Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Menghidupkan Tradisi, Menjaga Identitas: Langkah Tim Dosen ISI Surakarta dalam Revitalisasi Tari Jaran Dowo

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 22 November 2025 | 03:41 WIB
Tim dosen ISI Surakarta dan Sanggar Banyu Kendi Mayang Seco di Desa Pesanggrahan, Kota Batu melaksanakan program Inovasi Seni Nusantara.
Tim dosen ISI Surakarta dan Sanggar Banyu Kendi Mayang Seco di Desa Pesanggrahan, Kota Batu melaksanakan program Inovasi Seni Nusantara.

RADARSOLO.COM-Program Inovasi Seni Nusantara yang didanai oleh Kemendiktisaintek kembali melahirkan terobosan penting dalam upaya pelestarian budaya.

Melalui kegiatan bertajuk “Revitalisasi Identitas Budaya Nusantara melalui Inovasi Seni Tradisional untuk Globalisasi”, tim dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bekerja sama dengan Sanggar Banyu Kendi Mayang Seco (BKMS) di Desa Pesanggrahan, Kota Batu.

Program ini diketuai oleh Indriati Suci Pravitasari, M.Sn., dengan anggota tim Hening Laksani, M.Pd., Aditya Eko Adrianto, S.S., M.Hum., dan Sriyadi, S.Sn., M.Sn.

Kolaborasi ini bertujuan memperkuat eksistensi seni tradisional melalui pelatihan, produksi media pembelajaran, dokumentasi pertunjukan, serta pemanfaatan platform digital.

Ketua Sanggar BKMS Andi Tri Sudrajat menyambut baik program tersebut.

“Kami memiliki semangat menjaga tradisi, tetapi keterbatasan fasilitas sering menjadi hambatan. Dengan adanya program ini, sanggar dapat berkembang lebih profesional. Dampaknya terasa langsung bagi pelestarian Tari Jaran Dowo,” ujarnya.

Serangkaian pelatihan diberikan kepada peserta. Mulai dari pelatihan tari inovatif, pelatihan produksi media pembelajaran visual, hingga pelatihan dokumentasi pertunjukan.

Program ini juga menghadirkan luaran konkret, berupa buku ajar bergambar, lima video tutorial tari, pembuatan akun resmi sanggar di Instagram, YouTube, dan TikTok, serta penyediaan satu set kostum Tari Jaran Dowo bagi 35 penari.

Salah satu luaran penting ialah pembuatan video dokumenter pertunjukan penuh Tari Jaran Dowo berdurasi 10–15 menit.

Dokumenter ini direkam dengan pendekatan sinematik sederhana untuk kepentingan arsip, edukasi, sekaligus publikasi budaya.

Ketua tim Indriati Suci Pravitasari menegaskan pentingnya dokumentasi bagi keberlanjutan seni tradisi.

Baca Juga: PISN Kemendiktisaintek 2025 dari ISI Surakarta Kenalkan Kolaborasi Wayang dan Animasi

“Tari Jaran Dowo tidak boleh hanya hidup di panggung. Dokumentasi adalah cara agar generasi selanjutnya tetap dapat mempelajarinya. Bukan sekadar membuat video, tetapi menjaga pengetahuan dan nilai budayanya,” tuturnya.

Sementara itu Aditya Eko Adrianto menyoroti pentingnya penguatan narasi budaya.

“Setiap tarian memiliki jejak sejarah dan filosofi. Melalui media pembelajaran dan platform digital, kami ingin masyarakat memahami bahwa seni tradisi adalah pengetahuan, bukan sekadar tontonan,” ujarnya.

Serangkaian pelatihan diberikan kepada peserta. Mulai dari pelatihan tari inovatif, pelatihan produksi media pembelajaran visual, hingga pelatihan dokumentasi pertunjukan.
Serangkaian pelatihan diberikan kepada peserta. Mulai dari pelatihan tari inovatif, pelatihan produksi media pembelajaran visual, hingga pelatihan dokumentasi pertunjukan.

Anggota tim lainnya, Sriyadi, menekankan peran visual dalam membuka akses generasi muda terhadap seni tradisi.

“Jika dikemas dengan tepat, seni tradisi dapat bersaing di ruang digital. Inovasi visual adalah jembatan agar tradisi tetap relevan di masa kini,” jelasnya.

Proses produksi juga melibatkan tiga mahasiswa ISI Surakarta, yakni Firmansyah Aji Pamungkas dari Prodi Film dan Televisi, serta Frian Abadi dan Muhamad Fajar Faturohman dari Prodi Desain Komunikasi Visual.

Mereka terlibat dalam pengambilan gambar dokumenter, pembuatan desain media ajar, hingga pengelolaan konten digital sanggar.

Anggota tim, Hening Laksani, berharap program ini dapat menjadi model bagi sanggar-sanggar lain di Indonesia.

“Seni tradisi perlu ekosistem yang kuat. Sistem pelatihan dan dokumentasi seperti ini dapat direplikasi untuk memperkuat keberlanjutan,” katanya.

Dengan dukungan Kemendiktisaintek, program revitalisasi ini menjadi langkah signifikan untuk menghidupkan kembali tradisi sekaligus menjaga identitas budaya Nusantara di tengah arus globalisasi yang terus bergerak cepat. (*)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#pendampingan #desa pesanggrahan #kota batu #tim dosen isi surakarta #tarian jaran dowo #Sanggar Banyu Kendi Mayang Seco #tradisi #revitalisasi