RADARSOLO.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Solo mulai dievaluasi terkait cakupan wilayah. Pemkot Solo yang selama ini lebih berperan pada fungsi koordinasi dan pengawasan, belakangan diminta menyiapkan lahan untuk pengelolaan MBG langsung dari pemerintah.
“Kemarin kami juga diminta untuk menyiapkan lahan untuk pemerintah sebagai operator sendiri. Jadi tidak hanya sebagai koordinasi dan supervisi, tapi juga sebagai pengelola yang menyajikan langsung,“ terang Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo Dwi Ariyatno.
Namun, menurut Dwi, belum menjadi prioritas Disdik untuk menyiapkan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur MBG sebagai operator penyaji MBG. Menurutnya, pelaksanaan MBG oleh pihak swasta sejauh ini berjalan baik.
“Kita cukup ngawasi saja karena mekanismenya, Disdik sendiri hanya menyiapkan data sasaran (penerima manfaat MBG). Jadi SD itu jumlahnya berapa? Murid-murid dan segala macam. Terus nanti zonanya atau wilayahnya itu batasnya di mana,” terangnya.
Dwi mengatakan, pemerintah kota selama ini lebih berperan pada fungsi koordinasi dan pengawasan, sementara penyediaan layanan banyak dijalankan oleh pihak swasta.
“Kalau di Solo potensinya besar dari pihak swasta karena aksesnya mudah. Dapur-dapur MBG ditempatkan di dalam kota, dekat dengan sekolah-sekolah yang berkelompok, sehingga distribusi lebih efisien,” imbuhnya.
Dwi menambahkan, selain pengawasan dan penentuan sasaran, disdik juga berperan dalam edukasi konsumsi makanan di sekolah. Hal ini untuk menjaga kualitas makanan agar tidak dibawa pulang dan berisiko menurun mutunya.
“Kalau soal penyajian, kandungan gizi, dan kapasitas dapur, itu sudah ada timnya sendiri dari Badan Gizi Nasional (BGN). Kita di kota memastikan distribusi merata, kualitas terjaga, dan edukasi sampai ke anak-anak,” tegas Dwi.
Menurut Dwi, Solo sejauh ini tidak mengalami kendala berarti dalam kalkulasi biaya maupun distribusi MBG. Kapasitas satu SPPG dapat melayani 4.000-6.000 siswa per hari.
“Baru beberapa tempat. Belum semuanya. Baru kemarin dievaluasi untuk cover areanya,” paparnya.
Dwi menyebut, hingga kini terdapat 11 SPPG yang beroperasi. Sementara di Kota Solo terdapat lebih dari 200 SD negeri dan swasta, 28 SMP negeri, sejumlah SMP swasta, hingga sejumlah SMA/SMK negeri dan swasta. “Kalkulasi data siswa di Dapodik (data pokok pendidikan) ada hampir 60 ribu siswa,” tandasnya. (zia/nik)
Editor : fery ardi susanto