RADARSOLO.COM – Arah pengembangan SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat berangkat dari kebutuhan zaman. Dunia yang kian dinamis menuntut sekolah untuk terus beradaptasi. Jawabannya adalah menerapkan konsep smart school dalam setiap proses belajar-mengajar.
Pengimplementasian ini selaras dengan kurikulum syariah yang dijalankan oleh SD Muhammadiyah PK Kottabarat. Kurikulum tersebut mencakup lima elemen utama, yakni Al-Qur’an, hadis, kurikulum nasional, alam Indonesia, dan perkembangan internasional. Artinya, meski berakar di Solo dan bernapaskan nilai-nilai Islam, sekolah ini tetap membuka diri terhadap perkembangan dunia internasional.
"Hari ini, secara global yang menjadi key point adalah teknologi. Mulai dari teknologi, dan yang kedua adalah bahasa internasional. Untuk teknologi, di abad ini sudah seperti mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam kehidupan kita, teknologi itu sangat luar biasa," ucap Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat Nursalam kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di kantornya, Rabu (8/10).
Inilah salah satu alasan mengapa sekolah mengambil jalur smart learning. Dari pengaplikasiannya, SD Muhammadiyah PK Kottabarat juga mampu menekan penggunaan kertas alias paperless. Selama ini, kebutuhan kertas di lingkungan sekolah terbilang sangat besar.
"Mulai dengan paperless, kemudian penggunaan teknologi. Memaksimalkan teknologi yang juga berpengaruh pada pengembangan guru. Bagaimana guru bisa memanfaatkan teknologi untuk mengajar, dan bagaimana anak bisa bereksplorasi dengan itu," jelasnya.
Di ruang kelas, secara bertahap sekolah tak lagi memaksimalkan LCD. Mereka menggunakan smart TV sebagai pengganti. Dengan begitu, guru dan siswa bisa bereksplorasi dalam pembelajaran, mencari model pembelajaran yang menarik, dan membuat anak-anak lebih antusias.
"Dengan kondisi itu, kami mencoba beradaptasi secara bertahap. Jadi kita lakukan step by step," sambungnya.
SD Muhammadiyah PK Kottabarat memaksimalkan perkembangan dunia digital, namun tidak sepenuhnya. Perlu diingat bahwa scope mereka adalah anak-anak SD, maka beberapa hal tetap dipertahankan dalam bentuk paper.
"Sebagai contoh, anak-anak tetap menulis di buku. Karena menulis itu bagian dari terapi. Kami bisa melihat kualitas tulisan anak akan menjadi kepribadiannya. Tapi di sisi lain, digital juga memberi pembelajaran yang lebih menarik bagi mereka," tambahnya.
Jadi, anak-anak mulai terbiasa dengan teknologi sejak dini. Sekolah mengajarkan bagaimana mereka bisa mencari memaksimalkan teknologi, namun tetap diarahkan agar tidak bergantung sepenuhnya pada tablet atau gawai.
Sistem digital yang digunakan bernama SIM atau Sistem Informasi Manajemen. Selain itu, ada juga Si PeKa, Sistem Informasi Program Khusus. Melalui sistem ini, setiap siswa dan guru dibekali id card yang dikenal dengan PK Excellent Card 4 (PK ExCard 4) sebagai identitas sekaligus akses ke berbagai layanan sekolah, yaitu presensi kehadiran, peminjaman buku perpustakaan, pemeriksaan di UKS, dan belanja di koperasi sekolah.
Nursalam menambahkan, sistem ini juga meringankan beban guru dan sekolah. Biasanya, dalam membuat rencana pembelajaran, guru harus menulis, mencetak, lalu menandatangani. Sekarang tidak perlu lagi, karena cukup dibuat dan diunggah ke SIM.
"Sebagai pimpinan, kami cukup memeriksa di sistem. Tinggal membuka apakah guru sudah mengunggah atau belum, semua bisa dipantau secara digital," bebernya.
"Guru juga cukup membuka aplikasi, mengisi data, bisa juga menambahkan foto atau selfie sebagai bukti kegiatan. Sistem akan merekam otomatis. Jadi kami bisa tahu siapa guru yang masuk, jam berapa, dan ada bukti foto serta jurnalnya," imbuhnya.
Selain itu, orang tua juga bisa memantau langsung aktivitas anak. Mulai dari catatan ibadah atau hafalan, rapor nilai, hingga transaksi di koperasi sekolah melalui kartu digital. Seperti diketahui, SD Muhammadiyah PK Surakarta telah menerapkan sistem cashless.
Soal fasilitas, SD Muhammadiyah PK Surakarta telah dilengkapi jaringan internet dan perangkat tablet untuk mendukung pembelajaran digital. Sementara itu, data siswa dan orang tua dijaga dengan sangat ketat demi keamanan dan kerahasiaan.
Karena program dan inovasi yang dibuatnya, Jawa Pos Radar Solo akhirnya cukup mantan memberikan penghargaan kepada SD Muhammadiyah PK Surakarta untuk kategori Top Smart School and Digital Learning dalam acara Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025.
“Terima kasih kepada Radar Solo yang telah memberikan penghargaan kepada SD Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta. Keberhasilan ini tentunya bukan dari diri sendiri, tetapi atas kerja sama semua pihak,” ungkap Nursalam.
Adaptif di Era Society 5.0
Integrasi kurikulum nasional dan internasional merupakan salah satu keunggulan SD Muhammadiyah PK Kottabarat. Menggabungkan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum ISMUBA, yang diperkaya materi internasional dari McGraw Hill Education berbasis digital resources.
Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat Nursalam menjelaskan, Kurikulum Merdeka, Kurikulum ISMUBA, dan kurikulum internasional itu saling terkait. Muhammadiyah hari itu sudah mempunyai kurikulum sendiri, dan itu tidak terpisahkan.
"Kalau dulu itu ada kurikulum nasional, ada ISMUBA yang masing-masing itu terpisahkan. Sementara sekarang bagian itu yang tidak terpisahkan, termasuk (kurikulum) internasional," jelasnya.
Menurut Nursalam, core pembelajaran tetap berakar pada nilai-nilai Al-Islam, Muhammadiyah, dan Bahasa Arab. Ambil contoh ketika anak belajar IPA, misalnya tentang anatomi tubuh, mereka tidak hanya mengenal bentuk tulang, tapi juga memahami bahwa tubuh adalah ciptaan Allah yang wajib dijaga.
"Cara menjaganya dengan apa? Contoh dengan duduk yang benar. Agar apa? Agar tulang itu tidak skoliosis dan lain sebagainya. Maka duduk yang benar itu bentuk syukur kita kepada Allah, merawat tubuh kita," lanjutnya.
Nilai-nilai ketauhidan juga disisipkan dalam pelajaran umum, seperti matematika. Umpamanya, satu plus satu sama dengan dua.
Pembelajarannya tidak cukup di situ, melainkan anak diajak berpikir bahwa ketika mereka melakukan kebaikan satu, dan kebaikan satu lagi. Maka Allah akan menambah kebaikanmu.
"Artinya, konsep penambahan bisa kami sisipkan, integrasikan dalam kondisi ketauhidan," paparnya.
"Jadi anak itu belajar penambahan itu tidak sekadar hanya penambahan angka saja, tetapi juga mengajak mereka berpikir, dosaku bertambah atau berkurang ya. Itu bisa menjadi bagian refleksi dari anak-anak," lanjutnya.
Integrasi kurikulum tersebut juga diimplementasikan dalam kegiatan field trip. Kegiatan di luar kelas yang tidak hanya menjadi ajang refreshing, namun juga penguatan materi.
"Bukan sekadar keluar, tetapi itu rangkuman dari materi. Satu semester ini, kira-kira materinya apa? Kalau ternyata kelas satu materinya adalah mengenal tempat-tempat umum. Maka field tripnya mungkin ke pasar, ke kantor pos," tuturnya.
Dari sana, anak-anak akan belajar banyak hal. Termasuk adab. Bagaimana adab ketika menaiki kendaraan, bagaimana adab ketika bertemu dengan orang lain, dan lain sebagainya. Itulah yang coba dilakukan SD Muhammadiyah PK Kottabarat.
"Kalau misal ada perjalanan jauh. Kami mengenalkan kepada anak-anak soal qasar. Sebenarnya ini baru diterima anak anak kelas 3 atau 4. Tapi kelas 1-2 sudah kami kenalkan," ungkapnya.
Menjawab tantangan era society 5.0, sekolah bersikap adaptif. Nursalam mengungkapkan, ketika ada perkembangan baru maka kewajiban mereka adalah mempelajari dulu.
"Society itu apa sih? 4.0 dan 5.0 itu apa sih? Kita bisa melakukan apa? Kita tidak mungkin akan kembali ke masa lalu. Dan kita juga tidak mungkin tidak akan berubah. Karena perubahan itu kan yang abadi katanya gitu kan. Maka setiap perubahan itu kita hadapi," ucapnya.
Tantangan-tantangan yang akan datang harus dihadapi. "Jadi ya sifatnya adaptif tadi. Intinya itu saja. Sebisa mungkin ya kita lakukan. Kita jalankan. Tetapi sesuai dengan porsi kita. Lingkup anak SD bukan universitas, jadi berbeda. Jadi mengikuti sesuai dengan porsi anak SD," pungkasnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy