Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Awas Kamuflase Vape Yang Mudah Diselundupkan Pelajar Di Sekolahan, Ada Yang Mirip Lisptick dan Flashdisk

Fauziah Akmal • Jumat, 11 Juli 2025 | 00:23 WIB
Sosialisasi kawasan tanpa rokok di salah satu hotel di Kota Solo, Kamis (10/7).
Sosialisasi kawasan tanpa rokok di salah satu hotel di Kota Solo, Kamis (10/7).

RADARSOLO.COM – Rokok elektrik atau vape alias vapor bentuknya kian ramping dan stylish. Bahkan ada yang menyerupai lipstik, flashdisk, hingga penghapus. Kamuflase ini dikhawatirkan jadi barang konsumsi pelajar di sekolah.

Mencegah penggunaan vape di kalangan pelajar, digelar sosialisasi yang melibatkan berbagai pihak di salah satu hotel di Solo, Kamis (10/7). Selain mewaspadai pemakaian vape di kalangan pelajar, kegiatan ini juga membahas kebijakan kawasan tanpa rokok (KTR) di Kota Bengawan.

Hadir dalam kegiatan, Kepala SMP Negeri 3 Solo Kucisti Ike. Ia berbagi pengalaman implementasi KTR di sekolahnya. Menurutnya, sekolah perlu membekali guru dan orang tua agar tidak terkecoh dengan vape yang banyak beredar di kalangan pelajar.

“Kalau dulu tercium bau rokoknya, sekarang justru wangi seperti strawberi atau kopi. Bentuknya kecil seperti alat make-up atau alat tulis. Sulit sekali dikenali,” jelas Ike.

Ike juga menekankan pentingnya literasi rokok elektrik. Sosialisasi dilakukan lewat pelatihan guru, parenting untuk wali murid, hingga penyuluhan tentang bentuk-bentuk vape yang kerap diselundupkan siswa.

“Kalau guru tidak tahu, bisa saja dikira lip gloss atau flashdisk biasa. Padahal itu vape,” imbuhnya.

Tak hanya edukasi, sekolah juga membentuk satgas pelajar, memasang CCTV di sejumlah titik, serta rutin menggelar SKTR Week. Dalam kegiatan ini, siswa diajak ikut lomba media kreatif tentang bahaya rokok.

“Kami ingin semua pihak waspada. Rokok zaman sekarang tidak hanya membahayakan, tapi juga tersamarkan,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo dr. Retno Erawati Wulandari ikut menanggapi. Menurutnya, upaya pengendalian rokok terus dikuatkan.

Di antaranya memangkas iklan rokok. Jumlahnya turun drastis, dari 208 titik pada 2020 menjadi 56 titik pada 2023. Selain itu, indeks keluarga sehat terkait rumah tanpa perokok juga naik, dari 40 persen pada 2016 dan kini menjadi 70 persen.

“Kota Solo memiliki 131 kawasan bebas asap rokok (KBAR) di 51 kelurahan. Bahkan delapan indikator KBAR kami dijadikan contoh nasional,” papar Retno.

Salah satu KBAR terebut yakni Taman Cerdas Sukarno Hatta di Kelurahan/Kecamatan Jebres. Lurah Jebres Renyta Ina Wijaya menyampaikan, pengawasan dilakukan lewat CCTV, petugas keamanan, edukasi, hingga pemberian sanksi kepada pelanggar, termasuk karyawan sendiri.

“Tantangannya pengawasan malam hari dan menghadapi perokok yang tokoh masyarakat. Tapi secara umum, taman ini relatif bebas asap rokok,” jelasnya.

Gerakan pengendalian rokok juga digalakkan anak muda. Pemuda Penggerak misalnya, menggelar roadshow di 10 sekolah lewat program Save Our School. Serta aksi pungut puntung rokok di KTR. Bahkan, mereka membuat program tukar sebatang rokok dengan sebutir telur. 

“Media punya peran penting untuk menyebarluaskan praktik baik ini. Perlindungan anak tidak bisa dikerjakan sendiri,” beber Direktur Yayasan Kakak Shoim Sahriyati. (zia/fer)

Editor : fery ardi susanto
#sosialisasi kawasan tanpa rokok #edukasi vape #bahaya vape #kawasan tanpa rokok di solo