RADARSOLO.COM – Pendidik sebaya adalah program inisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (BP3AP2KB) Kota Solo. Program ini bekerja sama dengan Yayasan Kakak untuk cegah kekerasan dan bullying di sekolah.
Di Solo sudah ada empat sekolah yang tergabung sebagai Pendidik Sebaya, yaitu SMPN 16, SMPN 5, SMPN 11 dan SMPN 21.
Kepala SMPN 21 Surakarta Wegang Sulanjari mengungkapkan, program ini sangat bermanfaat bagi siswa dan sekolah. Menurutnya, sekolah rentan akan munculnya kasus bullying, kekerasan, dan narkoba.
"Karena sekolah kita berada di lingkungan padat penduduk, pinggir kali, dan secara aspek ekonomi masih kurang atau di bawah. Jadi sangat rentan untuk masalah tersebut," jelasnya, Senin (27/10).
Pendidik Sebaya diimplementasikan dalam berbagai kegiatan seperti pelatihan edukasi kekerasan, workshop, dan sosialisasi kepada siswa.
"Minggu lalu kami adakan pelatihan, mereka belajar bagaimana bilang tidak untuk hal-hal yang berbau kekerasan. Terkadang siswa lebih nyaman cerita kepada temannya, untuk itu adanya program ini bisa menjadi pembelajaran sekaligus pencegahan sejak dini," jelas Wegang.
Edukasi ini memberikan pengetahuan tentang pentingnya tutor sebaya untuk mengantisipasi masalah-masalah siswa yang enggan diceritakan ke guru maupun orang tua. Teman dukung teman jadi salah satu slogan utama mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa.
Wegang menambahkan, berdasarkan survei yang dilakukan sekolah, program ini menurunkan tindak kekerasan yang terjadi di sekolah.
"Sebelumnya memang banyak aduan yang masuk, entah itu dari siswa sendiri atau temannya yang melaporkan tindak kekerasan seperti bullying, kekerasan verbal, maupun fisik. Belakangan ini aduan yang kami terima semakin berkurang," ungkapnya.
Tidak hanya sosialisasi, program ini ditindaklanjuti dengan optimalisasi duta anti bullying, duta anti kekerasan, hingga program "Rabu Ceria". Setiap Rabu, setiap kelas bergiliran menampilkan sajian seni bertemakan anti bullying, pergaulan bebas, hingga narkoba.
"Sekolah sudah memiliki SOP penanganan tindak kekerasan dan bullying, diawali dengan bilik aduan yang kami sediakan dalam bentuk digital," jelasnya. (alf/nik)
Editor : fery ardi susanto