RADARSOLO.COM – Terapi gratis di Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (PLDPI) Kota Solo jadi buruan warga. Buktinya, jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) yang mendaftar layanan di PLDPI cukup tinggi. Sayangnya, ini tidak diimbangi dengan jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang tersedia.
Kasubag Tata Usaha (TU) PLDPI Solo Therisia Yuli mengaku, pendaftaran ABK terus melonjak. Periode yang akan datang, sudah ada 100-an ABK yang mendaftar.
“Waiting list kami menumpuk. Tapi dengan tenaga medis yang terbatas, kami khawatir mereka tidak tertangani. Apalagi pengobatan di sini gratis. Banyak yang membutuhkan,” ujarnya, Kamis (13/11).
Dampak krisis nakes ini, membuat durasi layanan terapi berkurang. Kepala UPTD PLDPI Solo Siwi Purno menjelaskan, sebelumnya satu ABK anak dalam sepekan mendapat layanan terapi tiga kali. Namun periode kali ini, hanya mendapatkan sekali terapi dalam sepekan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan dinas kesehatan (dinkes) dan dinas pendidikan (disdik). Harapannya, periode selanjutnya dapat tambahan tenaga medis supaya bisa menangani 264 anak seperti sebelumnya,” beber Siwi.
Kepala Disdik Kota Solo Dwi Aryatno ikut prihatin akan krisis nakes yang dialami PLDPI. Meski PLDPI berada di bawah naungan disdik, Dwi mengaku kebutuhan nakes jadi kewenangan dinkes. Tak heran disdik selalu mendorong agar dinkes bisa memenuhi kebutuhan PLDPI.
“Layanan terapi menurun karena kendala SDM tenaga medis. Saya minta support agar terapis medis bisa dijalankan seperti tahun tahun sebelumnya. Tapi sampai hari ini hasilnya belum kelihatan,” kata Dwi.
Sementara itu, Psikolog Klinis PLDPI Solo Shinta Sari menyebut ada layanan terapi mandiri bagi ABK di rumah. Layanan ini berkolaborasi dengan orang tua.
"Kalau hanya (terapi) seminggu sekali kan kurang. Jadi kami inisiasi dengan home program itu. Peran orang tua di sini sangat penting,” ujar Shinta.
Salah satu contoh home program, yakni meminta orang tua untuk melakukan pijatan ringan kepada ABK.
“Pijatan ringan yang telah dipraktikkan fisioterapi di sini, bisa diterapkan di rumah oleh orang tua,” imbuhnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto