RADARSOLO.COM-Dalam upaya melestarikan warisan budaya tak benda, tim Hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Program Studi Sosiologi Universitas Sebelas Maret 2025 sukses menggelar sosialisasi bertema “Sosialisasi Kuliner Tradisional: Kenal, Cinta, Lestarikan!” pada Sabtu (28/6/2025).
Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini merupakan hasil kolaborasi dengan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Tunas Bangsa Kelurahan Pajang, yang bertempat di Gedung Gemilang, RW 3 Pajang, Laweyan, Surakarta.
Sosialisasi ini diikuti oleh 20 peserta dengan rentang usia 13 hingga 20 tahun.
Para peserta tidak hanya diperkenalkan kembali pada beragam kuliner khas Surakarta—berdasarkan klasifikasi bangsawan, akulturasi, dan rakyat kelas bawah.
Tetapi juga diajak memahami pentingnya makanan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya.
Diskusi mendalam turut dilakukan untuk membandingkan dampak kesehatan antara kuliner lokal dengan tren makanan cepat saji atau junk food.
Diya Putri Wulandari, ketua tim Hibah MBKM UNS @cultureonplates menyampaikan, kegiatan ini dirancang sebagai kontribusi mahasiswa dalam pelestarian budaya tak benda melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.
“Kegiatan ini kami tujukan untuk menumbuhkan rasa bangga remaja terhadap warisan kuliner khas daerah mereka. Kami percaya bahwa pelestarian budaya tak benda ini dapat dimulai dari yang paling dekat, yaitu dari apa yang kita makan sehari-hari,” ujarnya.
Salah satu aspek edukatif dalam kegiatan ini adalah penggunaan kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman peserta.
Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan mereka mengenai kuliner tradisional.
Jika pada pre-test sejumlah 12 peserta belum familiar dengan istilah dan jenis makanan khas seperti cabuk rambak, tongseng, dan sate kere, maka pada post-test mereka telah mampu menjelaskan makna budaya di balik kuliner tersebut.
“Hasil post test membuktikan bahwa pendekatan edukatif dan partisipatif sangat efektif untuk menjangkau remaja, karena mereka mulai merasa punya hubungan emosional dan kebanggaan terhadap budaya tak benda ini,” beber Diya, ketika menyoroti keberhasilan metode yang digunakan.
Kegiatan dikemas dengan berbagai metode interaktif, meliputi permainan tebak makanan, presentasi visual, hingga diskusi reflektif.
Diskusi tersebut membandingkan kuliner tradisional dengan makanan kekinian dari segi kesehatan, sejarah dan filosofi, nilai budaya, serta pola konsumsi pada remaja.
Para peserta juga didorong untuk membuat rencana aksi kecil, seperti membuat konten kuliner khas di media sosial atau sekadar belajar resep kuliner khas dari orang tua.
Sebagai bagian integral dari program ini, diluncurkan sebuah zine bertajuk “Antara Rasa dan Budaya” karya tim Hibah MBKM UNS 2025 kelompok 1237.
Selain itu, mahasiswa juga mengajak remaja PIK-R Tunas Bangsa membuat zine secara bersama-sama dengan tajuk “GastronoZine”.
Karya kolaboratif berisikan cerita di balik makanan khas Solo, resep tradisional, serta refleksi budaya dari sudut pandang generasi muda.
Semua dikemas secara unik dan kreatif dengan tulisan tangan dan gambaran remaja PIK-R.
Di sisi lain, kegiatan ini juga disambut antusias oleh para peserta, salah satunya yaitu Jingga Mahira Syifa.
“Kegiatan ini bikin aku lebih tahu makanan khas Solo yang ternyata punya cerita yang sangat wow. Aku jadi pengen bikin konten kuliner khas lagi kalo ke pasar,” ujar Jingga.
Tim Hibah MBKM UNS dan PIK-R Tunas Bangsa berharap kegiatan ini menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan kuliner lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kota Solo. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono