RADARSOLO.COM - Lahir pada 2017, SMA Al-Azhar Syifa Budi Solo langsung memberanikan diri untuk bertransformasi ke arah digital. Atas konsistensinya, mereka diganjar penghargaan Top Sekolah Inovatif Transformasi Digital dalam Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025 yang digelar di Sunan Hotel (28/10).
Bagi Kepala SMA Al-Azhar Syifa Budi Solo Masykur Fitriawan, penghargaan ini bukan sekadar simbol. Melainkan sebuah apresiasi pembakar semangat untuk terus berinovasi demi melancarkan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan oleh Jawa Pos Radar Solo untuk SMA Al-Azhar Syifa Budi Solo yang mendapatkan kategori Top Sekolah Inovatif Transformasi Digital. Ini sebagai penyemangat bagi kami," beber Masykur saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kawasan sekolah.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menggandeng Google for Education untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi. Dalam hal ini, Google menyediakan fasilitas, bantuan, hingga pelatihan bagi para guru hingga siswa.
"Namun yang kami yakini adalah transformasi digital atau digital dalam pembelajaran ini adalah sebuah tool atau alat saja. Tetap utamanya adalah gurunya, jadi tidak bisa terlepas dari gurunya. Maka ketika pertama kemarin kita mau mulai transformasi digital untuk pembelajaran ini, kita standarkan guru-gurunya dulu," jelasnya.
Guru-guru SMA Al-Azhar Syifa Budi Solo pun cepat diajak berlari. Hasilnya lebih dari 70 persen guru mereka berstatus Google Educator Certified. Artinya, mereka mendapatkan pengakuan mampu mengintegrasikan teknologi Google dalam pembelajaran.
Setelah itu, lanjut ke siswanya. Masing-masing siswa dibekali Chromebook, hasil pengadaan mandiri sekolah jauh sebelum pemerintah meluncurkan program serupa. Semua kegiatan belajar mengajar, ujian, dan lain sebagainya bisa diakses menggunakan perangkat ini.
"Chromebook ini juga hemat daya. Dari pagi sampai sore 8 jam nggak pernah di-charge. Pakai terus on gitu ya. Jadi cukup di-charge sekali di rumah," ucapnya.
Menariknya lagi, SMA Al-Azhar Syifa Budi juga menjadi satu dari tujuh sekolah di Indonesia yang meraih predikat Google Reference School pada 2023. “Baru ada tujuh sekolah di seluruh Indonesia. Kita nomor tujuh saat itu. Sekarang mungkin ada yang bertambah. Tapi saat itu, kami nomor tujuh dan khusus yang SMA itu baru kami,” ungkapnya
Administrasi sekolah juga memaksimalkan platform digital. Mereka memiliki sistem bernama AIMS (Al-Azhar Integrated Management System). Sistem ini memudahkan guru, siswa, bahkan orang tua untuk memantau anaknya.
"Sistem ini masih terus berkembang dan dievaluasi. Karena ini kan menyangkut semuanya, mulai dari guru, siswa, prestasi, rapor dan sebagainya. Termasuk tes, kami juga sudah lima tahun lebih tidak pakai paper test," ucapnya.
Meski terus bertransformasi digital, sekolah ini tetap mengutamakan dan berpegang teguh pada nilai keislaman.
"Jadi sekali lagi bahwa ini adalah sebuah alat bantu saja. Jadi memang kita tetap membatasi. Tidak sepenuhnya harus kemudian digital dan sebagainya. Kami tetap ada acara namanya apel pagi, salat Duha, kalau Jumat ada kajian, di kelas ada baca Alquran, dan lain sebagainya," sebutnya.
Selain itu, mereka juga terus menegaskan tagline Islamic, Leadership, dan Entrepreneur. Sebagai sekolah Islam, mereka juga membranding diri sebagai sekolah yang memprogramkan bahwa setiap anak ini adalah pemimpin dari dirinya sendiri.
"Ini materi kita masukkan di pembelajaran. Jadi masuk di pembelajaran khusus tentang kepemimpinan. Lalu kami kuatkan entrepreneurnya, jiwanya yang pantang menyerah," pungkasnya. (nis/nik)