RADARSOLO.COM – Peringatan Hari Santri Nasional 2025 diwarnai dua momentum penting di Solo Raya. Di Kota Solo, ratusan pengurus dan santri pondok pesantren mendeklarasikan dukungan terhadap program pesantren ramah anak.
Sosialisasi Pesantren Ramah Anak diadakan di Masjid Agung Solo, yang diinisiasi Kementerian Agama (Kemenag) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo, Rabu (21/10).
Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran bersama untuk mewujudkan lingkungan pesantren yang aman, bersih, dan bebas kekerasan.
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo Ahmad Ulin menjelaskan, pesantren ramah anak ditandai dengan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendidik.
“Guru harus bisa jadi teladan, ada pendamping curhat bagi santri, lingkungan bersih dan sehat, serta tidak ada perundungan,” ujarnya saat pemaparan materi.
Ia menekankan pentingnya penghapusan kekerasan di lingkungan pondok. “Bullying memberikan rasa tidak aman bagi santri. Karena itu, setiap pesantren perlu membentuk Satgas Anti Kekerasan,” tegasnya.
Ahmad Ulin mencontohkan Ponpes Al Muayyad, tempat ia belajar, yang telah memiliki Satgas Anti Perundungan (Saruangan) dan menjalankan program Jogo Santri.
“Program seperti ini bisa dicontoh untuk menciptakan pondok yang ramah dan mendukung tumbuh kembang santri,” tambahnya.
Kepala Bidang DP3AP2KB Kota Solo Siti Dariyatini menyebut, 350 pengurus dan santri pesantren di Solo telah mendeklarasikan diri sebagai Pesantren Ramah Anak.
“Harapannya, deklarasi ini diikuti dengan komitmen nyata agar pondok benar-benar menjadi tempat yang aman bagi anak,” ujarnya.
Selain sosialisasi, kegiatan juga diisi apel Hari Santri dan penanaman bibit tanaman lidah mertua di setiap pesantren sebagai simbol lingkungan hijau dan sehat.
Pengurus Ponpes Tahfidzwa Ta'limil Quran Binta Reva mengapresiasi inisiatif ini.
“Kekerasan bisa merusak mental santri. Pondok harus bisa membuktikan bahwa belajar agama bisa dilakukan di tempat yang nyaman,” ujarnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto