RADARSOLO.COM - Bagaimana rasanya jika seorang cucu tidak bisa memahami kata-kata yang disampaikan oleh nenek dan kakeknya?
Ini adalah problematika yang kerap dialami oleh diaspora Indonesia yang berada di luar negeri.
Anak yang lahir dan dibesarkan di sana, cenderung memiliki bahasa ibu dari negara tempat mereka tinggal.
Misalnya saja di Australia, sejak PAUD hingga remaja lingkungan sekolah dan pertemanan didominasi menggunakan Bahasa Inggris.
Hal ini membuat anak-anak tersebut lebih fasih berbahasa Inggris dibanding berbahasa Indonesia.
Jika Bahasa Indonesia saja kurang dipahami, apalagi bahasa daerah asal orang tuanya.
Berangkat dari keresahan inilah, Era Wijaya S., seorang illustrator buku anak, konten kreator, edukator, dan salah satu pendiri komunitas Playdate Solo Raya mencetuskan gagasan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia dan bahasa daerah (bahasa Jawa) kepada anak-anak diaspora Indonesia di Melbourne, Victoria, Australia.
Sebuah aktivitas edukasi diramu untuk membawa anak-anak lebih dekat dengan budaya melalui buku cerita anak dwi bahasa.
Dipilihnya Melbourne, tepatnya di Kota Clayton karena di kota tersebut terdapat rekanan komunitas Indolanan, sebuah komunitas keluarga yang aktif membuat kegiatan bermain dan belajar bersama (playdate) untuk anak usia 2-12 tahun.
Salah satu founder Indolanan, Ayah Andri menyambut baik rencana interaksi budaya tersebut.
Kesamaan visi untuk mencerdaskan dan memberikan kenangan manis bagi anak-anak menyatukan pegiat pendidikan anak dari Kota Solo dan Clayton.
Kegiatan playdate interaksi budaya ini dilaksanakan Sabtu (6/12/2025).
Metode pembelajaran dan pengenalan budaya dikemas dengan menarik dan atraktif menggunakan buku cerita anak.
Aktivitas playdate ini semakin bergizi dengan adanya metode pendidikan anak, yaitu Fleer’s Conceptual Playworld yang dikembangkan oleh salah satu profesor di Monash University.
Penerapan konsep tersebut tentu tidak sembarangan, karena diawasi seorang psikolog sekaligus Phd candidate di Conceptual PlayLab Monash University, Dien Nurdin, M.Psi, Psikolog.
Ada dua buku yang dibacakan nyaring dalam playdate ini. Yang pertama adalah buku Perjalanan Bilou Menuju Timur dan yang kedua adalah buku Pejuwang Jelantah.
Buku Pejuwang Jelantah ini istimewa karena diilustrasikan oleh Era Wijaya S. serta mengambil konsep buku dua Bahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
Buku ini merupakan salah satu yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah dan sudah lolos kurasi dari Pusat Perbukuan sehingga kualitasnya tak perlu diragukan.
Kedua buku tersebut memiliki muatan budaya lokal yang kuat dan diperkaya dengan konsep STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) untuk meningkatkan nalar kritis, imajinasi, menanamkan rasa cinta tanah air dan alam kepada anak.
Semoga kolaborasi apik pegiat pendidikan anak ini dapat terus berlanjut dan konsisten melahirkan kegiatan bermutu untuk anak Indonesia di manapun mereka berada. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono