RADARSOLO.COM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyebut, mata pelajaran (mapel) coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan masuk dalam kurikulum pembelajaran.
Menanggapi kebijakan tersebut, sejumlah sekolah di Kota Solo mulai mengambil langkah konkret. Salah satunya memacu kompetensi guru dengan pelatihan coding dan AI.
Pendidikan di Kota Bengawan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Mapel coding dan AI rencananya dimulai semester depan. Hanya saja, keduanya bersifat pilihan, bukan mapel wajib.
Meski baru dimulai semester mendatang, namun sejumlah satuan pendidikan sudah ancang-ancang. Salah satunya SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo. Guru dan tenaga kependidikan diarahkan mengikuti pelatihan coding dan pemanfaatan AI untuk pembelajaran, Rabu (9/7).
“Guru menjadi kunci kemajuan sekolah. Apa pun kurikulumnya, guru yang menjadi pelaku di kelas. Maka guru harus jadi role model, transfer value, pengganti orang tua di sekolah, serta penjaga nilai-nilai moral,” kata Kepala SMP Muhammadiyah PK Muhdiyatmoko.
Selama pelatihan tersebut, para guru praktik membuat coding dan pemanfaatan berbagai aplikasi berbasis AI. Seperti Pictoblox untuk kuis interaktif, Suno untuk menciptakan lagu, serta Canva AI dan CapCut AI untuk produksi konten pembelajaran.
“Saya jadi paham pemanfaatan media sosial dan AI untuk menunjang pembelajaran. AI sangat dibutuhkan untuk mendukung proses belajar mengajar yang kreatif dan inovatif,” kata guru matematika Frida Nur Safitri.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo Dian Rineta menegaskan, pembelajaran berbasis science, technology, engineering, art, and mathematics (STEAM) dan AI jadi prioritas untuk diterapkan secara serius di sekolah.
“STEAM bukan sekadar pendekatan pembelajaran, tetapi sebuah cara berpikir yang menggabungkan antara logika dan kreativitas, sains, seni, teknologi, serta nilai-nilai kemanusiaan,” kata Dian.
Dian menambahkan, tantangan pendidikan saat ini terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan satu bidang keilmuan. Maka guru perlu dibekali pelatihan, agar mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai etika secara bijak.
“Guru sebagai garda depan pendidikan, kami latih agar bisa menggabungkan teknologi dan etika. AI tidak menggantikan budaya, tapi bisa bekerja secara inklusif untuk masa depan pendidikan yang lebih baik,” paparnya. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto