RADARSOLO.COM — Kemajuan teknologi pertanian di Kota Solo semakin terasa. Terbaru, siswa SMPN 4 Surakarta menciptakan Flonera, aplikasi artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi dini penyakit tanaman menggunakan kamera dan drone.
Solusi cerdas ini digagas untuk membantu petani mengidentifikasi kerusakan tanaman secara cepat dan akurat, sekaligus memberi rekomendasi penanganan.
Flonera dikembangkan oleh enam siswa ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR): Catrabhumi Prayata Adji, Evander Janitra Setyawan, Clarinta Kimmy Amirez, Adela Retra Dwi Kirana, Ashyfa Safira Adinda, dan Angkasa Aska Sagraha.
Pengembangan dilakukan melalui pendekatan research & development (R&D) dengan metode Agile, serta telah diuji bersama Dispangtan Kota Surakarta.
Baca Juga: Terungkap! Ini Pemicu Kebakaran Besar di Laweyan Solo yang Hanguskan Dua Bangunan
Ketua kelompok, Catrabhumi, menjelaskan aplikasi ini dirancang untuk memudahkan petani dalam pengawasan tanaman, termasuk tanaman berpostur tinggi yang sulit dijangkau.
“Kita sediakan drone untuk membantu pemantauan jarak jauh. Selain itu, Flonera juga bisa mendeteksi tanaman melalui kamera dari jarak dekat,” jelasnya, Jumat (28/11).
Baca Juga: Tumbuhkan Kepedulian Kemanusiaan, Sekolah Al-Firdaus Galang Dana untuk Palestina
Cara kerja Flonera sederhana: petani cukup memotret tanaman melalui kamera atau drone. Aplikasi akan menampilkan jenis tanaman, diagnosis penyakit, metode perawatan yang disarankan, hingga rekomendasi pupuk/pestisida yang dapat dibeli langsung melalui marketplace.
“Petani cukup memotret tanaman, lalu informasinya muncul secara otomatis. Produk perawatan juga bisa langsung dibeli karena terhubung ke Shopee,” imbuh Catrabhumi.
Selain deteksi, Flonera menyediakan fitur “Care” yang mencatat langkah-langkah perawatan seperti penyiraman, pemupukan, pemangkasan dahan kering, hingga pengaturan kelembaban.
Setelah tindakan dilakukan, petani tinggal memberi ceklis dan memotret kembali tanaman untuk melihat rating kesehatan dalam skala persen.
Aplikasi ini dibangun sejak Februari melalui proses prototyping hingga pemrograman berbasis AI.
“Awalnya coding-nya banyak error. Kami memperbaiki terus sampai sistem berjalan dengan baik,” ungkap pengembang, Adela Retra.
Flonera telah diuji pada tanaman padi dan cabai. Hasil teknis menunjukkan akurasi identifikasi mencapai 92 persen pada padi dan 89 persen pada cabai, dengan tingkat akurasi diagnosis penyakit 84–88 persen. Uji Technology Acceptance Model (TAM) juga menghasilkan respons positif dengan skor 3,9 untuk ATU dan 3,6 untuk PU.
Baca Juga: Gandeng KOSTI dan Kantongi Restu Pemkot, Blue Bird Resmi Mengaspal di Solo
Pembina KIR SMPN 4 Surakarta, Anis Wijayanti, menyebut Flonera meningkatkan efisiensi penanganan penyakit tanaman hingga 40 persen, serta mempercepat proses pendeteksian 60 persen.
“Dampak ini sangat membantu petani dalam pengambilan keputusan dan pengendalian penyakit secara tepat waktu,” katanya.
Baca Juga: Jumlah Penonton Film Agak Laen 2 Tembus 605 Ribu di Hari Kedua, Bisa Cetak 1 Juta di Hari Ketiga?
Ia menambahkan Flonera diharapkan menjadi solusi unggulan pertanian cerdas (smart farming) sekaligus mempercepat transformasi Pertanian 4.0 di Indonesia.
“Inovasi ini juga membuktikan bahwa dunia pendidikan mampu melahirkan teknologi terapan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.
Baca Juga: Sakit Apa Ibu Raisa? Ini Penjelasan Keluarga Soal Penyakit yang Diidap Ria Mariaty
Flonera akan dilombakan pada ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (i2ASPO) pada Desember mendatang.
Anis berharap karya ini mampu membawa nama baik sekolah ke kancah nasional bahkan internasional. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy