RADARSOLO.COM - Adaptif, inovatif, sekaligus literatif. Metode pembelajaran ini diterapkan di SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta, yang menyabet penghargaan Top Sekolah Inovatif Literasi dan Digitalisasi dari dalam Anugerah Pendidikan Radar Solo 2025 di The Sunan Hotel Solo, Selasa (28/10).
Kepala SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta Muhdiyatmoko menjelaskan, award ini bentuk pengakuan atau penghargaan atas kinerja seluruh stakeholder dan warga sekolah.
“Kami sangat bersyukur mendapatkan award tersebut,” ucap saat ditemui Jawa Pos Radar Solo Muhdiyatmoko di ruang kerjanya.
Selama ini SMP Muhammadiyah PK Kottabarat berkomitmen untuk terus berinovasi. Andai kata tak bergerak, tak menutup kemungkinan sekolah stagnan dan ditinggalkan masyarakat.
“Inovasi kan ada novelty. Ada kebaruan yang kami ciptakan atau kami adakan. Artinya, SMP Muhammadiyah PK Kottabarat selalu menawarkan hal-hal baru,” lanjut Muhdiyatmoko.
Mewujudkan itu semua, sederet gebrakan hadir. Salah satunya dengan menghadirkan International Class Program (ICP). Menjadikan satu-satunya sekolah di Kota Solo yang direkomendasikan pimpinan Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah untuk menyelenggarakan kelas ICP.
“Kami sudah melakukan student exchange keluar negeri juga. Itu dilaksanakan sejak 2015,” bebernya.
Masih belum cukup, sekolah ini juga menyelenggarakan program stay in atau semacam miniatur kuliah kerja nyata (KKN) untuk siswa jenjang SMP di daerah-daerah terpencil. Dalam program tersebut, siswa diajarkan bersosialisasi dan merasakan hidup bermasyarakat.
“Misalnya, selama tiga hari dua malam anak-anak tidak membawa gadget, uang, dan tidak boleh dijemput orang tuanya. Jadi benar-benar tiga hari itu anak-anak merasakan kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya,” jelasnya.
Di sisi lain, SMP Muhammadiyah PK Kottabarat juga dikenal sebagai sekolah dengan konsep literasi kreatif. Memiliki berbagai wadah untuk meningkatkan minat baca anak. Di antaranya angkringan literasi, Gerakan Literasi Tambah Wawasan (Garasi Tawa), majalah dinding (mading), hingga pojok baca di setiap kelas.
“Perpustakaan kami sudah terakreditasi A, sehingga standarisasinya terpenuhi. Kami juga menerbitkan majalah secara berkala, tiap enam bulan sekali. Anak-anak yang bikin,” urai Muhdiyatmoko.
Selain itu, SMP Muhammadiyah PK Kottabarat juga memiliki program setahun minimal tiga buku. Di sini para siswa diarahkan untuk menulis buku.
“Contohnya saat mau lulus, mereka menceritakan pengalaman belajar selama tiga tahun di sini,” bebernya.
Menariknya lagi, ada program jurnalistik sekolah. Dalam program ini, siswa belajar wawancara narasumber lalu ditulis menjadi sebuah berita.
“Anak-anak juga membuat sebuah podcast. Host-nya ya anak-anak sendiri,” jelas Muhdiyatmoko. (nis/fer)
Editor : fery ardi susanto