RADARSOLO.COM – Rencana pemerintah melarang gim daring Roblox dimainkan oleh anak di bawah umur hingga pemblokiran platform tersebut, memunculkan pro dan kontra di Kota Solo.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani mengaku belum dapat memberikan sikap.
“Nanti dikaji, barangkali memang banyak pertimbangan. Dari sisi apa yang baik, dan apa yang kurang, baru pemkot bisa menyampaikan pendapat ,” kata Astrid.
Sementara itu, sikap warga Solo beragam. Dwi Ningrum, orang tua asal Kecamatan Jebres, mendukung wacana larangan.
“Anak saya kalau main Roblox jadi bicara kasar. Padahal kami tidak mengajarkan begitu dan ketika bicara dengan kami pun tidak menggunakan kata kasar,” ungkapnya.
Warga lainnya, Utami, 37, memilih tetap mengizinkan anaknya bermain dengan pengawasan ketat.
“Di situ kan para pengguna berbagi pengalaman virtual di dunia 3D yang dikembangkan sendiri oleh masing-masing. Anak saya mainnya soal sistem transportasi kereta api,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan di dunia virtual tersebut berkaitan dengan output pembelajaran koding.
”Padahal Pak Menteri sekarang memasukkan Koding dan AI (kecerdasan artifisial) sebagai mata pelajaran pilihan kelas V,” imbuhnya.
Sebagai catatan, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengisyaratkan, Roblox berpeluang diblokir jika konten kekerasannya dianggap melampaui batas.
“Pemerintah mau melindungi generasi kita. Kalau memang mengandung unsur kekerasan, ya kita tutup,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menilai gim tersebut berpotensi membahayakan perkembangan anak-anak, terutama karena konten kekerasan yang terkandung di dalamnya.
“Banyak kekerasan di gim itu,” ujar Abdul Mu’ti, Senin (4/8), usai meninjau program Cek Kesehatan Gratis di Jakarta Pusat.
Menurutnya, murid di bawah umur rentan meniru perilaku yang mereka lihat di permainan digital, karena belum mampu membedakan dunia nyata dan dunia virtual. Mu’ti menambahkan, kebiasaan bermain gim berlebihan juga berdampak pada kesehatan fisik dan emosional anak.
“Kalau kebanyakan main gim itu jadi mager (malas bergerak),” paparnya. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto