RADARSOLO.COM – Hari Wayang Dunia (HWD) Ke-XI di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tahun ini menjanjikan perayaan budaya yang bersejarah dan penuh kejutan.
Mengusung tema filosofis "Cakra Manggilingan: Putaran Takdir Manusia", puncak acara akan menghadirkan pementasan wayang kulit serial epik yang kini jarang tersentuh. Didukung dengan kehadiran tokoh penting nasional.
Pembukaan HWD XI pada pukul 19.00 WIB direncanakan akan diresmikan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Republik Indonesia Restu Gunawan. Restu menegaskan dukungan pemerintah terhadap upaya pelestarian wayang.
Ketua Pelaksana HWD XI, Bimo Kuncoro menjelaskan, tema "Cakra Manggilingan" dipilih untuk mengajak publik merefleksikan siklus kehidupan. Serial pementasan utama yang diangkat adalah Serial Perang Ageng, sebuah narasi klasik yang diakui jarang dipentaskan oleh dalang saat ini.
”Serial ini adalah kekayaan narasi pedalangan yang harus kita lestarikan dan kenalkan kembali. Kami memilih lakon-lakon kunci seperti Guntarayana, Sari Kudhup Palwaga, Bratayudha, Gojali Suta, dan Pamuksa untuk menunjukkan kedalaman filosofi wayang,” ujar Bimo Kuncoro.
Dia menambahkan, penyaji (dalang dan seniman) telah dikurasi secara cermat untuk memastikan pementasan. Tidak hanya menguasai pakem, tetapi juga inovatif agar tetap relevan dengan selera audiens modern, khususnya generasi muda.
Dalam sesi yang akan menjadi sejarah baru HWD di ISI Surakarta, pihaknya membocorkan satu kejutan utama.
”Untuk pertama kalinya, salah satu artis yang akan mengisi panggung pembukaan HWD XI adalah Rektor ISI Surakarta sendiri Bondet Wrahatnala,” imbuh Halintar Cakra Padnobo, panitia anggota.
Penampilan rektor ini disebut sebagai simbol nyata bahwa wayang adalah jantung pendidikan seni di kampus tersebut, bukan sekadar mata kuliah.
Tak hanya itu, sebelum pementasan utama akan diadakan sesi Talkshow Budaya pada pukul 09.00 WIB. Topiknya "Wayang Bayangan Zaman Yang Terus Bergerak." Diskusi ini menghadirkan akademisi dan praktisi terkemuka. Di antaranya Rendra Agusta, Sunardi, dan R Bima Slamet Raharja.
Talkshow ini bertujuan untuk memicu dialog tentang bagaimana wayang dapat beradaptasi dan terus memberikan pesan moral di tengah derasnya arus modernisasi.
HWD adalah perayaan tahunan di ISI Surakarta yang didedikasikan untuk melestarikan dan mempromosikan seni wayang sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO melalui pementasan, diskusi, dan workshop. (alf/adi)
Editor : Niko auglandy