Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Poster Karya Imey Gladys-Bagus Kafabik Tembus Pameran di Luar Negeri: Bawa Pesan Menyentuh, Terinspirasi Berita KDRT

Mannisa Elfira • Selasa, 20 Mei 2025 | 19:05 WIB
TERMOTIVASI: Imey dan Bagus memamerkan karyanya yang tembus pameran internasional.
TERMOTIVASI: Imey dan Bagus memamerkan karyanya yang tembus pameran internasional.

RADARSOLO.COM – Karya digital Imey Gladys Fourentika dan Muhammad Bagus Kafabik, mahasiswa asal Solo tembus pameran dunia di Irak. Angkat tema rindu, trauma, dan hangatnya keluarga.

Sore itu, cahaya senja menelusup perlahan ke sela-sela rumah, mewarnai dinding dan lantai dengan semburat keemasan. Dalam imajinasi Imey Gladys Fourentika, senja bukan sekadar peristiwa alam.

Ia adalah ruang batin, tempat rindu dan kebersamaan saling bersua—dan itulah yang ia bawa ke layar komputernya, gores demi gores, dalam sebuah poster bertajuk Golden Hour: Between Longing and Belonging.

Imey, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo kelahiran Pasuruan, Jawa Timur ini tak menyangka karyanya bisa menembus pameran internasional Fabric of Family: Stories of Disconnection & Connection 2025 di Irak.

Poster digital yang ia lukis menggunakan Adobe Photoshop itu menggambarkan fragmen-fragmen kehidupan keluarga.

Ayah yang menggendong anak kelelahan, ibu yang sibuk memasak dengan kasih, anak-anak yang riang bermain di halaman, hingga remaja yang tertidur di meja belajar—ditemani sosok mendiang ibu yang hadir dalam keheningan waktu senja.

“Senja selalu punya momen magis di mana dunia seakan saling terhubung, bahkan antara yang hidup dan yang telah tiada,” ujarnya lirih.

Sementara itu, di sudut lain ruang yang sama, Muhammad Bagus Kafabik membawa nuansa yang berbeda.

Poster berjudul Through the Eyes of Suffering yang ia buat dengan software Clip Studio Paint, menyuarakan luka sunyi yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah: kekerasan dalam keluarga.

Lewat visual mata seorang ibu yang memantulkan penderitaan anaknya, Bagus menghadirkan narasi trauma yang membekas dalam diam.

“Saya terinspirasi dari berita-berita tentang KDRT. Isu itu sangat menyentuh dan perlu disuarakan,” jelas mahasiswa asal Kudus itu.

Keduanya dibimbing oleh Basnendar Herry Prilosadoso, dosen desain komunikasi visual ISI Solo. Proses kreatif tidak selalu mulus.

Baik Imey maupun Bagus mengaku sempat mengalami kebuntuan, baik dalam merumuskan konsep maupun mengeksekusi suasana emosional lewat warna dan bentuk.

Namun berkat ketekunan, keduanya berhasil membawa karya mereka ke galeri Iraqi Artists Association Gallery, di Al Diwaniyah, Irak—bersanding dengan 225 seniman dari 35 negara.

Bagi mereka, ini bukan sekadar pencapaian, melainkan langkah awal. Sebuah pembuktian bahwa suara dari sudut kota Solo pun bisa menggema hingga lintas benua, lewat seni yang jujur dan penuh makna. (Nis/bun)

Editor : Niko auglandy
#isi surakarta #poster #internasional