Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ini Misi Langkah Konkret Bondet Wrahatnala dalam 100 Hari Kerjanya Usai Dilantik Sebagai Rektor ISI Surakarta

Antonius Christian • Senin, 13 Oktober 2025 | 21:35 WIB
BERSINERGI: Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Bondet Wrahatnala (tengah) saat menggelar coffee morning bersama awak media, Senin (13/10/2025)
BERSINERGI: Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Bondet Wrahatnala (tengah) saat menggelar coffee morning bersama awak media, Senin (13/10/2025)

RADARSOLO.COM – Sepekan pasca dilantik sebagai Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Bondet Wrahatnala langsung menyiapkan langkah konkret untuk 100 hari kerjanya. Fokus utamanya, yakni membangun pondasi perubahan di tubuh kampus seni tersebut.

Bondet menegaskan, agenda pertama yang akan segera diselesaikan adalah pembentukan kabinet baru.

Sejumlah posisi penting seperti wakil rektor, direktur pascasarjana, wakil direktur, ketua dan sekretaris lembaga akan segera diisi karena masa jabatan mereka berakhir pada 31 Oktober mendatang.

 “Untuk penentuan kabinet, nanti wakil rektor, direktur pasca, wadir pasca, ketua lembaga dan sekretaris lembaga itu SK-nya akan habis 31 Oktober. Jadi itu yang pertama harus dikerjakan,” jelas Bondet setelah menggelar coffee morning bersama awak media, Senin (13/10/2025).

Setelah restrukturisasi di tingkat pusat, pembenahan akan dilanjutkan ke tingkat fakultas dan pusat penelitian yang dijadwalkan rampung antara Desember hingga Januari mendatang.

“Intinya, kami akan merangkul semua pihak. Parameternya adalah kompetensi,” tegasnya.

Dalam 100 hari pertamanya, Bondet menekankan pentingnya membangun pondasi perubahan yang kokoh agar program jangka panjang bisa berjalan efektif. Salah satu fokus utamanya adalah mendorong hasil riset dan karya seni agar bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan industri.

Selama ini, menurutnya, banyak produk riset dari sivitas akademika ISI yang berhenti di meja kerja atau tersimpan di perpustakaan tanpa memberikan dampak nyata. 

“Kami ingin hasil riset dan karya seni benar-benar bisa digunakan masyarakat. Kalau peminatnya besar, kenapa tidak kita kerja sama dengan industri?” ungkapnya.

Bondet menilai, kemitraan antara kampus dan dunia industri menjadi kunci agar produk seni dapat dikembangkan lebih luas. Dia berencana membangun ekosistem hilirisasi riset di ISI Surakarta, termasuk menyiapkan regulasi soal lisensi dan pembagian hak kekayaan intelektual (HKI).

“Nanti akan kita atur pembagian lisensi. industri dapat berapa, kampus dapat berapa, penelitinya dapat berapa. Ini juga bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan dalam skema BLU,” ujarnya.

Dalam bidang akademik, Bondet membawa semangat baru. Dimana Kurikulum akan diarahkan agar tidak hanya menghasilkan lulusan kreatif, tetapi juga mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

“Kami akan melakukan revisi dan penyesuaian kurikulum agar lebih transformatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” terangnya.

Selain aspek akademik dan hilirisasi riset, Bondet juga menyoroti tantangan besar di bidang tata kelola dan penguatan SDM. Sebagai perguruan tinggi negeri dengan status Badan Layanan Umum (BLU), ISI Surakarta perlu memperkuat regulasi dan sistem kerja agar lebih adaptif.

“Tata kelola ini jadi PR besar, tidak hanya di ISI tapi juga di banyak perguruan tinggi negeri lainnya. Kita akan susun regulasi penataan SDM agar tiap posisi diisi oleh orang yang benar-benar kompeten,” jelasnya.

Bondet juga mendorong pengembangan unit bisnis dan kewirausahaan seni di lingkungan kampus. Konsep pembelajaran berbasis wirausaha akan dimasukkan dalam kurikulum agar mahasiswa terbiasa mengembangkan ide kreatif menjadi produk bernilai ekonomi.

Dengan sejumlah agenda tersebut, Bondet ingin memastikan ISI Surakarta melangkah ke arah yang lebih produktif, terbuka, dan berdampak nyata.

“Pondasi perubahan menjadi hal utama. Setelah itu, baru kita berlari bersama-sama. Saya yakin, dengan kolaborasi dan kompetensi yang kuat, ISI Surakarta bisa menjadi kampus seni yang bukan hanya mencipta, tapi juga memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#isi surakarta #Bondet Wrahatnala #rektor