Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Buku Karya Joko Purwanto Soroti Kekhawatiran Hilangnya Estetika Karawitan Gaya Surakarta

Alfida Nurcholisah • Sabtu, 29 November 2025 | 02:04 WIB
Acara bedah buku Pernik-Pernik dalam Karawitan Jawa digelar di Teater Besar ISI Surakarta, Jumat (28/11/2025).
Acara bedah buku Pernik-Pernik dalam Karawitan Jawa digelar di Teater Besar ISI Surakarta, Jumat (28/11/2025).

RADARSOLO.COM - Bedah buku Pernik-Pernik dalam Karawitan Jawa Gaya Surakarta karya Joko Purwanto digelar di Teater Besar ISI Surakarta, Jumat (28/11). Bedah buku ini diikuti oleh puluhan mahasiswa Prodi Karawitan ISI Surakarta. Acara ini menjadi ruang penting bagi penguatan kembali pemahaman teori karawitan yang dinilai mulai melemah di kalangan generasi muda.

Buku yang ditulis melalui proses panjang ini lahir dari kegelisahan penulis dan Empu Karawitan ISI Surakarta KRT Radyo Hadinagoro terhadap praktik karawitan yang dinilai semakin jauh dari pakem dan estetika garap karawitan Jawa.

Joko mengungkapkan, ide penulisan buku berawal dari diskusi intens dengan KRT Radyo Hadinagoro atau yang kerap disapa Kanjeng Wito. Dia melihat banyak ketidaktepatan dalam praktik tabuhan gamelan saat ini. Menurutnya, banyak istilah teknis dan konsep dasar yang mulai kabur, padahal merupakan fondasi yang harus dipahami seorang pengrawit.

“Awalnya berasal dari keresahan saya dan Kanjeng Wito yang melihat praktik karawitan saat ini banyak yang tidak pas. Saya minta dijelaskan istilah-istilah, seperti tabuhan kenong oleh beliau, lalu saya perluas lagi dengan referensi buku-buku yang saya punya,” ujar Joko saat sesi bedah buku.

Dia menekankan proses penyusunan buku dilakukan melalui wawancara mendalam, diskusi berkala, dan riset pustaka ke sejumlah buku karawitan klasik. Setelah konsep awal tersusun, naskah diserahkan kembali kepada Kanjeng Wito untuk dicek dan diverifikasi. Proses pengecekan tersebut berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu.

“Sempat bosan dalam proses transkrip, tapi ya tetap saya lakukan sampai selesai. Ada suatu kekhawatiran kegagalan transmisi dari para empu terdahulu, sehingga teori karawitan ini dikhawatirkan tidak bisa mencapai estetika di periode sebelumnya makanya buku ini hadir,” tegasnya.

BUDAYA: Perform dari puluhan mahasiswa Prodi Karawitan ISI Surakarta di Teater Besar ISI Surakarta, Jumat (28/11).
BUDAYA: Perform dari puluhan mahasiswa Prodi Karawitan ISI Surakarta di Teater Besar ISI Surakarta, Jumat (28/11).

Sementara itu, KRT Radyo Hadinagoro menegaskan, karawitan merupakan kesatuan instrumen yang saling terikat satu sama lain. Jadi bukan permainan yang bisa berdiri sendiri.

Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap struktur gending merupakan kunci utama dalam menghasilkan dinamika estetika gamelan.

“Karawitan ini sebenarnya adalah kesatuan, tidak bisa sendiri-sendiri antar instrumen. Seperti pada bermasyarakat konsepnya harus bersama. Gong juga bukan hal sepele, harus tahu irama, seleh di mana, dan bentuk-bentuk ladrang,” katanya.

Dia menambahkan, dalam gending terdapat anatomi yang mengatur kapan penabuh harus bermain lembut, keras, atau berhati-hati. Dari situlah garap karawitan membangun rasa dan membentuk dinamika.

Dia mengaku prihatin melihat masih banyak mahasiswa yang hanya fokus pada kemampuan memainkan instrumen tanpa memahami struktur, irama, dan filosofi di baliknya. Karena itu, hadirnya buku ini menjadi sarana dokumentasi dan pendidikan yang sangat dibutuhkan agar warisan karawitan tidak hilang.

Ketua panitia Lutfi menilai kegiatan bedah buku ini memberi manfaat besar bagi mahasiswa Prodi Karawitan. Menurutnya, buku tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa kemampuan menabuh saja tidak cukup tanpa memahami teori dan istilah teknis dalam karawitan.

“Kegiatan ini sangat bagus untuk mahasiswa, terutama prodi karawitan. Jadi kami tidak hanya bisa bermain saja, tapi juga paham betul bagaimana seharusnya alat itu ditabuh. Atau istilah-istilah seperti adu manis dan istilah lainnya dalam dunia karawitan dapat kami pahami maksudnya,” ujarnya saat ditemui di sela acara.

Joko menambahkan buku ini diharapkan menjadi momentum penguatan transmisi keilmuan karawitan Jawa gaya Surakarta, sekaligus upaya menjaga kontinuitas estetika gamelan agar tidak terputus di generasi berikutnya. (alf/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
#isi surakarta #bedah buku #Karawitan