RADARSOLO.COM-Kemampuan pelajar dalam mengolah dan memahami informasi sangat dibutuhkan seiring kemajuan teknologi digital.
Fenoma yang terjadi baru-baru ini, tidak sedikit pelajar terlibat dalam tindakan melawan hukum. Salah satu contohnya kasus kerusuhan yang terjadi di Kota Solo pada akhir Agustus lalu.
Polisi mengamankan sejumlah pelaku yang ternyata masih di bawah umur. Mereka sangat mudah terpengaruh ajakan melakukan perbuatan negatif yang disebarkan lewat media sosial.
Sebab itu, mengingat pentingnya pemahaman tentang literasi, SMPN 3 Jumantono, Karanganyar menggandeng Jawa Pos Radar Solo menggelar pelatihan jurnalistik.
Dalam kegiatan tersebut, ratusan murid SMPN 3 Jumantono diajak untuk mampu membedakan antara informasi di media sosial, serta berita yang disajikan di media arus utama.
“Produk jurnalistik akan menghasilkan berita, sedangkan medsos adalah informasi,” ujar Wakil Pemimpin Redaksi Radar Solo Tri Wahyu Cahyono dalam paparannya.
“Berita adalah informasi yang terkandung di dalamnya telah memenuhi unsur-unsur jurnalistik seperti 5W1H (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana),” imbuh dia.
Dengan begitu, berita di media massa yang tersaji akan berisi informasi detail tentang suatu kejadian.
Sedangkan di media sosial, informasi yang disampaikan tidak lengkap. Contohnya hanya menyebutkan keterangan singkat "Ada kecelakaan yang menyebabkan tiga orang terluka” namun tidak dijelaskan siapa orangnya, asalnya dari mana, kronologis, dan sebagainya.
“Kalian juga harus paham mana berita hoax dan yang fakta. Artinya, informasi di media sosial jangan ditelan mentah-mentah tanpa dicermati lebih detail,” kata Tri Wahyu.
Karena itu, para pelajar harus menguasai literasi secara baik sehingga dapat berpikir lebih kritis, serta tidak mudah percaya dengan informasi di media sosial.
Sementara itu, Kepala SMPN 3 Jumantono Kusnul Chotimah, S. Pd mengapreasiasi kegiatan pelatihan jurnalistik yang dilaksanakan bareng Jawa Pos Radar Solo.
“Terima kasih Radar Solo mudah-mudahan kegiatan ini semakin menginspirasi dan membuka wawasan anak-anak untuk bercita-cita yang lebih tinggi lagi,” harapnya.
Ditambahkan Kusnul Chotimah, kegiatan pelatihan jurnalistik sekaligus mengisi jeda semester Tahun Pelajaran 2025/2026 semester I.
“Dari kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman anak-anak kami terhadap literasi. Terutamanya semakin gemar membaca, gemar menulis, dan bisa bermedia sosial dengan bijak. Tidak kalah pentingnya memanfaatkan media sosial dengan baik dan bertanggung jawab,” bebernya.
Revalina Jihan Suci Anggraini, salah seorang siswi peserta pelatihan jurnalistik mengaku mendapat banyak wawasan dari kegiatan tersebut.
“Kegiatan jurnalistik sangat berkesan dan baik. Semoga dikemudian hari bisa dilaksanakan kembali,” pungkas siswi kelas IXA SMPN 3 Jumantono tersebut. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono