RADARSOLO.COM- Fakultas Farmasi Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang beragam di Desa Girilayu, Kabupaten Karanganyar.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat melalui edukasi pengelolaan obat, penggunaan obat tradisional, pengembangan produk aromaterapi, serta pengembangan warisan budaya batik bermotif tanaman obat.
Desa Girilayu dikenal sebagai desa wisata ziarah dan batik yang potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata menarik di sekitar Tawangmangu.
Lokasinya yang hanya 10 km dari Tawangmangu menjadikan desa ini sangat cocok untuk dijadikan bagian dari rangkaian wisata di Kabupaten Karanganyar.
Ketua pengabdian Rosita Handayani, M.Si., apt., menyampaikan, Girilayu memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata yang menggabungkan keindahan alam dan kekayaan budaya.
"Terutama kerajinan batik tulis yang sudah turun-temurun," katanya.
Lebih dari itu, warga desa Girilayu memiliki tradisi membatik tulis yang diwariskan dari nenek kakek mereka.
Saat ini, terdapat sekitar 12 paguyuban perajin batik yang mengembangkan motif khas seperti Manggisan dan Mbok Semok.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian mengajak masyarakat untuk turut melestarikan dan memperkaya kekayaan lokal tersebut dengan berbagai tanaman di sekitarnya.
"Masyarakat Indonesia sudah berabad-abad memanfaatkan tanaman obat sebagai sediaan jamu. Kami ingin memperkenalkan tanaman-tanaman tersebut melalui media budaya yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, untuk itulah kami memilih batik," beber Rosita.
"Kami memperkenalkan berbagai tanaman obat yang potensial dijadikan motif batik seperti sambiloto, kumis kucing, kecombrang, rosela, dan lain sebagainya. Saat ini sudah ada 2 motif contoh yang selesai digarap, ke depan kami berharap bisa bertambah lagi," imbuhnya.
Selain mengembangkan batik, kegiatan pengabdian ini juga fokus pada peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan obat di rumah tangga.
Dengan menggandeng unit apotek Farmasi Airlangga, masyarakat diajarkan cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat secara aman dan rasional.
Mereka juga dilatih membuat dan menggunakan obat tradisional serta memproduksi aromaterapi seperti roll-on, lilin, dan seduhan herbal dari tanaman-tanaman aromatik yang berlimpah di desa tersebut.
Produk-produk ini bahkan diajarkan untuk dikemas menjadi hampers menarik sebagai potensi oleh-oleh khas Girilayu.
Kegiatan diikuti oleh 50 orang. Peserta kegiatan menunjukkan antusiasme tinggi dan menyatakan kegembiraannya, mengingat pengalaman ini adalah yang pertama mereka alami.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian masyarakat dan memperkenalkan kekayaan budaya serta sumber daya alam desa kepada dunia.
Dengan berbagai inovasi yang dilakukan, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga berkomitmen turut serta dalam pengembangan desa Girilayu sebagai destinasi wisata yang bukan hanya menyenangkan tetapi juga berdaya dan berkelanjutan sesuai tujuan SDGS. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono