Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Inovasi Teknologi Hibrida HTF-PEF: Kunci Peningkatan Mutu Madu Lokal dan Penguatan Ekosistem UKM

Niko auglandy • Senin, 15 Desember 2025 | 15:46 WIB
Tim Riset UNS menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri. PT. Tresno Jamu Indonesia.
Tim Riset UNS menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri. PT. Tresno Jamu Indonesia.

RADARSOLO.COM - Madu Indonesia dikenal memiliki keragaman cita rasa dan manfaat kesehatan yang luar biasa. Namun, potensi besar ini sering terhambat oleh masalah pascapanen yang fundamental. Madu dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM) seringkali memiliki kadar air yang tinggi dan rentan terhadap kontaminasi kapang serta khamir, yang memicu fermentasi.

Solusi konvensional berupa pemanasan pada suhu tinggi (>72ᵒC) justru menjadi bumerang, sebab proses ini merusak enzim vital, seperti enzim Diastase dan meningkatkan Hydroxymethylfurfural (HMF), secara langsung menurunkan kualitas dan nilai gizi madu, sekaligus menghalangi upaya UKM untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menanggapi tantangan ini, muncul sebuah inovasi teknologi yang dikembangkan di lingkungan akademik: Mesin Pasteurisasi Madu berbasis sistem Hibrida Heat Transfer Fluid (HTF) dan Pulsed Electric Field (PEF).

Sistem cerdas ini bekerja dalam dua fase. HTF berfungsi sebagai media penghantar panas bersuhu terkontrol dan merata, ideal untuk mereduksi kadar air tanpa overheating. Sementara itu, PEF menggunakan kejutan listrik bertegangan tinggi (25kV hingga 35kV) untuk menonaktifkan mikroorganisme penyebab fermentasi secara non-termal, memastikan keamanan pangan tanpa mengorbankan nutrisi sensitif.

Pengembangan teknologi pada mesin ini merupakan kolaborasi riset yang mendalam dari Program Studi Sarjana Teknik Industri Universitas Sebelas Maret (UNS), khususnya Laboratorium Perencanaan dan Perancangan Produk (P3). Di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Lobes Herdiman, M.T., Prof. Dr. Ir. Susy Susmartini, MSIE., Dr.Eng. Ir. Ilham Priadythama, S.T., M.T., dan Ir. Taufiq Rochman, S.T.P., M.T. dengan mahasiswa bimbingan, Daniel Bani Bayu Aji (I0318024) yang fokus pada perancangan antarmuka User Interface (UI) untuk memudahkan operator UKM, Muhammad Dani Setiawan (I0318060) meletakkan dasar metodologi dengan menggunakan AHP-TOPSIS untuk memilih PEF sebagai teknologi non-termal terbaik.

Riset ini kemudian dilanjutkan oleh Muhamad Raffly Wira Wicaksono (I0319061) yang menyempurnakan rancangan mesin, khususnya sistem pengaduk dan kendali untuk menjaga stabilitas kandungan madu selama proses.

Peran sentral dalam mengarahkan, menguji, dan memfasilitasi transfer pengetahuan ini diemban oleh para dosen pembimbing dari Lab. P3.

Mereka memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti di jurnal sebagai luaran, tetapi benar-benar memenuhi kriteria fungsionalitas dan kelayakan industri. Dukungan dari dosen pembimbing ini menjadi kunci dalam mengintegrasikan hasil penelitian teknis mahasiswa dengan aspek keberlanjutan ekonomi, seperti yang dianalisis oleh Ihza Yoga Braswara (I0319048), membuktikan kelayakan finansial mesin ini dengan Payback Period hanya 139 hari serta efisiensi energi yang mencapai ~86,8%.

Lebih lanjut, untuk menjamin mutu produk, peneliti Herlinawati (I0319045) fokus pada aspek krusial penentuan Setting Level mesin. Herlinawati secara spesifik melakukan pengujian kualitas pada Madu Randu yang diolah menggunakan teknologi hibrida ini untuk mengidentifikasi konfigurasi parameter optimal yang secara ilmiah terbukti memenuhi dan melampaui standar mutu SNI.

Mesin pasteurisasi ini tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional UKM. Menggunakan sistem kontrol berbasis Programmable Logic Controller (PLC) dan Human Machine Interface (HMI), mesin ini memungkinkan operator untuk memantau dan mengendalikan proses secara otomatis dan interaktif.

Kapasitas 80 liter dan material konstruksi tangguh (berdasarkan analisis faktor keamanan 15ul) memastikan mesin dapat bekerja secara efisien. Desain ini menghilangkan kompleksitas operasional, sehingga memudahkan adopsi teknologi tinggi oleh pelaku usaha skala kecil dan menengah.

Untuk menjembatani kesenjangan antara laboratorium dan pasar, Tim Riset UNS menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri. PT. Tresno Jamu Indonesia. Dengan Visi: Menjadi perusahaan produk herbal terkemuka yang bermanfaat di skala nasional dan global, perusahaan ini berlokasi di Jalan Gajah Mada, Gebangsari, Mujur Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah 53282 (surel: tresnojamuindonesia@gmail.com), menjadi mitra hilirisasi yang vital.

PT. Tresno Jamu Indonesia, dengan pengalaman industri dan komitmen pada produk alami, berfungsi sebagai end-user yang memberikan masukan praktis dan menguji prototipe di lingkungan produksi nyata. Kemitraan ini memastikan bahwa Mesin Pasteurisasi Hibrida ini dirancang untuk menjawab tantangan spesifik yang dihadapi industri pengolahan madu dan jamu.

Keberhasilan nyata teknologi ini terletak pada hasil pengujian mutu yang ketat. Madu yang diolah menggunakan sistem HTF-PEF menunjukkan penurunan drastis pada Kapang dan Khamir, mencapai tingkat <1x10^1 koloni/g, secara efektif memenuhi persyaratan keamanan pangan dalam SNI 8664:2018 merupakan gabungan SNI 3554:2013 Madu dan SNI 7899:2013 Pengelolaan Madu, yang paling krusial, proses ini berhasil menjaga kualitas nutrisi.

Aktivitas enzim Diastase, sebagai indikator kemurnian madu, tetap di atas batas minimal SNI, sementara kadar HMF, indikator kerusakan panas, tetap terkontrol rendah. Bukti ini menegaskan klaim bahwa proses hibrida ini efektif menonaktifkan mikroba tanpa merusak komponen esensial madu.

Mesin pasteurisasi madu hibrida PEF-HTF adalah lebih dari sekadar peralatan; mesin adalah katalisator bagi transformasi industri madu lokal. Berkat sinergi antara peneliti, dosen pembimbing di Lab. P3, dan mitra industri seperti PT. Tresno Jamu Indonesia, teknologi ini menawarkan solusi lengkap: kualitas terjamin, keamanan pangan terstandar, dan kelayakan ekonomi yang tinggi bagi UKM.

Dengan mengatasi kelemahan madu pascapanen, inovasi ini bukan hanya melindungi produk dari kerusakan, tetapi juga membuka pintu bagi madu Indonesia untuk bersaing secara tangguh di pasar domestik dan global. (*) 

Penulis: Prof. Lobes Herdiman

Guru Besar Biomekanika dan Fisiologi Kerja Prodi. Teknik Industri FT-UNS

Ketua RG. People-Centered Innovation

Prof. Lobes Herdiman
Prof. Lobes Herdiman

 

Editor : Niko auglandy
#jamu #inovasi #UKM