalami tekanan berat atau peristiwa traumatis.
"PFA memiliki prinsip Look, Listen, dan Link. Tujuannya untuk memberikan rasa aman, mengurangi dampak psikologis, serta mempercepat proses pemulihan," bebernya.
Jejaring MHA diharapakan akan berperan aktif dalam mendeteksi dini, memberikan dukungan awal, serta memfasilitasi akses layanan profesional bagi mahasiswa UNS. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto