ARIES ADENATA
Pengamat Kebijakan Pendidikan
IBARAT cendawan tumbuh di musim hujan, Sekolah Islam Terpadu (SIT) tumbuh dan menjamur di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Solo Raya, dari mulai TK, SD, SMP, hingga SMA. Pertanda kehadirannya diterima oleh masyarakat. Sebutan atau penggunaan nama Sekolah Islam Terpadu kini menjadi branding tersendiri, diantara pilihan sekolah-sekolah yang ada.
Menjawab Kebutuhan Masyarakat
SIT menawarkan dua unique selling proposition (USP) sebagai pembeda dibanding dengan sekolah-sekolah yang sudah eksis terlebih dahulu.
Pertama, penyebutan Islam terpadu itu sendiri, yang dimaksud terintegrasinya dengan baik antara ilmu umum dan ilmu agama maupun antara dunia dan akhirat.
Kedua adalah full day school, yakni proses belajar mengajarnya lebih panjang atau lama. Biasanya hingga sore hari, dibandingkan dengan sistem sekolah tradisional yang hanya berlangsung setengah hari.
Dua unique selling propotion di atas adalah untuk menjawab keresahan dan kebutuhan sebagian masyarakat yang merasa selama ini, sekolah-sekolah yang ada masih mendikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Kurangnya proporsi pelajaran agama di sekolah tradisional selama ini.
Juga sebagai problem solving masyarakat muslim menengah perkotaan yang sibuk seharian di luar rumah alias bekerja seharian. Mereka jadi lebih tenang bekerja, karena anak mereka berada dilingkungan sekolah, daripada menitipkan anak ke pembantu yang tidak mendapatkan nilai-nilai/ilmu agama.
Dua unique selling propotion itu ternyata memikat masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka ke Sekolah Islam Terpadu. Terbukti, dimana masa penerimaan siswa baru berlangsung tidak begitu lama, dibuka beberapa bulan saja kuota sudah penuh, bahkan ada yang inden segala.
Ancaman Sekolah Islam Terpadu
SIT kini sudah memjamur di berbagai kota/kabupaten di Indonesia, apalagi dalam satu kota/kabupaten ada beberapa sekolah sejenis. Maka, ini menjadi acaman bagi mereka sendiri.
Market share menjadi berkurang atau jadi rebutan diantara mereka sendiri. Sebab, ada kesamaan, yakni kelompok masyarakat muslim menengah terdidik dan perkotaan.
Ditambah lagi bermunculannya sekolah-sekolah Islam baru dengan branding tersendiri, ada Sekolah Islam Unggulan, Program Khusus, Sekolah Islam International.
Tentu ini akan jadi lawan baru bagi SIT. Jika S tidak segera evaluasi dan berbenah diri, ini bakal jadi ancaman serius buat mereka. Biasanya kompetitor itu lahir untuk menyempurnakan kekurangan yang sudah ada selama ini.
Citra Negatif
Selain citra positif yang sudah terbangun selama ini. SIT juga menghadapi citra negatif yang berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah sebagai sekolah mahal, jadi hanya anak-anak orang kaya saja yang bisa menikmati konsep ini.
Tidak disadari, tentu ini menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat. Masyarakat muslim kelas menengah ke bawah yang ingin mencicipi konsep sekolah ini jadi minder, tidak berani memasukan anak mereka ke sekolah tersebut.
Citra sekolah mahal ini juga manjadikan sekolah berjarak dengan kelompok masyarakat muslim kelas menengah kebawah. Jadi timbul citra bahwa SIT hanya untuk sekolah anak orang kaya, yang miskin tidak bisa mengenyam konsep sekolah mereka. SIT harus bisa menjawab citra mahal yang selama ini kadung tertempel di mereka.
Di sisi lain, jika citra sekolah mahal tidak dikelola dengan baik di kalangan internal itu sendiri juga bakal menimbulkan masalah tersendiri. Ekspetasi orang tua yang menyekolahkan di sekolah tersebut tentu pasti lebih tinggi.
Seperti halnya yang terjadi di Solo. SDII (Sekolah Dasar Islam International) Al Abidin. Tuntunan untuk akuntabilitas keuangan dan juga fasilitas lebih menjadi tuntutan orang tua. Kejadian itu dipicu ketika mengangkut anak-anak mau kemah menggunakan truk.
Bagi kalangan orang tua yang merupakan kelas menengah atas itu tindakan tidak memadai. Apa yang tejadi di Al Abidin, bisa jadi akan terjadi di SIT, karena citranya hampir sama, yakni sekolah Islam mahal yang menempel.
Berubah atau Ditinggal
SIT yang selama ini masih “menjual” sekolahnya dengan dua USP di atas akankah mempertahankan USP tersebut terus-menerus?
SIT pertama kali muncul pada 1993 di wilayah Jabodetabek. Lima sekolah menjadi pionir: SDIT Nurul Fikri (Depok), SDIT Al-Hikmah (Jakarta Selatan), SDIT Iqro (Bekasi), SDIT Ummul Quro (Bogor), dan SDIT Al-Khayrot (Jakarta Timur). Jika mengacu pada tahun itu, maka usia SIT telah mencapai 32 tahun. Namun, jika usia dihitung sejak mereka berhimpun dalam wadah Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) pada 2003, maka usianya baru 22 tahun.
Agar tetap relevan dan menjadi problem solver bagi masyarakat, SIT perlu segera merumuskan ulang USP yang ditawarkan. USP tersebut harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat masa kini dan bahkan 5 hingga 10 tahun ke depan. Jika tidak, SIT bisa menjadi usang dan ditinggalkan.
Tanda-tandanya sebenarnya sudah mulai terlihat. Antusiasme masyarakat mulai menurun. Hal ini tampak dari masa penerimaan siswa baru yang kini cenderung lebih panjang, bahkan perlu waktu lama untuk memenuhi kuota. Padahal, dulu SIT pernah mengalami masa-masa emas. Saat pendaftaran baru dibuka beberapa bulan, kuota sudah penuh. Bahkan, ada yang sampai harus inden.
Membantu Pemerintah
Di luar segala dinamika yang ada, patut diapresiasi bahwa ada masyarakat yang berhimpun untuk menyelenggarakan sekolah, termasuk melalui kehadiran SIT. Padahal, sejatinya pendidikan adalah tanggung jawab negara.
Pemerintah seharusnya berterima kasih kepada sekolah-sekolah yang didirikan dan dikelola oleh masyarakat, karena keberadaan mereka turut meringankan beban negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Mengacu pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, disebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan sebenarnya merupakan tugas pemerintah—dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian tersebut diberi mandat untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan masyarakat, serta pengelolaan kebudayaan, dalam rangka membantu presiden menjalankan roda pemerintahan.
Jadi Partner Pemerintah
Kehadiran sekolah swasta harusnya jadi partner pemerintah, bukan malah menjadi ancaman. Di beberapa daerah kita mendengar, sekolah-sekolah negeri ada yang tutup, terutama di tingkat SD, orang tua mereka memilih ke SIT karena ingin anak mereka mendapat pelajaran agama lebih, serta terbentuknya karakter baik dan islami untuk anak-anak mereka.
Dengan kejadian tersebut, beberapa dinas daerah membatasi ruang gerak sekolah swasta, agar sekolah negeri tidak terdisrupsi oleh sekolah swasta. Dari fenomena tersebut, persoalan sebenarnya bukan pada sekolah swasta, tapi bagaimana sekolah negeri berbenah secara kualitas dan bisa memenuhi kebutuhan orang tua di hal pendidikan agama dan karakter.
Juga berbenah mindsetnya. Kita tahu dan bukan jadi rahasia lagi, jika sebagian besar guru-guru negeri berada di zona nyaman, sehingga mindset mereka aman-aman saja, bakal tidak kena pecat, berapapun murid yang didapat, mereka juga bakal dapat gaji utuh. Akhirnya, mereka tidak mau upgrade diri. Beda dengan sekolah swasta, murid adalah urat nadi mereka, jadi mereka berlomba-lomba untuk menjadi sekolah terbaik agar orang tua siswa mendaftarkan anak mereka ke sekolah mereka. (*)
Editor : Kabun Triyatno