RADARSOLO.COM – Pendaftaran dan seleksi sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2025 untuk jenjang SMA/SMK di Kota Solo tengah berjalan. Ketatnya persaingan membuat banyak orang tua merasa khawatir anak-anak mereka tidak dapat diterima di sekolah negeri pilihan.
Masalah ini terutama muncul setelah perubahan sistem yang lebih berfokus pada jalur prestasi gabungan antara akademik dan nonakademik.
Pipit Kustati, warga Kerten, Laweyan, mengungkapkan kekecewaannya setelah anaknya tergeser dalam seleksi jalur prestasi di SMAN 4 Solo.
Meskipun memiliki piagam kejuaraan atletik tingkat provinsi. Dengan nilai rapor 81 dan tambahan 2,5 dari piagam prestasi, anaknya tetap tidak lolos. Karena sistem yang menggabungkan prestasi akademik dan nonakademik.
“Dulu, nilai rapor jadi patokan utama, dan piagam prestasi hanya sebagai tambahan. Tapi sekarang prestasi nonakademik digabung, jadi anak yang punya prestasi akademik tinggi lebih diuntungkan,” ungkap Pipit.
Kondisi serupa juga dialami oleh Alfa Amalia, warga Mangkubumen, Banjarsari. Anaknya juga terpaksa mencari alternatif sekolah setelah gagal masuk melalui jalur prestasi di SMAN 4, SMAN 2, dan SMAN 6. Kini, ia hanya memiliki pilihan tersisa di SMAN 5, meskipun masih berada dalam zona merah.
“Bingung kalau anak saya tidak lolos di SMAN 5. Sistemnya sekarang jauh berbeda dari dulu, yang lebih simpel,” katanya.
Alfa juga mengeluhkan kesulitan banyak orang tua yang tidak terbiasa dengan sistem daring dan berbasis domisili ini.
Dalam seleksi SPMB kali ini, persaingan memang sangat ketat. Di SMAN 4 Solo, calon murid dengan peringkat ke-108 saja mencatatkan nilai akhir 94,14. Sementara di SMAN 1 Solo, peringkat ke-119 memiliki nilai akhir 95,52. SMAN 2 dan SMAN 3 Solo juga mencatatkan nilai yang sangat tinggi pada peringkat 108 dan 130, masing-masing dengan nilai 88,83 dan 91,57.
Berdasarkan data di laman resmi SPMB Jawa Tengah, peringkat yang lebih tinggi dengan nilai lebih rendah pun tidak menjamin kelulusan, terutama bagi mereka yang memiliki prestasi nonakademik. Sejumlah orang tua pun berharap agar sistem jalur prestasi ini bisa dipisahkan antara prestasi akademik dan nonakademik agar lebih adil.
Kasi SMA/SLB Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Wilayah VII Edi Purwanto mengatakan, pemerintah memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi sekolah negeri. Berdasarkan laman resmi SPMB 2025 kuota SMAN di Kota Solo mencapai 3.276 siswa dan 5.187 siswa untuk SMKN.
“Pemerintah memang belum bisa maksimal menampung semua murid di SMA negeri. Maka dengan sistem seleksi apa pun, pasti akan ada yang diterima dan tidak diterima,” ujarnya.
Edi menjelaskan, sistem seleksi masuk sekolah negeri telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dahulu menggunakan nilai ujian nasional, kemudian berganti dengan seleksi ujian masuk, dan kini melalui jalur domisili, afirmasi, prestasi, serta perpindahan orang tua.
“Dari empat seleksi ini kan pasti ada yang diterima dan tidak diterima. Ya itulah. Maka harus disadari bahwa yang tidak diterima harus legawa, yang diterima alhamdulillah,” terangnya.
Dia mengingatkan agar masyarakat memahami keterbatasan tersebut dan tidak semata-mata menyalahkan pemerintah. Menurutnya, jika semua siswa ditampung di sekolah negeri, maka keberadaan sekolah swasta pun akan terdampak.
“Karena kalau semuanya dibangun negeri, nanti sekolah swasta bagaimana?” imbuhnya. (zia/bun)
Editor : fery ardi susanto