RADARSOLO.COM Tidak banyak panti asuhan yang bersedia menerima bayi maupun balita untuk dirawat. Apalagi asal-usul mereka abu-abu. Kondisi tersebut mendorong Dr. H. Mundhofir mendirikan Pesantren Yatim Balita Adhsa Sukoharjo.
Sore itu, Mundhofir duduk bersila di hadapan puluhan anak. Mengajak mereka bernyanyi dan mengaji. Menjadi ayah bagi anak-anak yang mungkin tidak sempat melihat wajah orang tuanya.
Keakraban itu menjadi pemandangan sehari-hari di Pesantren Yatim Balita Adhsa di Jalan Gringsing No.21, Gambiran, Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Dengan kasih sayang Mundhofir dan tenaga pengajar, anak-anak di Pesantren Yatim Balita Adsha tetap ceria. Mereka juga bersekolah pada pagi harinya.
Pesantren Yatim Balita Adhsa yang didirikan pada 24 Februari 2017 menjadi oase yang didedikasikan khusus untuk merawat anak-anak telantar sejak lahir hingga usia lima tahun.
"Mereka, anak-anak bayi juga berhak untuk mendapatkan kehidupannya. Namun panti-panti biasanya menerima anak-anak yang usia 7 tahun ke atas," ungkap Mundhofir, yang saat ini menjadi dosen pendidikan agama Islam (PAI) di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Solo.
Pesantren Yatim Balita Adhsa didirikan Mundhofir murni berdasarkan panggilan kemanusiaan. Penggunaan kata Pesantren dipilih untuk menghindari konotasi negatif yang tak jarang dilekatkan pada panti asuhan biasa, sekaligus untuk memberikan nuansa pembinaan spiritual yang kuat.
"Spirit kami adalah bagaimana anak ini membutuhkan kehadiran seorang ayah. Maka kami Bismillah bertekad merawat mereka, sebagai pengganti figur orang tua,” terangnya.
Secara finansial, merintis Pesantren Yatim Balita Adhsa penuh tantangan. Pendanaan murni berasal dari kantong pribadi Mundhofir. "Terus terang memang dari gaji kami, dari penghasilan kami, dulu saya guru TK, Kepala TK," kenangnya.
Mundhofir menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menanggung biaya operasional Pesantren Yatim Balita Adhsa. Seiring waktu, dukungan para donator mengalir.
Bahkan, gedung yang ditempati saat ini telah diwakafkan oleh seorang dermawan. Bukti bahwa idealisme Mundhofir membuahkan kepercayaan publik.
Butuh tekad dan kesabaran ekstra menjadi “ayah” dari anak-anak asuh di Pesantren Yatim Balita ADHSA yang memiliki latar belakang beragam dan memilukan. Hampir semuanya bermuara pada penelantaran.
"Ada yang tahu-tahu ditaruh di depan pesantren dengan kondisi masih ada ari-arinya. Ada yang memang hasil rescuing dari dinas sosial," paparnya.
Tidak kalah pilunya kisah anak yang dieksploitasi. Dijadikan alat untuk menarik simpati masyarakat saat mengemis.
"Dengan kondisi bayi yang memprihatinkan, kurus kering, ternyata dinas sosial melihat itu bukan anaknya," ujarnya.
Tantangan lainnya, tidak sedikit bayi yang masuk dalam kondisi "kosongan". Tanpa identitas dan asal-usul yang jelas. Kondisi ini membuat Pesantren Yatim Balita Adhsa rawan fitnah, mulai dari tuduhan eksploitasi hingga jual-beli bayi.
"Kami kan punya tanggung jawab untuk menelusuri sampai bayi dapat akta, sampai dapat identitas," tegas Mundhofir.
Solusi yang diambil adalah memasukkan akta kelahiran dan kartu keluarga anak-anak ini ke dalam naungan keluarga para pengasuh Pesantren Yatim Balita Adhsa, agar hak sipil mereka terpenuhi.
Setelah masalah administrasi teratasi, Mundhofir menghadapi tantangan baru. Biaya kesehatan yang tidak terduga. Karena banyak anak yang belum memiliki identitas resmi, sehingga mereka belum bisa diback-up BPJS Kesehatan.
"Makanya kami hanya berdoa mudah-mudahan tidak kena penyakit yang sifatnya kronis," harap Mundhofir.
Selain dirawat bak anak sendiri, anak-anak di Pesantren Yatim Balita Adhsa mendapatkan tiga jenis pendidikan. Yakni informal berupa pembinaan spiritual seperti mengaji, sholat, dan sebagainya.
Pendidikan formal: anak disekolahkan ke institusi formal (KB, TK, SD, SMP), serta mendapatkan pendidikan volasi berupa pembekalan keterampilan untuk kemandirian pasca-SMA.
Anak asuh akan dirawat hingga tuntas, yang berarti sampai mereka benar-benar mandiri, memiliki pekerjaan, bahkan menikah. Saat ini, anak tertua di Pesantren Yatim Balita Adhsa sudah menginjak kelas 3 SMP.
"Harapan kami, anak-anak menjadi orang yang sukses, sesuai dengan minat, bakat, dan cita-citanya," ujar Mundhofir.
"Kami tetap meyakini pendidikan yang ideal tetap dalam sebuah keluarga. Tapi, kami mencoba untuk membuat mereka tetap memiliki masa depan cerah," ujarnya.
Atas dedikasi dan konsistennya dalam merawat para balita telantar itu Jawa Pos Radar Solo menganugerahkan penghargaan Top Inspirator Pengasuh Anak Usia Dini dalam ajang Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025. (wa/bun)
Editor : Kabun Triyatno