RADARSOLO.COM - Magis lantunan gamelan menyelimuti Pendapa GPH. Joyokusumo, Rabu (15/10) pagi. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali melepas 578 lulusan pada Wisuda Periode II Tahun 2025, dari jenjang sarjana, sarjana terapan, magister, hingga doktor.
Dalam balutan busana kebesaran kampus, para wisudawan tampak memesona. Mahasiswi anggun dengan kebaya bludru hitam polos, sedangkan para mahasiswa gagah berbalut beskap kejawen Jawi jangkep lengkap dengan blangkon Solo Kasunanan.
Busana-busana tradisional itu menambah suasana sakral dan penuh hikmat di Pendapa GPH. Joyokusumo. Sekaligus mempertegas karakter kampus seni yang menjunjung tinggi nilai budaya Jawa.
Usai prosesi Senat usai, mata para hadirin dimanjakan oleh Tari Sesaji ditampilkan sebagai persembahan pembuka. Disusul dengan prosesi pengalungan samir dan penyerahan ijazah kepada para lulusan.
Dari seluruh lulusan, 184 wisudawan memperoleh predikat cumlaude. Rata-rata indeks prestasi kumulatif (IPK) program sarjana 3,53 dengan masa studi maksimal sembilan semester.
Dengan masa studi serupa, program sarjana terapan mencapai IPK rata-rata 3,68. Sementara program magister menorehkan IPK rata-rata 3,85 dengan masa studi empat semester. Lalu program doktor mencatatkan IPK rata-rata 3,87 dengan masa studi delapan semester.
Dalam sambutannya, Rektor ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan yang telah menuntaskan perjalanan akademiknya dan berhak menyandang gelar Sarjana, Sarjana Terapan, Magister, maupun Doktor.
"Hari ini adalah bukti nyata dari kerja keras, dedikasi, dan ketekunan kalian. Momentum ini tidak sekadar menjadi akhir dari sebuah perjalanan, tetapi juga gerbang awal menuju babak baru kehidupan," ucap Dr. Bondet.
Sebagai Rektor anyar, Dr. Bondet memandang wisuda bukan hanya sebagai perayaan keberhasilan akademik, namun juga titik tolak bagi para seniman muda dan pelaku budaya untuk menapaki dunia yang penuh peluang dan tantangan baru.
"Lulusan ISI Surakarta bukan hanya membawa pengetahuan dan keterampilan seni, tetapi juga amanah besar untuk menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat. Kalianlah penjaga nilai-nilai budaya bangsa yang terus menghidupkan warisan tradisional, sekaligus pionir dalam menggabungkan kreativitas seni dengan kemajuan teknologi digital," sambungnya.
Dr. Bondet juga mengimbau para seniman muda dan pelaku untuk terus berinovasi dan mengekspresikan ide secara luas di era modern yang serba digital ini. Menurutnya, dunia maya kini bisa menjadi panggung global tempat karya-karya seniman dapat dikenal dan menginspirasi banyak orang.
"Gunakanlah kesempatan ini untuk memperluas jangkauan karya kalian, membangun jejaring, dan memberi dampak positif melalui seni," ungkapnya.
"Namun, di balik kemajuan teknologi, tanggung jawab untuk melestarikan seni tradisi tetap melekat pada diri kalian. Padukanlah kearifan lokal dengan
pemikiran global, agar tradisi tetap hidup dan terus berkembang sesuai zaman," sambungnya. (nis/nik)