Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

PKBM Berdikari Fokus Tangani Anak Putus Sekolah, Tampung 500 Peserta Didik

Alfida Nurcholisah • Senin, 10 November 2025 | 01:18 WIB

 

SEKOLAH MALAM: Proses pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Berdikari.
SEKOLAH MALAM: Proses pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Berdikari.
 

 

RADARSOLO.COM - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Berdikari yang berlokasi di Kecamatan Banjarsari, menjadi salah satu lembaga pendidikan nonformal yang menampung ratusan warga belajar dari berbagai usia. Saat ini, tercatat sekira 500 peserta didik menempuh pendidikan di lembaga tersebut. Mayoritas berusia di atas 20 tahun.

Kepala PKBM Berdikari Alfi Susilowati mengungkapkan, tingginya angka putus sekolah di wilayah Surakarta terlihat dari banyaknya pendaftar baru setiap Minggu.

“Hampir setiap minggu selalu ada orang  yang datang mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikan di sini. Paling banyak kami tampung peserta didik yang terpinggirkan" ujarnya, Minggu (9/11/2025).

Lebih lanjut, dia memaparkan banyak peserta didik di sekolahnya yang berasal dari keluarga tidak mampu, yatim piatu, duafa, dan akibat orang tua yang abai terhadap pendidikan anak. Sekira 500 peserta didik dari paket A, B, C ditampung di sekolah ini. Namun tidak semua datang ke sekolah.

"Ciri khas sekolah PKBM ini kan fleksibilitas, jadi ada yang online, sekolah pagi, sekolah malam. Tapi untuk anak usia sekolah diwajibkan datang setiap Selasa-Jumat," jelasnya.

Baginya, kehadiran peserta didik dari anak tidak sekolah (ATS) merupakan angin segar bagi dunia pendidikan nonformal. Kewajiban PKBM untuk menaungi anak putus sekolah juga menjadi tanggung jawab moral bagi tenaga pendidiknya.

Salah satunya Joko Surono, pengajar khusus kelas malam ini mengaku senang bisa membantu belajar para peserta didiknya.

"Kalau di kelas malam itu memang lebih fleksibel menyesuaikan keadaan masing-masing peserta didik. Terkadang ada yang pulang kerja, lelah, sudah tua juga ada hingga usia 50 tahun. Jadi pr kami adalah bagaimana membuat suasana belajar ini bisa diterima oleh mereka," ungkap Joko.

Dia menggabungkan peserta didik dari kelas 10,11,12 yang tergabung dalam paket C untuk belajar bersama. Pembelajaran yang disampaikan juga dibuat semudah mungkin agar mudah diterima peserta didik.

"Misal belajar ekonomi, banyak dari mereka seperti linmas itu tidak tau apa itu produksi, distribusi, konsumsi. Tapi mereka paham praktiknya, tugas kita adalah memberikan dasar teorinya secara simple," terangnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, PKBM siap terus berupaya memberikan akses pendidikan terbaiknya seluas mungkin. Salah satunya dengan melakukan home visit bagi calon peserta didik yang sempat berhenti sekolah. Sebagai bentuk pendekatan personal agar mereka kembali termotivasi belajar.

“Tenaga pendidik kami sering turun langsung ke rumah-rumah untuk mengajak anak-anak yang berhenti sekolah agar mau melanjutkan. Kami berusaha meyakinkan bahwa pendidikan tetap penting, meski dilakukan lewat jalur nonformal,” tutur kepala sekolah.

Menurutnya, ada berbagai faktor yang menyebabkan peserta didik sempat berhenti sekolah.

Di antaranya kasus bullying dan kekerasan di lingkungan sekolah, disabilitas lamban belajar, serta tekanan ekonomi yang membuat mereka harus bekerja lebih awal.

Meski begitu, keberadaan PKBM Berdikari menjadi alternatif utama bagi masyarakat Kota Solo yang ingin memperoleh ijazah kesetaraan.

Melalui program paket A, B, dan C, serta pelatihan kemampuan  seperti memasak dan menyablon. Lembaga ini berharap dapat membantu mewujudkan misi pemerintah kota untuk menuju Solo Zero ATS.

“Harapan kami, masyarakat makin terbuka dengan pendidikan kesetaraan. Sekolah nonformal bukan pilihan terakhir, melainkan kesempatan kedua untuk meraih masa depan yang lebih baik,” pungkas Alfi. (alf/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#pendidikan #PKBM #Berdikari