RADARSOLO.COM - Di tengah persaingan pasar kerajinan yang semakin ketat, khususnya di industri alat musik, para pengrajin gitar di Indonesia kerap menghadapi tantangan klasik: keterbatasan bahan baku berkualitas, ketergantungan pada bahan kimia berbahaya, dan kesulitan menciptakan produk yang konsisten sekaligus unik.
BraveLeen Raline Dawai Nusantara, sebuah UMKM pembuatan gitar di wilayah Solo Raya, merasakan langsung persoalan ini.
Namun, kini mereka menemukan solusi lewat penerapan teknologi Dekoprinto, sebuah inovasi yang mentransformasi proses finishing gitar menjadi lebih modern, ramah lingkungan, dan bernilai seni tinggi.
Mengatasi Hambatan dengan Teknologi Digital
Selama ini, pengrajin sangat bergantung pada kayu lapis bermotif alam (galih) yang langka dan mahal.
Selain itu, proses finishing masih menggunakan bahan berbasis solvent yang berisiko bagi kesehatan dan lingkungan.
Tantangan lainnya adalah kesulitan menghasilkan produk dengan motif dan warna yang konsisten, terutama untuk pesanan dalam jumlah besar atau permintaan desain custom.
Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 , sebuah program pemberdayaan yang melibatkan akademisi, telah memperkenalkan Teknik Dekoprint kepada UMKM.
Tim penelitian ini diketuai oleh Johan Ies Wahyudi, S,Sn.,M.Sn dan beranggotakan Purwastya Pratmajaya Adi Lukistyawan, S,Sn.,M.Sn serta Raden Ersnathan Budi Prasetyo, S,Sn.,M.Sn yang semuanya merupakan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Inovasi Teknik Dekoprint merupakan metode cetak transfer gambar dengan printer UV transparan.
Caranya, motif kayu alam didigitalisasi, dicetak, lalu ditransfer ke pori-pori kayu lapis polos sehingga motif menempel sempurna tanpa menghilangkan tekstur alami kayu.
Yang membuatnya lebih revolusioner adalah proses finishing yang sepenuhnya menggunakan bahan berbasis air (water-based) sehingga lebih ramah lingkungan.
"Awalnya cukup menantang karena kami harus beradaptasi dengan teknologi digital dan bahan baru. Namun, pendampingan yang intensif membuat kami akhirnya mampu menguasainya. Hasilnya jauh lebih konsisten, dan kami bisa membuat berbagai motif yang selama ini sulit kami dapatkan dari alam," ujar perwakilan mitra.
Motif Kayu Nusantara sebagai Identitas
Tidak hanya sekadar transfer gambar, teknologi ini dimanfaatkan untuk mengangkat kearifan lokal. Mengangkat motif kayu khas Nusantara, seperti jati, sonokeling, dan mahoni, telah didigitalkan dan siap diaplikasikan.
Koleksi ini menjadi ciri khas dan nilai jual baru produk gitar "BraveLeen", menciptakan Nusantara Series yang kaya akan cerita dan identitas Indonesia.
Dampak: Dari Konsistensi Produksi hingga Pasar Global
Implementasi Dekoprinto membawa dampak signifikan, antara lain:
-
Kemandirian bahan baku
Ketergantungan pada kayu bermotif alam teratasi. Dengan kayu lapis polos yang lebih mudah didapat, motif apa pun bisa diciptakan.
-
Konsistensi dan Kostumisasi
Hasil finishing menjadi seragam untuk produksi massal. Mitra kini juga mampu menerima pesanan custom dengan desain spesifik pelanggan.
-
Ramah lingkungan
Pergantian ke bahan water base mengurangi polusi dan risiko kesehatan, sekaligus membuka peluang memenuhi standar pasar global yang semakin peduli lingkungan.
-
Peningkatan nilai estetika dan ekonomi
Gitar yang dihasilkan memiliki nilai seni dan keunikan tinggi, sehingga berpotensi menembus pasar yang lebih luas dengan harga lebih kompetitif.
Keberlanjutan dan Harapan ke Depan
Program ini tidak berhenti pada pelatihan. Untuk memastikan keberlanjutan, telah disusun Prosedur Operasional Standar (SOP) yang menjadi panduan mandiri mitra.
Ke depan, rencana pengembangan fokus pada komersialisasi produk, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk motif-motif unik, serta replikasi teknologi ini kepada UMKM kerajinan kayu lainnya.
Kolaborasi antara pelaku UMKM dan dunia akademik ini membuktikan bahwa inovasi teknologi sederhana yang tepat guna dapat menjadi jawaban atas tantangan produktivitas dan daya saing.
Dekoprinto tidak hanya menyelesaikan masalah teknis, tetapi juga melestarikan keindahan motif alam Nusantara dalam bentuk yang modern, sekaligus mengantar produk lokal menuju pangsa pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.(*)
Editor : Nur Pramudito