RADARSOLO.COM-Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta resmi menjalin kerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dilakukan secara daring, Rabu (16/7/2025).
Kerja sama ini mencakup perancangan, penyusunan, dan penyelenggaraan Festival Fulan Fehan yang akan digelar di Kabupaten Belu pada September 2025.
Dekan FSP ISI Surakarta Tatik Harpawati mengatakan, hubungan antara FSP ISI Surakarta dengan Belu telah terjalin sejak 2017 melalui inisiatif Eko Supriyanto.
Bahkan pada Dies Natalis ISI Surakarta ke-61 kemarin (15/7) ditampilkan pertunjukan tari Ibu-Ibu Belu.
"Kami berharap kerja sama dengan Disparbud Belu terus berlanjut di masa mendatang. Semoga Festival Fulan Fehan yang direncanakan pada September 2025 dapat berlangsung sukses," ujar Tatik.
"Kabupaten Belu telah menjadi laboratorium seni bagi FSP dan ISI Surakarta. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami untuk mendampingi masyarakat di Belu," imbuhnya.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FSP Bondet Wrahatnala menambahkan, kolaborasi ini merupakan bentuk hilirisasi hasil riset artistik para dosen ISI Surakarta yang melibatkan pemerintah daerah sebagai bagian dari model kerja sama pentahelix.
"Kolaborasi ini kami dorong sebagai proses transformasi yang adaptif dan berdampak," ujarnya.
Kepala Disparbud Kabupaten Belu Januaria Nona Alo menyampaikan apresiasinya atas kerja sama yang bermanfaat bagi masyarakat Belu ini.
“Ketahanan negara tidak hanya melalui aspek keamanan, namun juga melalui pelestarian budaya. Kami berharap kerja sama ini dapat terus terlaksana dengan baik dan menjadikan Kabupaten Belu sebagai laboratorium seni bagi ISI Surakarta,” tuturnya.
Ketua Program Studi (Prodi) Koreografi Inkuiri FSP ISI Surakarta Eko Supriyanto menambahkan, dia dan tim akan bertolak ke Belu awal September untuk mempersiapkan Festival Fulan Fehan dan menyambut Tour de NTT di Belu.
“Kami sangat berkomitmen untuk terus melanjutkan program ini, termasuk menyukseskan Festival Fulan Fehan yang rencananya akan diselenggarakan pada 26–27 September 2025. Semoga festival ini menjadi bentuk kerja laboratorium yang kreatif, kolaboratif, dan inklusif,” paparnya.
Eko menambahkan, sejak 2017, dirinya telah membawa penari likurai dari Belu tampil di Eropa, Jepang, dan Australia.
Bahkan direncanakan penampilan serupa akan diadakan di Paris pada Desember 2025 atau Januari 2026.
“Kami tidak menganggap Belu sebagai wilayah perbatasan, melainkan sebagai wilayah terdepan Indonesia. Karena itu kami yakin, Belu harus menjadi yang terdepan dalam seni budaya,” tandasnya. (zia)
Editor : Tri wahyu Cahyono