RADARSOLO.COM - Dari akademi, naik menjadi sekolah tinggi, lalu institut, hingga kini sah menyandang predikat universitas. Universitas Muhammadiyah PKU (UM PKU) Surakarta yang melesat dan sukses bertransformasi.
Transformasi kelembagaan di tubuh UM PKU telah melalui proses panjang dan matang. Ini merupakan loncatan strategis untuk melahirkan program studi, menjemput kebutuhan industri kesehatan hingga teknologi masa depan.
"Dengan perubahan menjadi universitas ini, kebermanfaatan UMPKU lebih luas. Kami bisa membuka banyak prodi yang prestisius dan ambisius, tidak hanya terbatas pada kesehatan, tetapi semua rumpun. Ini juga dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan stakeholder kami," ungkap Rektor UM PKU Surakarta Weni Hastuti.
Ada lima langkah strategis yang digodok setelah bertransformasi menjadi universitas, pertama, penguatan mutu akademik dan akreditasi institusi unggul.
Langkah tersebut ditempuh melalui implementasi IKU dan IKT yang berdampak langsung pada reputasi dan peringkat nasional.
"Lalu, digitalisasi dan smart campus. Semua layanan akademik dan nonakademik harus lebih cepat, mudah, dan efisien. Selanjutnya, peningkatan kolaborasi dan jejaring nasional-Internasional. Terutama bidang riset dan pengabdian," jelas Weni.
Strategi keempat adalah kemandirian finansial dan optimalisasi unit usaha. Bukan sekadar menghemat, tapi menciptakan nilai tambah. Praktis, UM PKU kedepan tidak hanya menggantungkan dari UKT mahasiswa pemasukan, tetapi mereka juga akan mengelola atau mengembangkan jenis-jenis usaha lainnya.
"Target kami secara finansial 30 persen operasional nanti bisa ditopang dari unit usaha, 70 persen dari UKT mahasiswa. Jadi arah pengembangnya ke holding business," lanjutnya.
Kelima, penguatan karakter dan spirit Muhammadiyah, supaya setiap langkah inovasi tetap berpijak pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
Dalam konteks revolusi industri 4.0, UM PKU Surakarta mengambil posisi tegas sebagai kampus kesehatan yang siap beradaptasi dengan perubahan teknologi. Weni menilai, perguruan tinggi wajib menjadi agent of change. Itu berarti seluruh sivitas akademika harus peka pada perkembangan digital yang terus melaju.
"Keniscayaan. Memang harus mengikuti perubahan. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) itu tidak bisa dihindari. Maka visi misi UM PKU itu salah satunya adaptif terhadap perkembangan teknologi," tutur Weni.
Bukannya melarang mahasiswa memakai AI atau berbagai perangkat digital. Weni menuturkan, mahasiswa seharusnya diarahkan agar mampu memanfaatkan teknologi dengan tetap mempertahankan daya kritis dan kreativitas.
"Jadi kami harus terus beradaptasi dengan perubahan-perubahan zaman. Kalau dosen tidak bisa mengikuti perkembangan akan ditinggal," sambungnya.
Perkembangan UM PKU di dunia pendidikan akhirnya membuat Jawa Pos Radar Solo mantap memberikan penghargaan kepada UM PKU sebagai Top Kampus Kesehatan Transformatif dan Inovatif dalam Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025, yang pemberian awarding dilakukan di Sunan Hotel (28/10).
“Terima kasih Radar Solo. Alhamdulillah kami mendapat penghargaan dari Radar Solo sebagai Top Rektor Visioner dan Top Kampus Kesehatan. Ini bukti kerja keras, keikhlasan, dan kerja cerdas dari sivitas akademika UM PKU Surakarta, bahwa perubahan transformasi dan inovasi bisa membawa perubahan pada dunia pendidikan dan kemanusiaan,” ungkap Rektor UM PKU Weni Hastuti.
Berani Melangkah, Bangun Prodi Prestisius dan Ambisius
Program Studi (Prodi) D4 Teknologi Rekayasa Elektromedis menjadi salah satu keunggulan Universitas Muhammadiyah PKU (UM PKU) Surakarta. Di balik keunggulan itu, terdapat jejeran effort yang harus ditempuh oleh kampus.
Keberanian UM PKU menggarap bidang elektromedis bukan lahir dalam semalam. Langkanya sumber daya manusia (SDM), mahalnya laboratorium, hingga dinamika regulasi justru menjadi bahan bakar untuk menghadirkan prodi unggulan yang dibutuhkan industri.
Rektor UM PKU Surakarta Weni Hastuti mengungkapkan, D4 Teknologi Rekayasa Elektromedis merupakan salah satu prodi prestisius dan ambisius. Bukan tanpa alasan, pendirian prodi baru melalui perjalanan panjang dengan berbagai dinamika di lapangan.
"SDM langka, sarpras luar biasa, semua peralatan kesehatan yang ada di rumah sakit itu harus ada di laboratoriumnya Elektromedis," sebut Weni.
Kala nomenklatur Elektromedis masih terbilang baru dan hanya hadir di Surabaya serta Jakarta, UM PKU gigih berburu dosen lulusan terbaik dari kampus-kampus teknik ternama. Syukurnya lagi, dukungan mitra rumah sakit turut mempercepat langkah.
"Mengapa prestisius? karena memang sangat tinggi cost-nya. SDM-nya sangat langka. Sarpras alhamdulillah-nya sangat dimudahkan. Beberapa rumah sakit, termasuk rumah sakit PKU menghibahkan alat-alat kesehatan kepada kami. Bahkan RS Tugurejo milik Provinsi Jawa Tengah di Semarang juga menghibahkan senilai Rp 11 miliar," sebutnya.
"Sebentar lagi, kami juga mendapat hibah dari RS Sardjito Yogyakarta. Ada dua alat yang nilainya Rp 8 miliar," lanjutnya.
Luar biasa merupakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan respons industri terhadap lulusan D4 Teknologi Rekayasa Elektromedis. Mahasiswa angkatan pertama bahkan sudah mendapat banyak permintaan sebelum lulus.
"Memang langka. Waktu angkatan pertama belum banyak mahasiswanya, tapi sekarang sudah 160 angkatan ini saja," beber Weni.
Setiap pembukaan prodi baru diawali riset menyeluruh berbasis SWOT dan pemetaan regulasi yang bisa menjadi acuan. Bagi UM PKU, aturan pemerintah bukan ancaman, melainkan peta peluang.
"Kami analisa dulu regulasinya. Saat profesi baru muncul di Permenkes atau sudah diakui MenPANRB, di situ terlihat peluangnya. Tidak cukup hanya meluluskan, profesinya harus sudah siap diakui,” ucap Weni.
Seluruh elemen kepentingan sektor kesehatan turut dikumpulkan. Mitra rumah sakit diundang dan diajak memetakan kebutuhan SDM kesehatan terkini. Bukan hanya prodi anyar, tapi juga memberi masukan bagi prodi yang sudah berjalan. UM PKU ingin memastikan lulusan selalu relevan dengan pasar, kini hingga beberapa tahun ke depan.
Keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di kampus ikut memperkuat daya saing. Jika industri membutuhkan perawat dengan keunggulan bahasa Inggris atau service excellence, maka skema kompetensinya segera ditambahkan. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy