RADARSOLO.COM - Menjadi mahasiswa sekaligus sebagai atlet tentunya harus siap membagi waktu antara kampus dan lapangan. Beruntungnya, Universitas Surakarta (UNSA) memberi kelonggaran. Dengan sistem pembelajaran fleksibel, mereka tetap bisa berprestasi tanpa meninggalkan akademik.
Kesibukan latihan dan padatnya kompetisi tak membuat para mahasiswa atlet tertinggal kuliah. UNSA memberi fleksibilitas akademik melalui sistem Learning Management System (LMS) yang mendukung dan membantu progres belajar mereka.
"Jadi setiap kali mahasiswa, baik reguler maupun atlet, semuanya kan juga harus mengikuti perkuliahan ya. Tentunya fleksibilitas yang dimaksud itu adalah keringanan dalam mereka menempuh perkuliahan," ucap Rektor UNSA Arya Surendra.
Katakanlah, mahasiswa atlet tengah menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) atau sedang panaskan mesin di klub masing-masing. Jika jadwal latihan berbenturan dengan jam kuliah, mereka tak perlu khawatir.
"Misalkan jadwalnya jam 8-12 ini mereka tidak bisa, maka bisa digantikan. Kalau di masa yang lampau biasanya digantikan oleh modul-modul. Kalau yang sekarang fleksibel, lebih enak dengan perkembangan informasi dan teknologi terkini," jelas Rio (sapaan akrab Arya Surendra).
Bagi mahasiswa UNSA sekaligus atlet tenis lapangan, Tegar Abdi Satrio Wibowo, dukungan kampus bukan hanya lewat kebijakan, tapi juga melalui perhatian dan pendampingan langsung dari dosen maupun pihak kampus.
"Yang paling terasa itu fleksibilitas waktu dalam perkuliahan. Fasilitas di kampus juga membantu perkembangan saya sebagai atlet. Semua dapat dikomunikasikan kepada Pak Rektor dan dosen pendamping juga. Setiap turnamen juga pasti ada support dari kampus. Entah itu dari biaya atau pengawas buat menemani," ucap penyabet medali perak nomor beregu SEA Games 2021 itu.
Senada, sesama atlet tenis lapangan, Lucky Candra juga merasakan dukungan yang sama. Tinggal bagaimana mereka sendiri yang mengaturnya. Lucky pun terbiasa menyusun jadwal harian agar antara kuliah dan latihan tidak saling bertabrakan.
"Dari dosen pun memudahkan. Dosen sudah tahu juga, jadi kami menginformasikan ke dosen, lalu kalau ada tugas-tugas bisa dikirim via e-mail," ucap penyabet medali emas double putra di POMNAS 2025 lalu tersebut.
Sebagai kampus pembina, UNSA tidak membatasi langkah mahasiswa atletnya. Kampus memberi kebebasan untuk berkembang sembari menjaga keseimbangan akademik.
Hal itu diungkapkan Alfin Farika, mahasiswa sekaligus atlet bola voli UNSA. Dia berharap semangat kompetitif di lingkungan kampus terus dipupuk agar prestasi makin meningkat.
"Harapan saya, frekuensi latihannya ditambah, persaingan di dalamnya bertambah juga. Makin ketat persaingannya, makin membara jiwa kompetisinya. Supaya kedepannya kampus makin berprestasi juga," ujar atlet bola voli itu.
Di lain sisi UNSA juga membentuk tim sepak bola yang terjun di kompetisi profesional. Tim putra UNSA FC musim lalu terjun di Liga 4.
Yang tak kalah menarik, tim sepak bola putri Unsa FC Women musim lalu berprestasi. Tim ini sukses jadi juara di ajang Piala Pertiwi Jateng, setelah di final berhasil mengalahkan PSIS Semarang Women di Demak.
Top Kampus Pembinaan Mahasiswa Atlet
Bukan sekadar mencetak sarjana, Universitas Surakarta (UNSA) juga membina dan melahirkan atlet berprestasi. Konsistensi itulah yang mengantarkan UNSA menyabet penghargaan Top Kampus Pembinaan Mahasiswa Atlet dalam Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025.
Bagi Rektor UNSA Arya Surendra, penghargaan ini bukan semata simbol. Melainkan juga pengakuan atas komitmen panjang kampus dalam membina potensi mahasiswa di sektor olahraga.
"Ini sebuah kehormatan dan sebuah pengakuan bahwa selain di sisi akademik, UNSA juga fokus di pembinaan minat dan bakat, terutama di bidang olahraga," ucap Rio -sapaan akrabnya- kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di kampus.
Pembinaan atlet sudah berjalan sejak awal UNSA berdiri. Bahkan menariknya, hal ini menjadi mainframe yang diwariskan antar-rektor sebagai komitmen pembinaan jangka panjang.
"Jadi memang program ini sudah berjalan lama dan sudah jadi kewajiban penerus-penerus UNSA, baik itu rektor sebelum saya atau rektor sesudah saya," sebutnya.
UNSA bukan hanya membuka ruang bagi mahasiswa atlet untuk berlatih dan bertanding, tapi juga membekali mereka dengan kemampuan akademik. Hal ini diproyeksi sebagai pegangan setelah masa keemasan karir di olahraga berakhir.
"Selain mengadakan seleksi, kami juga memberikan "sangu" berupa ilmu dan kesadaran tentang masa depannya. Mungkin masa atlet bisa sampai 15-20 tahun. Tapi setidaknya, kami memberikan suplemen ke mereka tentang bagaimana mereka harus menghadapi hidup," jelas Rio.
Pendekatan itu menjadi salah satu cara kampus membantu mahasiswa menyiapkan fase kehidupan pasca-atlet.
"Jadi misalkan si mahasiswa atlet itu akan pensiun, sudah ada bekal. Dia tidak mengulang dari nol lagi dari pendidikannya," sambung Rio.
Seiring berjalannya waktu, cabang olahraga (cabor) yang dibina UNSA semakin beragam. Dahulu mungkin hanya berfokus pada beberapa bidang, seperti tinju, bola voli, hingga sepak bola.
"Semakin ke sini kami semakin bermacam-macam. Bahkan kami ini sedang mencoba ke basket. Namun ini baru planning kedepannya," tutur Rio.
Pembinaan mahasiswa atlet di UNSA juga mendapat dukungan penuh dari sisi dana. Setiap tahun, Rio menjelaskan sudah menyiapkan pos anggaran tersendiri untuk kegiatan olahraga dan kompetisi mahasiswa.
Sekarang ini, ada 100 lebih mahasiswa UNSA yang menjadi atlet aktif di berbagai cabor. Rio percaya, keberhasilan pembinaan atlet tak hanya soal trofi, tapi konsistensi.
"Konsistensi itu adalah hal paling sulit. Konsistensi pembinaan, konsistensi program itu yang paling sulit. Kami ingin konsisten saja, seandainya konsistensi kami ini membuat UNSA akan semakin besar di aspek olahraga ini, ya syukur alhamdulillah. Tapi setidaknya kalau kami konsisten pasti saya yakin ada progres," tandas Rio.
Karena dedikasinya di dunia pendidikan Universitas Surakarta (UNSA) akhirnya menerima penghargaan di Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025 yang digelar di Sunan Hoten, 28 Oktober 2025, untuk kategori Top Kampus Pembinaan Mahasiswa Atlet.
“Terima kasih Radar Solo atas penghargaan untuk Universitas Surakarta (UNSA) di kategori Top Kampus Pembinaan Mahasiswa Atlet. Ini memang menjadi salah satu konsen kami. Semoga UNSA dan Radar Solo bisa lebih berkolaborasi lagi. Radar Solo Sakjosee,” ungkap Rektor UNSA Dr. Arya Surendra, S.E., M.M. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy