Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Srawung Gunung: Ketika Seni Tradisi Menemukan Nafas Baru di Lereng Boyolali

Tri wahyu Cahyono • Jumat, 21 November 2025 | 01:45 WIB
Seniman Pasopati Krido Budoyo, di Dusun Jenekan, Desa Sangup,  Tamansari, Boyolali, didampingi dosen dosen FSP ISI Surakarta wujudkan festival seni Srawung Gunung lebih menarik.
Seniman Pasopati Krido Budoyo, di Dusun Jenekan, Desa Sangup, Tamansari, Boyolali, didampingi dosen dosen FSP ISI Surakarta wujudkan festival seni Srawung Gunung lebih menarik.

RADARSOLO.COM- Di sebuah dusun kecil bernama Jenekan di Desa Sangup, Tamansari, Boyolali, denyut seni tradisi tetap berdetak meski arus modernitas terus mengalir deras.

Dalam suasana pedesaan yang teduh, kelompok seni Perkumpulan Pasopati Krido Budoyo dengan tekun merawat warisan budaya leluhur.

Tahun anggaran 2025 menjadi babak baru ketika mereka mendapatkan dukungan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat.

Sebuah inisiatif dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program ini diimplementasikan oleh tiga dosen ISI Surakarta: Sriyadi, S.Sn., M.Sn., Kiswanto, S.Sn., M.A., dan Syahrial, S.S.T., M.Si., yang membawa semangat penguatan ekosistem seni tradisi di tingkat akar rumput.

Melalui Skema Program Inovasi Seni Nusantara, kegiatan ini menitikberatkan pada pengembangan garap tari sebagai wahana kreativitas dan revitalisasi tradisi.

Para seniman Pasopati Krido Budoyo dibimbing untuk menelusuri kembali akar tari tradisional mereka, kemudian mengolahnya menjadi bentuk baru yang lebih segar dan dinamis.

Proses pendampingan ini mencakup eksplorasi gerak, pengembangan pola lantai, perancangan komposisi pertunjukan, serta penataan musik dan kostum.

Semua unsur itu dipadukan menjadi karya tari inovatif yang tetap berakar kuat pada tradisi lokal.

Program ini diawali dengan sosialisasi dan diskusi terhadap mitra untuk perencanaan dan keberlangsungan program yang dikerjakan.

Perancangan dan pembentukan karya inovatif tersebut dilakukan dengan bentuk pelatihan yang intensif, terstruktur, dan terarah.

Baca Juga: Kuatkan Pentahelix, FSP ISI Surakarta dan Disparbud Belu Jalin Kerja Sama untuk Festival Fulan Fehan 2025

Selain pelatihan tari, tim pelaksana program yang digawangi oleh dosen-dosen Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta ini juga memberikan pelatihan manajemen seni pertunjukan terhadap mitra.

Hal ini dirasa penting karena dalam sebuah pertunjukan tentu membutuhkan sistem manajerial dan penataan yang baik untuk menghadirkan sebuah pertunjukan yang bisa berjalan dengan lancer.

Pasalnya, salah satu luaran dari program PISN ini adalah sebuah festival kesenian dimana para pelaku dan pelaksananya adalah masyarakat setempat.

Ini menjadi langkah yang efektif untuk mendorong sebuah kemandirian bagi paguyuban atau mitra.

Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan akan hadir dalam sebuah festival seni berbasis masyarakat bertajuk “Srawung Gunung”, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (30/11/2025).

Festival ini akan menjadi perayaan budaya yang mempertemukan berbagai kelompok kesenian dari wilayah sekitar.

Sekaligus menjadi ruang presentasi karya baru, ajang promosi potensi lokal, dan sarana memperluas jangkauan apresiasi publik.

“Srawung Gunung” diharapkan menjadi embrio festival reguler yang mampu menyatukan masyarakat melalui seni dan memperkuat identitas budaya Boyolali.

Pada aspek lain, program ini juga memberikan dukungan penting dalam bentuk pengadaan dan peremajaan kostum tari.

Kostum baru dirancang untuk mendukung karya koreografi inovatif, sementara kostum-kostum lama—khususnya untuk tarian khas seperti Topeng Ireng—diperbarui agar tampil lebih prima dan representatif.

Perancangan dilakukan secara cermat sebelum diwujudkan oleh pengrajin kostum tari, memastikan bahwa kostum tidak hanya indah secara visual tetapi juga memperkuat karakter pertunjukan.

Keseluruhan rangkaian kegiatan ini sesungguhnya berbicara lebih dari sekadar penciptaan tarian baru.

Ini adalah upaya kolektif untuk menjaga agar seni tradisi tetap hidup, relevan, dan berdaya.

Baca Juga: Bantu Pembelajaran Seni Pertunjukan Anak Difabel: PDIS FSP ISI Surakarta Hibahkan Alat Inovasi Budmergo untuk SLB di Karanganyar  

Kolaborasi antara akademisi, seniman desa, dan masyarakat menunjukkan bahwa warisan budaya memiliki masa depan yang cerah ketika diberi ruang untuk berkembang.

Manfaat yang diharapkan tidak hanya dirasakan bagi kelompok mitra selaku rekanan yang turut serta dalam pelaksanaan program, namun juga masyarakat secara luas.

Meskipun melalui skema pendayagunaan sektror budaya, akan tetapi diharapakan juga dapat berdampak pada sektor-sektor yang lain seperti sosial hingga ekonomi.

Dari lereng Merapi, gema seni tradisi kembali menggeliat melalui tangan-tangan kreatif anggota kelompok Pasopati Krido Budoyo.

Festival Srawung Gunung pada 30 November 2025 kelak akan menjadi tonggak, menandai lahirnya semangat baru: bahwa tradisi tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk terus dihidupkan dan dirayakan bersama.

“Srawung Gunung” bukanlah akhir, tetapi sebuah awal dari perjalanan panjang penguatan ekosistem seni tradisi yang tumbuh dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat.

Dengan dukungan yang tepat, seni tradisi akan selalu menemukan caranya untuk tetap bersinar. (*)

Penulis: Sriyadi, S.Sn., M.Sn.

Editor : Tri wahyu Cahyono
#festival budaya #Boyolali #pendampingan #SRAWUNG GUNUNG #fakultas seni pertunjukan #tamansari #dosen #FSP ISI Surakarta #Desa Sangup