RADARSOLO.COM-Tim interprofesi kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertema SIKATES (Siap Kawal Diabetes) kepada kelompok lansia ‘Peduli Insani’, di Dusun Mendungan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian warga lanjut usia (lansia) dalam mengelola Diabetes Mellitus (DM).
Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan interprofesional, melibatkan dosen dan mahasiswa dari program studi keperawatan, kedokteran, gizi, dan fisioterapi.
Kolaborasi lintas profesi ini bertujuan agar lansia mendapat pemahaman yang lebih komprehensif mengenai DM dari berbagai aspek.
Mahasiswa juga memperoleh pengalaman langsung dalam praktik kolaboratif, yang menjadi bekal penting dalam dunia kerja sebagai tenaga kesehatan.
Kegiatan dilakukan selama kurang lebih 6 bulan dimulai dari bulan Januari 2025.
Pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Enita Dewi, S. Kep., Ns, MN, dosen Prodi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMS.
Dan merupakan implementasi hibah Pengabdian Masyarakat Persyarikatan/AUM/Desa Binaan (P2AD) Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 2025.
Bulan pertama, kegiatan dimulai dengan registrasi dan skrining awal.
Lansia mengisi identitas dari nama, usia, jenis kelamin, riwayat penyakit, riwayat pengobatan.
Setelah itu, tim mahasiswa keperawatan melakukan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sewaktu pada lansia.
Lansia yang mengikuti kegiatan ini ada 48 lansia yang terdiri dari rentang usia 55-83 tahun.
Tim mahasiswa juga melakukan wawancara singkat mengenai manajemen diri lansia selama ini, mulai dari pengaturan gaya hidup, pola makan, tidur dan lainnya.
Rangkaian kegiatan selanjutnya, lansia mengikuti tahapan serangkaian pendidikan kesehatan mengenai manajemen diri DM.
Topik pendidikan kesehatan meliputi informasi umum terkait DM, lima pilar manajemen diri, pemenuhan nutrisi dan pola makan DM, aktivitas fisik sederhana melalui senam, manajemen terapi farmakologis, dan pentingnya monitoring gula darah.
Topik pendidikan kesehatan diramu dan disampaikan oleh tim dosen dan mahasiswa dari profesi dibidangnya.
Lansia mengikuti pendidikan kesehatan dengan sangat antusias dan aktif bertanya dalam setiap sesi disukusi.
Untuk meningkatkan kepatuhan dalam pemantauan mandiri, tim interprofesi memberikan pelatihan sederhana mengenai cara monitoring Diabetes Mellitus (DM) bagi lansia-lansia.
Lansia dikenalkan cara monitoring glukosa darah, supaya mengenal dan mengurangi kecemasan saat dilakukan pemeriksaan.
Pendidikan kesehatan dalam program ini tidak hanya diberikan melalui penyuluhan dan demonstrasi, tetapi juga menguatkan keaktifan lansia dengan senam pagi yang sudah dilakukan secara rutin.
Setiap Rabu pagi, lansia mengikuti senam yang dipandu oleh instruktur bersama tim mahasiswa. Gerakan yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi fisik lansia, sehingga tetap aman dan mudah diikuti.
Selain menguatkan Latihan yang sudah ada, tim mahasiswa fisioterapi juga mengenalkan gerakan dasar dan variasi gerak tambahan untuk meningkatkan fleksibilitas dan mencegah kekakuan sendi.
Tim fisioterapi juga memastikan keamanan dan kenyamanan lansia. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran fisik, tetapi juga menguatkan kebersamaan dan semangat lansia.
Lansia tampak antusias mengikuti sesi senam, yang menjadi bagian penting dari pembiasaan hidup sehat.
Setelah setiap sesi pendidikan kesehatan, tim dosen dan mahasiswa membuka ruang diskusi bersama lansia.
Diskusi ini menjadi sarana untuk memperjelas materi yang telah disampaikan, sekaligus menggali pemahaman dan pengalaman pribadi lansia terkait pengelolaan Diabetes Mellitus.
Lansia diberi kesempatan untuk bertanya, menyampaikan pendapat, maupun berbagi kebiasaan sehari-hari yang berkaitan dengan kesehatan.
Tim memberikan respon secara interaktif dan membangun, sehingga tercipta suasana belajar yang partisipatif dan saling menghargai.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif lansia dalam proses belajar dan perubahan perilaku.
Di tengah rangkaian kegiatan pendidikan kesehatan, lansia telah mengikuti sesi terapi musik menggunakan angklung.
Tim, menguatkan kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tetapi juga berfungsi sebagai pendekatan psiko-sosial yang mendukung pengelolaan Diabetes Mellitus (DM).
Melalui irama dan gerakan sederhana, aktivitas ini membantu mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, dan membangun interaksi sosial yang positif.
Aspek emosional yang stabil sangat berperan dalam menjaga kepatuhan lansia terhadap pola makan, minum obat, dan aktivitas fisik yang dianjurkan.
Terapi musik juga memperkuat rasa percaya diri dan motivasi lansia untuk tetap aktif menjalani rutinitas sehat.
Lansia juga dilibatkan untuk tampil dalam acara kuliah pakar internasional prodi keperawatan dengan dosen tamu dari Universiti Malaysia Sabah.
Mereka sangat antusias dan senang mendapat kesempatan ini.
Dengan demikian, pendekatan ini melengkapi edukasi medis dan fisik dalam upaya pengelolaan DM secara menyeluruh.
Di akhir rangkaian kegiatan, tim interprofesi memberikan paket alat cek gula darah dan booklet edukasi kepada lansia diwakili oleh ketua kelompok lansia Wahyuni, SPd.
Paket ini menjadi bekal bagi lansia untuk melanjutkan praktik pemantauan gula darah secara mandiri di rumah.
Alat cek gula darah membantu peserta melakukan pemeriksaan secara berkala tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan.
Sementara itu, booklet yang berisi rangkuman materi kegiatan berfungsi sebagai panduan sederhana dalam menjalani pola hidup sehat.
Dengan dukungan alat dan informasi ini, diharapkan lansia mampu menjaga kestabilan kadar gula darah, mengenali tanda risiko secara dini, serta menerapkan kebiasaan sehat secara berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi UMS dalam membentuk lansia yang sehat, mandiri, dan berdaya melalui pendekatan kolaboratif lintas profesi.
Mahasiswa juga belajar berperan aktif dalam pelayanan kesehatan berbasis tim, sekaligus merasakan dinamika pengabdian di lapangan.
Dengan pengetahuan yang dipahami, alat yang dimiliki, dan kebiasaan yang dibangun, lansia diajak menjaga kesehatannya sendiri, karena ketika gula darah terjaga, hidup pun jadi lebih bermakna.
Ani, 65, mengatakan, pengarahan dan informasi dari tim mahasiswa dan dosen UMS sangat bermanfaat bagi lansia.
Karena mendorong ibu-ibu yang sebelumnya belum pernah cek dan tahu tentang DM menjadi bersedia cek kesehatannya.
"Secara mental juga baik, dilakukan bersama teman-teman yang lainnya dan tidak menimbulkan rasa takut seperti saat di rumah sakit. Mudah-mudahan masih bisa berjalan lanjut, dari mahasiswa, dosen masih kerso (bersedia) ke sini, untuk memantau kegiatan posyandu lansia disini," urai Ani. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono