RADARSOLO.COM - Sekolah Tinggi Agama Buddha (STABN) Raden Wijaya Wonogiri menjadi salah satu kampus yang fokus dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Sebagai perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag), STABN terus berupaya menelurkan mahasiswa yang memiliki keunggulan dan berdaya saing global.
Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri Sulaiman menjelaskan, ada 12 STAB di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya dua yang berstatus STAB negeri, dan salah satunya ada di Wonogiri. Status kampus negeri diberikan kepada STABN Raden Wijaya sejak 2011.
Awalnya, STABN Raden Wijaya hadir dengan tujuan mencetak guru dan penyuluh agama Buddha.
“Kami sedang membuat sejarah status negeri. Jadi secara legal, kami akan tuliskan sejarah dari swasta sampai menjadi negeri. Juga pengembangan saat ini, dimana kami menuju institut,” jelas Sulaiman, Senin (20/10).
Usai menyandang status negeri, berdampak pada dukungan pemerintah yang lebih dominan. Pengembangan juga lebih signifikan berkat dukungan pemerintah.
“Misalnya bantuan lahan untuk kampus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri,” bebernya.
Kini, STABN Raden Wijaya Wonogiri memiliki tiga jurusan unggulan. Mulai dari Dharmadhuta (Kepenyuluhan Buddha), Dharmacarya (Pendidikan Keagamaan Buddha), serta Kepanditaan Buddha.
“Kami punya delapan prodi (program studi). Ada empat prodi keagamaan. Kemudian empat lainnya prodi pendidikan guru SD, komunikasi, pariwisata, dan profesi guru. Kami juga memiliki dua prodi dengan akreditasi unggul, yakni Prodi Pendidikan Guru Keagamaan Buddha dan Prodi Kepenyuluhan Buddha,” urai Sulaiman.
Terkait pembelajaran, sejumlah program moderasi beragama diterapkan. STABN Raden Wijaya Wonogiri membuat turunan program dengan menjunjung tinggi ajaran Buddha.
“Nilai-nilai agama sebenarnya adalah hal yang universal. Tercermin dari pendidikan, pengabddian dan penelitian yang kami lakukan. Core value yang kami bawa adalah wisdom and compassion (kebijaksanaan dan welas asih). Itu menaungi tak hanya berbasis agama saja, tapi sifatnya universal dan bisa dipertanggungjawabkan dalam akademis,” papar Sulaiman.
Sulaiman mencontohkan wisdom and compassion berupa kajian mental health. Ada keseimbangan antara mind (pikiran) dan hati.
Dalam moderasi beragama, ada sejumlah pilar. Nilai itu sangat universal. Tak mengherankan para dosen di STABN Raden Wijaya Wonogiri latar belakang agamanya berbeda-beda. “Moderasi beragama untuk hal spesifik kami wujudkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi," bebernya.
Moderasi beragama juga diterapkan dari sisi kegiatan kemahasiswaan. Seperti pada Ramadan tahun lalu, membagikan takjil hingga buka bersama. Juga ada kegiatan dialog yang membahas makna berpuasa dari masing-masing agama. Bahkan urusan menggaet mahasiswa baru, STABN Raden Wijaya Wonogiri tidak membedakan latar belakang agama.
“Selama tidak mengganggu akidah, tentu tidak masalah. Kalau materi perkuliahan umum. Tidak memengaruhi mahasiswa yang mau masuk kampus kami,” jelas Sulaiman.
Di sisi lain, STABN Raden Wijaya Wonogiri kerap mendapatkan peringkat pertama di kalangan PTKB versi Webometrics dan SINTA. Karena sejak dulu selalu mendorong riset yang dilakukan mahasiswa maupun dosen untuk dipublikasikan.
Terkait sarana dan prasarana di kampus, Sulaiman mengaku mendapat pemihakan pemerintah lewat APBN. Tahun lalu, Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI Supriyadi memberikan atensi khusus kepada STABN Raden Wijaya Wonogiri.
“Dari upaya beliau, kami mendapatkan anggaran untuk pembangunan. Dari awalnya Rp 6 miliar, naik menjadi Rp 14 miliar. Tahun lalu kami mendapatkan perhatian khusus untuk membangun gedung dua lantai,” ujar Sulaiman.
Sederet pencapaian ini layak kiranya Jawa Pos Radar Solo memberikan penghargaan Top Kampus Pendidikan Buddha Inklusif kepada STABN Raden Wijaya Wonogiri, dalam Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025 di The Sunan Hotel Solo, Selasa (28/10). (al/fer)
Editor : fery ardi susanto