Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Fenomena Job Hugging di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Ini Tanggapan Pakar

Alfida Nurcholisah • Rabu, 22 Oktober 2025 | 16:10 WIB
Pengamat Ekonomi Ketenagakerjaan Achmad Sjafii
Pengamat Ekonomi Ketenagakerjaan Achmad Sjafii

RADARSOLO.COM – Fenomena job hugging atau kecenderungan individu bertahan di pekerjaan meski tidak lagi bahagia, produktif, maupun berkembang, kini menjadi perhatian di dunia kerja. Fenomena ini banyak dialami pekerja saat ini.

Pengamat Ekonomi Ketenagakerjaan Achmad Sjafii menjelaskan, job hugging sejatinya bukan fenomena baru. Hanya saja, istilah ini kembali mencuat seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

“Sekarang mempertahankan pekerjaan saja sudah sulit, apalagi mencari yang baru. Jadi mereka berpikir sing penting iso mangan (yang penting bisa makan). Rasa aman itulah yang akhirnya membuat mereka bertahan,” ujarnya, Senin (20/10).

Menurut Sjafii, perubahan ekonomi yang dinamis membuat pasar kerja semakin kompetitif. Banyak pekerja akhirnya memilih tetap bertahan di tempat kerja meski tidak lagi merasa puas. Namun keputusan itu justru dapat berdampak negatif terhadap motivasi dan produktivitas.

“Kalau seseorang tidak bahagia di pekerjaannya, kinerjanya pasti menurun. Kalau sudah begitu, performa perusahaan pun ikut terdampak,” imbuhnya.

Fenomena job hugging, lanjut Sjafii, menunjukkan bahwa ketidakpuasan individu di tempat kerja bisa berimbas lebih luas. Sebab itu, tanggung jawab mengatasi masalah ini tidak bisa dibebankan kepada pekerja semata.

Perusahaan, kata Sjafii, perlu menciptakan lingkungan kerja yang adaptif dan suportif, salah satunya melalui program pelatihan dan pengembangan keterampilan berkelanjutan. Dengan begitu, karyawan merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk berkembang.

Sementara itu, pemerintah memiliki peran strategis dalam mendorong kebijakan pengembangan sumber daya manusia (SDM), seperti penyediaan pelatihan kerja, insentif bagi perusahaan yang meningkatkan kompetensi karyawan, hingga kampanye pentingnya pengembangan diri di era pasar kerja modern.

“Pelatihan itu mahal. Kadang perusahaan tidak punya anggaran atau arah strategis yang jelas. Di sisi lain, anggaran pelatihan pemerintah juga terbatas, jadi hanya menjangkau segelintir orang,” jelasnya.

Meski begitu, Sjafii menegaskan bahwa perubahan sejati tetap bergantung pada kesadaran individu. Setiap pekerja perlu memiliki kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi agar tidak terjebak dalam rutinitas monoton.

“Individu, perusahaan, dan pemerintah harus bersinergi. Tujuannya bukan hanya agar pekerja bertahan, tetapi juga berkembang dan berdaya di tengah ketidakpastian ekonomi,” ujarnya. (alf/bun)

 

Editor : Niko auglandy
#ketenagakerjaan #pakar #job hugging