RADARSOLO.COM – Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar pentas triwulan Catha Ambya ke-6 di Pendapa GPH Djojokusumo, Rabu (4/6) malam.
Mengusung tema Warisan Abadi Maestro, gelaran ini menjadi momen istimewa sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi pengajar senior, Didik Bambang Wahyudi yang memasuki masa purnabakti.
“Tema ini bukan sekadar ungkapan, tetapi sebuah penghormatan tulus kepada sosok yang telah menjadi suluh dalam dunia seni, khususnya tari. Malam ini bukan hanya pergelaran seni, tetapi juga momen mengenang, merayakan, dan merenungi jejak langkah seorang maestro,” ujar Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FSP ISI Surakarta Bondet Wrahatnala.
Sebanyak tujuh sajian tari tradisi gaya Surakarta dipentaskan dalam acara ini. Di antaranya Gambyong Pareanom, Panangsang Sutowijoyo, Lawung Gagah, Jambu Mangli, Sang Urubisma, Anoman Rahwana, dan Tandhingan Alus. Seluruh karya merupakan hasil kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Tari ISI Surakarta.
Menariknya, pengendang dalam sajian Gambyong Pareanom merupakan mahasiswa darmasiswa di FSP asal Jepang, yang menunjukkan kekaguman dan dedikasi mereka terhadap seni tradisi Jawa.
Bondet menambahkan, Didik Bambang Wahyudi bukan hanya penggagas dan pelaksana karya tari, tetapi juga sosok yang menghidupkan semangat, nilai, dan karakter dalam setiap gerak tari. Kepemimpinannya menjadi teladan, ketegasannya menjadi pelindung nilai, dan kelembutannya menjadi panutan.
“Warisan beliau bukan sekadar karya, tetapi nilai-nilai: ketekunan, cinta budaya, serta semangat menghidupkan seni di tengah perubahan zaman. Dan warisan inilah yang akan terus hidup selama kami menjaganya,” lanjutnya.
Pertunjukan kali ini juga menjadi ruang ekspresi dari para murid untuk menunjukkan jejak sang maestro dalam teknik, pemikiran, serta ketubuhan mereka saat menari. Dalam suasana penuh haru, pentas ini menjadi persembahan terbaik kepada guru sekaligus panutan mereka.
“Pergelaran malam ini adalah persembahan. Bagi seni, bagi penonton, dan yang terutama bagi sang maestro. Biarlah panggung ini menjadi ruang bicara, di mana tubuh-tubuh yang menari menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan terdalam kepada Bapak Didik Bambang Wahyudi," tandasnya. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy